Desa Selumbung

Website Contact the business

Desa Selumbung Desa Selumbung "Dirga Yusa Lan Jagadhita" Diantara keluarga tersebut terdapat 28,57 % Keluarga / Rumah Tangga Miskin ( RTM ). Sumber : Profile Desa

Desa Selumbung merupakan salah satu dari 12 Desa yang ada di wilayah Kecamatan Manggis, yang terletak pada ketinggian 500 meter dari permukaan laut dengan luas wilayah keseluruhan 665,225 hektar atau 6,65 Km2, yang terdiri dari : 39,0 hektar lahan perumahan dan pemukiman; 116,175 hektar berupa tanah sawah; 474,430 hektar berupa tegalan / kebun; serta 35,62 lahan lainnya, yang terbagi menjadi 6 ( enam ) wilayah Banjar Dinas Yaitu : Banjar Dinas Bukitcatu, Banjar Dinas Kaleran, Banjar Dinas Kelodan, Banjar Dinas Tengah, Banjar Dinas Kanginan dan Banjar Dinas Anyar dengan batas โ€“ batas wilayah :



โ€“ Sebelah Utara : Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem.

โ€“ Sebelah Timur : Desa Ngis, Kecamatan Manggis.

โ€“ Sebelah Selatan : Desa Manggis, Kecamatan Manggis.

โ€“ Sebelah Barat : Desa Manggis, Kecamatan Manggis. Desa Selumbung berpenduduk 3.415 jiwa yang terdiri dari 1.722 penduduk laki-laki dan 1.693 penduduk perempuan, dan terdiri dari 840 Kepala Keluarga. Sebagian keluarga ( 50% ) di Desa Selumbung merupakan keluarga pertanian, dengan sumber penghasilan utama penduduknya adalah kelapa / hasil perkebunan. Bangunan rumah di Desa Selumbung berjumlah 840 bangunan, yang terdiri dari 600 bangunan rumah permanen dan 240 bangunan rumah bukan permanen. Secara umum fasilitas perumahan dan pemukiman masyarakat Desa Selumbung cukup layak huni. Hal ini dapat dilihat dari keluarga yang berpenerangan listrik hanya sebesar 71,42 %, tidak adanya saluran khusus untuk pembuangan limbah cair / air kotor, sebagian besar keluarga mempunyai tempat buang air besar / jamban, dan sebagian besar keluarga / rumah tangga menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar untuk memasak. Sarana dan prasarana pendidikan di Desa Selumbung cukup memadai. Dengan adanya Lembaga Pendidikan seperti 1 Play group ( PAUD ), 1 Taman Kanak-Kanak yang dikelola oleh Yayasan, dan 3 SD Negeri. Sedangkan Sekolah- sekolah Lanjutan seperti SMP, SMU / SMK belum ada namun jaraknya cukup dekat, Maka upaya pemerintah dalam memajukan pendidikan dengan mencanangkan program wajib belajar 9 tahun dapat terentaskan. Sarana Kesehatan yang tersedia di Desa Selumbung hanyalah satu Puskesmas pembantu, satu tempat praktek bidan dan 6 Posyandu, dengan 1 ( satu ) orang Paramedis, 1 ( satu ) orang Bidan Desa, sedangkan kunjungan Dokter dari Puskesmas Manggis II setiap hari Rabu, sementara jika ada warga yang membutuhkan sarana kesehatan yang lain harus pergi ke desa lain, atau ke ibukota Kecamatan, atau bahkan ke Ibukota Kabupaten. Sarana Perhubungan / Angkutan, Komunikasi dan Informasi di Desa Selumbung cukup memadai. Dengan tersedianya jalan yang diaspal dengan konsisi Baik, jalan Desa sebagain sudah dikeraskan, sisanya masih jalan tanah tetapi cukup membantu dalam kelancaran arus perhubungan dan ekonomi masyarakat, Telepon seluler, warung internet, dan angkutan umum yang cukup lancar pula. Komoditi pertanian yang berpotensi di Desa Selumbung adalah tanaman pangan ( padi, jagung, dan ketela pohon), jenis sayuran, serta tanaman buah-buahan ( yakni: mangga, nangka, pisang, dan durian ). Sedangkan kelapa adalah tanaman perkebunan yang sangat potensial di desa ini. Sementara itu hewan ternak yang berpotensi adalah sapi, kambing, babi, dan ayam buras. Sarana perekonomian di Desa Selumbung cukup, dengan adanya Lembaga Perkreditan desa ( LPD ) sebagai sarana warga untuk simpan pinjam, disamping kelompok โ€“ kelompok masyarakat lainnya yang juga bertujuan meningkatkan kesejahtraan masyarakat. Di Desa Selumbung 35 buah toko / warung sebagai sarana warga membeli kebutuhan sehari-hari. Sedangkan, jika warga membutuhkan sarana yang lain harus pergi keluar desa. Desa Selumbung masih tergantung pada bantuan pemerintah dalam menjalankan pemerintahan dan membangun desa. Hal ini terlihat dari keuangan desa dimana bantuan pemerintah lebih besar daripada sumber pendapatan asli desa itu sendiri. Sarana jasa di Desa Selumbung cukup memadai. Dengan adanya penjual jasa seperti angkutan, catering, foto copy, buruh bangunan, montir tv, tukang ukir, dan penjual sanggah kayu. Struktur Kelembagaan di Desa Selumbung, disamping kelembagaan administrative Pemerintahan Desa dan kelembagaan dari Desa Adat / Pekraman, juga kelembagaan yang muncul atau didorong keberadaannya dari motif ekonomi, budaya, kesehatan, pendidikan dan social politik. Kelembagaan dari pemerintah Desa antara lain, Pemerintah Desa, BPD, LPM, PKK Desa, PKK Banjar Dinas, LPD, Kelompok Usaha Kecil, Kelompok Tani, Subak, Komite sekolah, WHDI, Linmas, Undagi, Sekaa Gong, Pesantian, dan Karang Taruna, dari kelembagaan Politik yaitu : Partai Golkar, PDIP, dan Demokrat. Kepribadian kebangsaan masyarakat dibidang kerukunan masih tetap terjaga sehingga keamanan dan ketertiban masyarakat kondusif, serta kegotong royongan dan adat istiadat masyarakat dalam setiap kegiatan tetap berjalan dan merupakan modal utama / swadaya masyarakat dalam setiap melaksanakan rencana Pembangunan yang dirumuskan atas musyawarah mufakat dan dapat dipertanggungjawabkan.

MAKNA "OSA" DAN MENGAPA IA ADALAH KEBALIKAN DARI OM SWASTYASTUI. SUMBER DAN METODOLOGI PENELUSURANPenelitian ini didasar...
21/01/2026

MAKNA "OSA" DAN MENGAPA IA ADALAH KEBALIKAN DARI OM SWASTYASTU
I. SUMBER DAN METODOLOGI PENELUSURAN
Penelitian ini didasarkan pada:

Analisis Filologis: Membongkar makna kata per kata dalam "Om Swastyastu" dan kemungkinan makna tersirat dari susunan huruf "O-S-A".

Prinsip Tat Twam Asi dalam Etika Berbahasa: Bagaimana penggunaan bahasa mencerminkan kesadaran spiritual.

Wawancara Virtual dengan Pakar (melalui analisis literatur digital): Mengumpulkan pendapat dari artikel, forum diskusi, dan blog yang ditulis oleh sulinggih, akademisi sastra Bali, dan praktisi Hindu yang menyoroti kesalahan fatal ini.

Prinsip "Sakala-Niskala": Memandang sebuah ucapan tidak hanya dari bunyi (sakala), tetapi juga dari energi, niat, dan vibrasi spiritualnya (niskala).

II. ANALISIS MAKNA "OM SWASTYASTU" (Sebagai Standar Kebenaran)
Kata Makna dalam Sanskerta Makna Filosofis & Spiritual
Oแน (Aum) Bunyi primordial alam semesta; simbol Brahman (Tuhan). Penyatuan: Tri Murti (Brahma-Wisnu-Siwa), tiga keadaan kesadaran (jaga-tidur-lelap), dan tubuh-kata-pikiran yang suci.
Swasti Su (baik) + asti (adanya) = "kesejahteraan", "keberadaan yang baik". Doa untuk kebaikan universal: Kesejahteraan lahir-batin (jagat dhita) dan keselamatan dari segala marabahaya.
Astu "Semoga terjadi", "jadilah". Penegasan dan pengabulan: Bukan hanya harapan, tetapi pernyataan keyakinan bahwa kebaikan itu akan terwujud.
Kesimp**an Makna: "Om Swastyastu" adalah mantra salam yang mengandung vibrasi suci, doa penuh kesadaran, dan niat baik universal yang ditujukan kepada sang diri dan lawan bicara.

III. ANALISIS MAKNA "O-S-A" (Sebagai Simbol Penyimpangan)
Ketika dipaksakan sebagai singkatan, OSA kehilangan semua makna di atas dan justru membentuk struktur makna baru yang paradoks:

O (yang terpotong):

Dari A-U-M (kesempurnaan) menjadi hanya O (vokal tanpa makna utuh).

Analogi: Seperti memotong kepala dari tubuh. Dalam konsep Bali, kepala (Sira) adalah tempat kemuliaan. Memotong "Om" berarti menghilangkan kesucian dari awal ucapan.

Akibat Niskala: Getaran suci mantra "Om" tidak terbangun.

S (yang terisolasi):

Dari Swasti (kesejahteraan) menjadi hanya huruf S.

Dalam aksara Bali, "Sa" (dengan pangangge tertentu) bisa dikaitkan dengan kata "Sapa" (kutukan) atau "Seda" (mati). Meski bukan analisis langsung, secara psikolinguistik, pemenggalan ini menghilangkan energi positif "Swasti".

Akibat Niskala: Doa kesejahteraan berubah menjadi "kata mati" (aksara pati).

A (yang tersesat):

Dari Astu (semoga terjadi) menjadi A yang tidak jelas.

Huruf A dalam aksara Dewanagari/Bali adalah huruf pertama, simbol awal penciptaan. Namun, ketika menjadi akhir dari singkatan yang salah, ia seperti awal yang salah arah.

Akibat Niskala: Penegasan doa (Astu) tidak pernah sampai, karena tidak diucapkan.

Kesimp**an Makna OSA: Sebuah struktur bahasa yang cacat, mantra yang mandul, dan niat yang tidak utuh. Dari sudut pandang filsafat, sesuatu yang tidak utuh dan cacat adalah lawan dari sesuatu yang sempurna dan suci.

IV. BUKTI-BUKTI DARI DISKUSI KOMUNITAS & PAKAR (Sumber-Sumber Digital)
Beberapa sumber kuat yang mengonfirmasi bahwa OSA adalah kesalahan konseptual yang berbahaya:

Forum Hindu Dharma: Banyak diskusi menyebutkan bahwa menyingkat salam keagamaan adalah bentuk ketidakhormatan (ahyฤ), dan bisa membawa efek sebaliknya karena didasari oleh kelalaian (pramada).

Artikel oleh Sulinggih (Pendeta): Beberapa tulisan di media online Bali (seperti "Bhayangkara Bali", "Majalah Raditya") secara implisit mengingatkan bahwa bahasa suci harus dipertahankan keutuhannya. Menyingkatnya sama dengan "menjauhkan diri dari makna sebenarnya".

Prinsip "Sabda, Bayu, Idep" (Perkataan, Tenaga, Pikiran): Salam "Om Swastyastu" harus mencerminkan kesatuan ketiganya. OSA, yang ditulis dengan malas (idep yang rendah) dan asal potong (sabda yang rusak), melanggar prinsip ini. Apa yang dilakukan dengan kelalaian (pramada) akan menghasilkan buah yang tidak baik (aphala).

V. KESIMPULAN PENELITIAN: MENGAPA OSA ADALAH "KEBALIKAN" SECARA SPIRITUAL
Berikut tabel perbandingan yang menunjukkan hubungan oposisi biner antara Om Swastyastu dan OSA:

Aspek Om Swastyastu OSA (sebagai singkatan) Status OSA sebagai "Kebalikan"
Kesempurnaan Utuh (3 bagian bermakna). Cacat (3 huruf tanpa makna). Lawan dari kesempurnaan adalah ketidakutuhan.
Niat (Idep) Kesadaran penuh, hormat, dan doa. Kelalaian, kepraktisan semata, dan mungkin malas. Lawan dari kesadaran adalah kelesuan/kelalaian (pramada).
Getaran (Niskala) Vibrasi suci dari mantra "Om" dan kata baik. Vibrasi kosong atau bahkan kacau (geseng). Lawan dari kesucian adalah kekosongan spiritual atau energi yang tidak teratur.
Fungsi Menyambung hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama. Memutus atau mereduksi makna penyambungan itu. Lawan dari menyambung adalah memutus.
Dampak Karmika Membawa phala (hasil) baik karena dilakukan dengan benar. Berpotensi aphala (tanpa hasil/tidak baik) karena dilakukan dengan salah. Lawan dari subha karma (perbuatan baik) adalah karma yang tidak tepat (mithya).
PENUTUP DAN REKOMENDASI
Penelitian ini mengonfirmasi bahwa OSA memang bukan sekadar singkatan yang netral, tetapi secara konseptual dan spiritual dapat dianggap sebagai "kebalikan" atau "penyimpangan" dari Om Swastyastu.

Geseng adalah metafora yang tepat: sesuatu yang hangus tidak bisa kembali menjadi kayu. Demikian p**a, salam yang sudah "dibakar" oleh kelalaian tidak akan lagi mengandung vibrasi suci.

Rekomendasi Final: Penggunaan OSA harus dihindari sepenuhnya dalam konteks apa pun yang berkaitan dengan agama, adat, dan kesopanan. Tulislah dan ucapkan selalu "Om Swastyastu" dengan lengkap dan penuh kesadaran.

Kearifan dari ahli sastra Bali yang Anda sampaikan itu bukanlah mitos, tetapi sebuah peringatan sastra (sastra sutra) yang sangat dalam, agar kita tidak merusak kemuliaan bahasa suci hanya untuk kepraktisan semu.

Semoga penelitian ini memberikan kejelasan yang mendalam. ๐Ÿ™

POV Nyepi dari sudut "Lontar Sundarigama" untuk POV Nyepi yang telah berjalan sampai saat ini belum ketemu dari segi vis...
16/01/2026

POV Nyepi dari sudut "Lontar Sundarigama" untuk POV Nyepi yang telah berjalan sampai saat ini belum ketemu dari segi visual , mungkin ada semeton yang punya , agar menjadi pencerahan bukan membandingkan dalam kontek negatif , mungkin sampai adanya sekarang juga ada proses saat diambil keputusan tersebut oleh sang wikan pada waktu itu Suksme Rahayu Sareng Sami !๐Ÿ™

Berikut isi lontar menurut yang ada di video tersebut :

๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ต๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ฆ, ๐˜ฌ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜จ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด, ๐˜ธ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐™‡๐™š๐™ก๐™–๐™จ๐™ฉ๐™ž ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข, ๐˜ซ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜จ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข, ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข, ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข, ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ข๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฉ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฉ, ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข, ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ธ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ณ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข, ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ด๐˜ข, ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข ๐˜ด๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฉ,,
๐˜ฝ๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ง๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™ ๐™ง๐™š๐™จ๐™ฃ๐™– ๐™ฅ๐™–๐™ ๐™จ๐™– ๐™˜๐™–๐™ฉ๐™ช๐™ง ๐™™๐™–๐™จ๐™ž
(๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด),
๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ธ๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ซ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ค๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข, ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ธ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜š๐˜ช๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข, ๐˜ธ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ธ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ธ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฑ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฌ, ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ, ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข,,๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ด๐˜จ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด/108 ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ซ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ,,๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ,
๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ,
๐™๐™ช๐™ข๐™ช๐™ก๐™ž ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ง๐™ช๐™ฅ๐™ช๐™  :
๐˜•๐˜จ๐˜ข, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฎ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ธ๐˜ช, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ฎ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข, ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ธ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ญ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ด๐˜ค๐˜ช๐˜ต๐˜ข,,
๐™๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™—๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ๐™ž๐™–, ๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™š๐™ฅ๐™ž ๐™ข๐™–๐™ฉ๐™ž ๐™œ๐™ฃ๐™ž :
๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜จ๐˜ข๐˜ธ๐˜ฆ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜จ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข, ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ธ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ธ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜จ๐˜ญ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ ๐˜บ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข,
๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ, ๐˜บ๐˜ฐ๐˜จ๐˜บ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข,,,
๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข, ๐˜ธ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ธ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ช, ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ซ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฎ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ธ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ด, ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฉ, ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ž๐˜ช๐˜ด๐˜ฏ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ช๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜‰๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ข๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ต๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜๐˜ด๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฎ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ณ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ,
๐˜™๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ข๐˜บ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ, ๐˜ธ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ธ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜จ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฎ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ข

================================================================

Terjemahan :

PROSESI RITUAL DAN PERSEMBAHAN

Surat keputusan mengenai upacara Setramase, peraturan tentang tiga wlas (waktu atau tahap), wewenang Lelasti atas ikan persembahan, serta ketiga dewa utama (Tiga Wisesa), yaitu: Puseh (di dalam desa), Wareng (untuk semua arca dewa-dewi di tempat pemujaan utama), dan Lungha (ke laut), diiringi oleh seluruh penduduk desa yang memiliki kewajiban upacara, beserta para ahli upacara yang ditunjuk, dan sesaji untuk Sanghyang Bruna (Dewa Laut). Larunglah (sesaji) itu, hanyutkan ke samudra, agar kewajiban upacaramu selesai. Tempatkan pratima (arca suci) di atas bangunan suci (yasa), persembahkan saat mereka (roh leluhur/dewa) datang. Setelah itu, lakukanlah yoga untuk mempersembahkan semua pratima tersebut.

PELAKSANAAN PADA WAKTU TERTENTU

(Benjang) dilaksanakan pada paruh gelap (Kresna Paksa), hari keempat belas (Catur Dasi), yaitu saat bulan purnama mulai mengecil (Pangelong). Lakukan upacara buta yajna (persembahan untuk makhluk rendah) di empat penjuru desa.

Yang paling rendah (nistaninya) adalah hewan asing (manca sata).

Yang menengah (madiania) adalah hewan ternak (panca sanak).

Yang paling utama (utamaninya) adalah Tawur Agung Yamaraja, yang dipuja oleh Maha Pandita Siwa-Buda.
Kemudian, sajikan sesajen segehan berwarna lima dengan alas tandhing, ayam panggang utuh (ayam brumbun), hiasan dan tetabuhan, pwetok (kue), arak beras (brem), yang dipersembahkan kepada Raja Buta dan Raja Kala, beserta semua bala tentaranya (bala-bala, buta bala, kala bala). Sajikan juga 108 tandhing berisi sesajen, ayam mentah utuh (jajron mentah), dan sagan agung besar, yang dipersembahkan kepada Buta Bala dan Kala Bala, masing-masing dengan caranya sendiri.

SETELAH PENYEMBAHAN DAN RITUAL PELENGKAP

Setelah berbelas kasih (dengan memberi sesaji), selesaikanlah ritual persembahan (ngacaru).

KEMUDIAN, BERKELILING (UNTUK PENYERAPAN):
Nah, (dengan ritual ini) telanlah semua buta kala, dan buanglah kotoran mereka (dosa/malapetaka). Kobarkan api penyuci (sapraksaka), taburkan abu suci (maswi), lindungi dengan segala mantra penolak bala, dan pagar gaib yang besar. Kelilingi rumah dengan api itu. Setelah itu, orang yang masih dalam perjalanan suci (yatri) yang tertinggal di halaman (natar), persembahkanlah sesayut (janji) untuk menangkal kekerasan (pamiak kala), sesayut untuk menangkal sakit dan penderitaan (lara mararadan), serta upacara penyucian (prayascita).

PADA SAAT PEMADAMAN API RITUAL:
Tidak boleh melakukan pekerjaan (duniawi), tidak boleh memasang api lain selain api suci ini. Para bijak yang memahami intisari semadi, yang mahir dalam yoga dan samadi, dialah yang menjadi penyucian hakiki dari semua dewata yang bersemayam di dasar samudra, sumber air kehidupan (kamandalu). Patutlah bagi semua orang mengatur pemujaan dan perbuatan baik kepada semua dewata.

PERINGATAN DAN KONSEKUENSI JIKA DIABAIKAN

Jika semua ini tidak dilaksanakan, maka desa itu akan celaka. Orang akan kerasukan buta kala, karena perintah Sanghyang Adi Kala (Kala yang utama). Beliau menguji tindak-tanduk manusia.

Apa (tujuan) Sanghyang Adi Kala? Beliau adalah yang menelantarkan orang yang tidak berbuat baik (tanpa kreti).

Mengapa demikian? Karena orang itu melupakan asal-usulnya sebagai manusia.

Besar dosa orang yang demikian. Hebat kutukan bagi yang demikian.

Akan menyebabkan para pemimpin (dipati) memberi (keputusan yang salah), merusak negara Sri Haji (kerajaan), itulah kotoran mereka (dosa).

Ganaslah buta kala yang marah. Inilah yang menghinggapi semua manusia, itulah yang merusak hatinya, karena prajurit Sang Adi Kala.

Siapa yang menjadi wadah/penjelmaan Kala itu? Dewa Wisnu yang menjelma sebagai dewa (Wisnu sebagai penjaga, jika dilalaikan berubah menjadi Kala/perusak). Beliau menjelma menjadi Kala.

Dewa Brahma memberi segala jenis penyakit (sarwa bucari), takdir buruk, dan penderitaan.

Dewa Iswara (Siwa), memberikan kotoran (dosa) mereka. Itu sangat dahsyat, mengancam kehidupan masyarakat (praja mandala).

Karena demikian (akibatnya), janganlah engkau, anak-cucuku, lalai dalam pesan dan nasihat (pepali) ini.

HASIL DAN TUJUAN AKHIR

Setelah semua ini dilaksanakan, kembalilah kemakmuran bagi negara. Segala sesuatu akan berjalan lancar, dan semua jiwa yang disebutkan akan menjadi sempurna. Teranglah pandangan terhadap alam dunia, tenteramlah segala yang hidup, suburlah segala yang tumbuh, dan semua kotoran/keburukan (sasab mrana) akan kembali ke samudra (terserap dan dinetralkan).

================================================================

Teks tersebut aslinya ditulis dalam Bahasa Jawa Kuna (Kawi), dengan kemungkinan pengaruh dari Bahasa Bali Pertengahan atau Bali Kuna.

Berikut adalah analisis lebih detail:

1. Bahasa Jawa Kuna (Kawi) sebagai Dasar Utama:

Kosakata Inti: Banyak kata kunci dalam teks adalah kosakata standar Jawa Kuna untuk sastra dan prasasti keagamaan, seperti: akta (surat/peraturan), sanghyang (yang dimuliakan/dewa), dewata (dewa-dewi), mantuk (kembali), praja (negara/kerajaan), jagat (dunia).

Struktur dan Tata Bahasa: Pola kalimat seperti "ring..." (tentang/di dalam), "ikan..." (sang/itu), "ika kabรจh" (itu semua), dan penggunaan partikel -ning/-ing adalah ciri khas Jawa Kuna.

Istilah Ritual: Istilah-istilah ritual yang kompleks seperti buta yajna, tawur agung, prayascita adalah warisan dari tradisi sastra ritual Hindu-Buddha di Jawa.

2. Pengaruh Bahasa Bali yang Kuat:

Konteks Penggunaan: Teks ini jelas adalah sebuah "tetandingan" atau "prayascita" โ€” yaitu mantera atau pedoman ritual tertulis (lontar) Bali untuk upacara penyucian berskala besar (desa).

Kosakata Khas Bali: Kata seperti "segehan" (sesaji kecil), "tandhing" (wadah dari daun), "sasah" (sesaji tertentu), "manca sata" (hewan lima jenis), "panca sanak" (hewan ternak), dan "benjang" (pelaksanaan) adalah kosakata hidup yang digunakan hingga kini dalam ritual Bali.

Sistem Dewa: Penyebutan "Tri Wisesa" (Brahma, Wisnu, Siwa) yang dimanifestasikan sebagai "Puseh, Desa, Dalem" atau variannya (Puseh, Wareng, Lungha) adalah konsep teologis khas Bali mengenai tiga pura kahyangan utama dalam satu desa adat.

Nama Dewa Lokal: "Sanghyang Bruna" adalah dewa laut dalam mitologi Bali. "Lelasti" juga merujuk pada dewi/dewa tertentu dalam kosmologi Bali.

3. Ringkasan:
Jadi, teks ini adalah sebuah naskah ritual Bali (kemungkinan besar dari sebuah lontar) yang ditulis dengan menggunakan kerangka bahasa dan kosakata Jawa Kuna (Kawi) sebagai bahasa sastra dan keagamaan, namun telah diisi dengan terminologi, konsep, dan praktik ritual yang sangat spesifik Bali.

Analoginya: Seperti naskah keagamaan di Eropa Abad Pertengahan yang ditulis dalam Bahasa Latin, tetapi membahas tentang ritual atau santo-santo setempat. Bahasa Latin-nya adalah Jawa Kuna, dan konteks lokalnya adalah Bali.

Inilah mengapa teks ini sangat penting secara budaya, karena ia merepresentasikan kelanjutan hidup dari tradisi sastra Jawa Kuno di Bali, yang telah beradaptasi dan berkembang dalam ekosistem kebudayaan dan keagamaan Bali selama berabad-abad.
================================================================

Mungkin akan ada pertanyaan berikut " apakah hari nyepi di bali dimulai dan tercampur dengan budaya jawa kuno , bukan bali asli?"

Pertanyaan yang sangat bagus dan mendasar. Jawabannya adalah "Ya, budaya Jawa Kuno (Khususnya Jawa Hindu-Buddha era Kerajaan Majapahit) adalah akar utama dari sistem keagamaan dan kalender di Bali, termasuk Hari Raya Nyepi. Namun, itu TIDAK berarti Nyepi "bukan Bali asli." Justru, Bali telah mengolah, mengadaptasi, dan mempertahankan warisan itu dengan cara yang unik hingga menjadi identitas yang sangat asli Bali.

Mari kita urai:

1. Akar Jawa Kuno yang Kuat
Sistem Kalender: Kalender Saka yang menjadi dasar penentuan Nyepi (Tahun Baru Saka) berasal dari India. Namun, pengaruh utama masuk ke Bali melalui Jawa Kuno. Prasasti-prasasti Jawa Kuno (seperti dari era Mpu Sindok, Airlangga, hingga Majapahit) sudah menggunakan kalender Saka untuk mencatat peristiwa penting.

Konsep "Catur Brata Penyepian": Empat pantangan utama selama Nyepi (Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, Amati Lelanguan) berakar dari filosofi Yoga dan Samadi dalam Hindu, yang tiba di Bali melalui kanal sastra dan ajaran para resi/brahmana dari Jawa. Teks yang Anda terjemahkan sebelumnya pun menggunakan bahasa Jawa Kuna, yang menjadi bahasa medium ajaran ini.

Ritual Pendahulu Nyepi: Upacara Melasti/Mekiyis (menuju laut/sumber air) dan Tawur Agung/Pecaruan (persembahan besar untuk menetralkan kekuatan negatif) memiliki paralel kuat dengan ritual yang digambarkan dalam kakawin Jawa Kuno dan konsep buta yajna.

2. Proses "Pembaliaan" (Balinisasi) yang Mendalam
Inilah bagian kuncinya. Warisan Jawa Kuno itu tidak ditelan mentah-mentah, tetapi:

Dilokalisasi dengan Kosmologi Bali: Ritual Tawur Agung, misalnya, diarahkan kepada "Buta Kala" sesuai dengan konsep mikrokosmos-makrokosmos khas Bali. Buta Kala bukan sekadar kekuatan jahat, tetapi energi alam semesta yang perlu diseimbangkan. Lokasi dan detail upacara disesuaikan dengan hierarki tiga pura (Kahyangan Tiga) dan desa adat.

Diperkaya dengan Tradisi Lokal Pra-Hindu: Praktik membunyikan alat (kentongan, gebug endokan) untuk mengusir roh jahat sebelum Nyepi, atau kepercayaan tentang "segara-gunung" (laut-pegunungan) dalam prosesi Melasti, memiliki resonansi dengan kepercayaan animisme Austronesia yang sudah ada di Nusantara, termasuk Bali.

Dijadikan Alat Pemersatu Sosial: Nyepi, dengan Brata-nya, menjadi alat disiplin sosial dan identitas kolektif yang sangat kuat bagi masyarakat Bali. Ini adalah bentuk adaptasi genius di mana nilai spiritual dijadikan pondasi tata kehidupan bermasyarakat.

Bahasa Medium Berubah: Meskipun teks suci (lontar) berbahasa Jawa Kuna, pelaksanaan dan penjelasannya dilakukan dalam Bahasa Bali. Doa (mantra) tetap dalam Sanskrit dan Jawa Kuna, tetapi instruksi dan filosofinya disampaikan dalam konteks budaya Bali.

3. Kesimp**an: Bukan "Tercampur", Tapi "Diolah Menjadi Inti Diri"
Mengatakan Nyepi "tercampur budaya Jawa Kuno" itu seperti mengatakan bahasa Indonesia tercampur bahasa Sanskerta, Arab, dan Belanda. Benar secara historis, tetapi tidak menggambarkan realitas saat ini.

Jawa Kuno (Khususnya era Majapahit) adalah pemberi bentuk, sistem, dan filosofi dasar agama Hindu di Bali. Gelombang besar terjadi setelah keruntuhan Majapahit (abad ke-15), ketika para bangsawan, pendeta, seniman, dan intelektual Jawa berpindah ke Bali, membawa serta peradaban mereka.

Masyarakat Bali adalah pengolah, penjaga, dan pengembang warisan tersebut. Mereka memadukannya dengan genius lokal, menjaga kelestariannya dengan ketat (bahkan seringkali lebih baik daripada di Jawa sendiri), dan menjadikannya "living tradition" yang menjadi jantung kebudayaan dan spiritualitas Bali modern.

Jadi, Nyepi adalah produk sintesis budaya yang sangat canggih:
Akar Filosofis & Sistem = India, disalurkan melalui Jawa Hindu-Buddha Kuno.
Bentuk Praktik, Sosial, & Ekspresi Kultural = Hasil olahan dan kreasi asli Bali selama berabad-abad.

Dengan demikian, Nyepi adalah Bali yang asli, karena ia telah dijadikan milik sendiri, dimaknai ulang, dan dihidupi sepenuhnya dalam konteks peradaban Bali. Ia adalah bukti bahwa Bali bukan sekadar "museum" warisan Jawa Kuno, melainkan laboratorium hidup yang terus mengembangkan warisan itu menjadi sesuatu yang unik dan identik dengan dirinya sendiri.

Kirang LAngkung Nunas Sinampura , anggen serane pikeling sareng idedane sane sampun wikan mangde eling ring Lelagit Ide Dane Utawi Titiyang , sekadi punike te Mikayunin ngerastitiang jagat Bali lan Pianak utawi Cucu Ipune Mangde Nemu Rahayu , Ngiring anggen sesuluh mangde Landuh Lan Trepti Jagat Sami ๐Ÿ™

Address

Amlapura

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Desa Selumbung posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Desa Selumbung:

Shortcuts

Share