Rizky kiki97

Rizky kiki97 Karya saya yang lain ada di Fizzo. Nama pena: Rizky kiki

BAB 28 (POV Nina) Malam itu udara terasa dingin. Aku duduk di belakang Abian, memegang pelan ujung jaketnya saat motor k...
03/06/2026

BAB 28

(POV Nina)

Malam itu udara terasa dingin. Aku duduk di belakang Abian, memegang pelan ujung jaketnya saat motor kami melaju membelah jalanan desa. Lampu-lampu rumah makin jarang terlihat, sebab lokasi pengajian malam ini cukup jauh dari pondok.

“Dingin?” Suara Abian terdengar di sela angin.

“Sedikit.”

Beliau langsung menarik sedikit jaketnya ke belakang. “Dekat sini saja.”

Wajahku memanas menahan malu. Meski sudah setahun lebih kami menikah, hal sekecil apa pun darinya tetap membuat jantungku berdebar kencang.

Sesampainya di lokasi, halaman masjid sudah penuh sesak dengan kendaraan. Suara lantunan shalawat berkumandang lewat pengeras suara. Seperti biasa, jamaah laki-laki dan perempuan dipisah. Aku masuk ke bagian khusus wanita bersama ibu-ibu lain, sementara Abian menuju sisi seberang.

Pengajian berlangsung agak larut malam itu. Aneh rasanya, sepanjang acara hatiku terasa begitu tenang. Mungkin karena sudah lama kami tak berangkat bersama seperti ini bukan lagi sebagai ustadz dan santriwati, bukan p**a dua orang yang saling memendam rasa, melainkan sebagai suami istri.

Usai pengajian, jamaah mulai berhamburan keluar. Aku berjalan pelan menuju area parkir sambil mencari motor kami. Beberapa meter di depan, Abian sudah berdiri menunggu, matanya menyapu keramaian seolah sedang mencariku. Begitu pandangan kami bertemu, beliau tersenyum tipis, senyum sederhana yang selalu membuatku merasa menjadi satu-satunya yang dicari.

Aku berjalan menghampiri, namun tiba-tiba sebuah suara perempuan memecah suasana. “Abian?”

Langkahku terhenti seketika, dadaku menegang erat. Aku hafal suara itu.

Perempuan itu berjalan mendekat dari arah parkir mobil, tampak rapi dan anggun persis seperti saat terakhir kami berjumpa. Saat memandang Abian, senyumnya merekah hangat.

“Aku benar-benar tak menyangka bertemu kamu di sini.”

Abian tampak sedikit terkejut. “Oh… kamu?”

Aku masih diam berdiri agak jauh, hanya mengamati mereka berdua.

“Kamu sering ikut pengajian di sini?” tanya perempuan itu.

“Kadang-kadang.”

“Aku baru beberapa bulan pindah kerja ke kota dekat sini.”

“Oh ya?”

“Iya. Dunia memang terasa sempit ya.”

Ada rasa tak nyaman yang mulai merayapi dadaku. Cara mereka berbincang terasa begitu luwes, terlalu akrab seolah rentang waktu bertahun-tahun tak pernah memisahkan mereka sedikit pun. Yang paling menyakitkan, ia terus berbicara pada Abian seolah aku tak ada, atau justru sengaja mengabaikanku.

“Aku dengar kabar kamu kini makin sibuk.”

Abian tersenyum tipis. “Masih seperti biasa saja.”

“Kamu memang tak pernah mau diam semenjak dulu.” Perempuan itu terkekeh pelan. “Aku masih ingat, dulu kamu kerap lupa makan saat sedang sibuk bekerja.”

Dadaku terasa perih dan panas. Bahkan aku pun tahu, kebiasaan itu masih melekat pada diri Abian hingga kini. Aku menunduk, berusaha menepis rasa cemburu yang mulai menyelimuti. Sepertinya Abian sadar akan hal itu, karena tak lama kemudian ia menoleh ke arahku.

“Nina.”

Aku segera mendongak. “Ya, Mas?”

“Sini mendekat.”

Beliau melangkah menghampiri, lalu berdiri persis di sisiku, begitu dekat hingga aku merasa ada perlindungan yang menyelimuti. Untuk pertama kalinya sejak perempuan itu datang, aku merasa keberadaanku diakui.

“Oh, jadi ini dia.” Perempuan itu akhirnya memandangku, menatap sesaat lalu tersenyum tipis. “Pasti kamu Nina ya?”

Aku mengangguk kecil. “Iya, benar.”

Senyumnya kembali mengembang, namun entah kenapa terasa begitu dingin menusuk hati. Mungkin karena beberapa waktu lalu kami juga sudah pernah bertemu. Hanya saja dia berpura-pura seolah tidak kenal aku di hadapan Abian.

“Aku sempat mendengar kabar mengenai kalian berdua.”

Aku hanya diam. Tangan Abian pun perlahan menggenggam tanganku erat, gerakan sederhana yang seketika meredakan gejolak di dadaku.

“Jadi kalian datang berdua?” tanyanya lagi.

“Iya,” jawab Abian tenang.

“Baguslah akhirnya. Dulu Abian selalu p**ang sendirian usai acara malam, sampai aku kerap memarahinya karena tak mau menjaga diri.”

Aku menggigit pelan bibir bawahku. Sekali lagi ia berbicara seolah dialah orang yang paling mengenal Abian, dan hal itu membuatku merasa begitu kecil tanpa alasan yang jelas. Namun di tengah kecanggungan itu, Abian justru kembali menoleh padaku.

“Kamu sudah lelah?”

Aku sedikit terkejut. “Tidak, Mas.”

“Kalau begitu mari kita p**ang saja.”

Perempuan itu langsung memandang tajam ke arahnya. “Wah, apa aku sudah mengganggu waktumu?”

“Bukan begitu maksudku,” jawab Abian tetap santun namun bernada tegas. “Sudah terlalu larut malam.”

Perempuan itu akhirnya tersenyum tipis. “Baiklah kalau begitu.” Pandangannya kembali jatuh padaku, diucapkannya pelan, “Tolong jaga Abian dengan baik ya.”

Dadaku kembali menegang. Kalimat itu terdengar bukan sekadar pesan, melainkan sindiran, seolah selama ini aku tak pernah cukup menjaganya.

Setelah perempuan itu berlalu, suasana mendadak hening. Kami berjalan menuju motor tanpa sepatah kata pun. Saat Abian hendak memasangkan helm di kepalaku, aku tak sanggup lagi menahan perasaan.

“Mas masih merasa nyaman mengobrol dengannya ya?”

Gerakan tangannya terhenti seketika, lalu ia menatapku lekat-lekat. Tatapan itu selalu terasa begitu tenang, kontras dengan kekacauan hatiku sendiri.

“Ia hanyalah seseorang yang pernah aku kenal di masa lalu, Nina.”

Jawabannya ringkas, namun rasa tak nyaman di dadaku belum juga sirna. Melihatku masih menunduk diam, Abian perlahan mengangkat daguku hingga pandangan kami bertemu.

“Nina, dengarkan aku.” Ia tersenyum lembut sambil merapikan ujung jilbabku. “Jika aku masih ingin kembali ke masa lalu, aku takkan pernah membawa serta kamu p**ang bersamaku malam ini.”

Seketika jantungku berdebar kencang. Abian lalu menaiki motor, menatapku penuh kasih sayang.

“Ayo kita p**ang, Sayangku.”

Sekali lagi, hanya dengan kalimat sesederhana itu, ia berhasil meyakinkanku bahwa akulah satu-satunya yang dipilihnya.

Bersambung...

Judul: “Kutitipkan Takdirku Dalam Do'a”

Bab 14 — Rahasia yang Tertinggal Sejak malam, rumah itu bergema dengan tangisan dan lantunan doa. Halaman penuh dengan k...
03/06/2026

Bab 14 — Rahasia yang Tertinggal

Sejak malam, rumah itu bergema dengan tangisan dan lantunan doa. Halaman penuh dengan karangan bunga, dan orang-orang terus datang silih berganti untuk melayat. Namun Yumi nyaris tak memperhatikan semuanya.

Sejak jenazah Alfan dibawa p**ang beberapa jam lalu, ia tak pernah beranjak jauh dari sisi suaminya. Ia duduk bersila di lantai dekat kepala Alfan, mata sembab dan tubuh terasa lemas. Tatapannya kosong, sesekali tangannya menyentuh kain kafan putih yang membungkus tubuh lelaki itu. Dingin. Kenyataan itu masih terasa seperti mimpi buruk.

Beberapa kali Mbak Rina membujuknya makan atau beristirahat, namun Yumi hanya menggeleng perlahan.

“Aku di sini aja…”

Suaranya nyaris tak terdengar. Setiap kali menatap wajah Alfan, dadanya kembali terhantam rasa bersalah yang amat dalam. Hingga napas terakhirnya, lelaki itu selalu menuruti segala keinginannya.

Menjelang tengah malam, suasana rumah berubah saat sebuah mobil hitam mewah berhenti di halaman depan. Beberapa pria bersetelan rapi turun lebih dulu, diikuti seorang pria paruh baya, seorang wanita seusianya yang tampak anggun, serta seorang wanita muda. Aura mereka tenang namun terasa begitu kuat. Para pelayat pun mulai saling berbisik. Yumi hanya menoleh sekilas dengan mata bengkak.

Wanita paruh baya itu berjalan masuk dengan langkah terguncang. Begitu melihat jasad Alfan, air matanya langsung tumpah.

“Alfan…”

Suara parau itu seketika membuat seluruh ruangan hening. Wanita itu segera mendekat sambil menahan isak tangis, tangannya gemetar menyentuh wajah putranya yang sudah terbujur kaku.

“Anak Mama…”

Tangisannya terdengar begitu pilu. Pria di sampingnya memejamkan mata rapat-rapat, berusaha menahan gejolak perasaan. Sementara wanita muda di belakang mereka sudah terisak sejak tadi. Yumi mengernyit bingung, dadanya mulai terasa sesak. Siapa mereka? Mengapa tampak begitu dekat dengan Alfan?

Akhirnya pria paruh baya itu menoleh perlahan ke arah Yumi, tatapannya terasa sedingin es.

“Kamu Yumi?”

Yumi mengangguk lemah.

“I… iya.”

Detik berikutnya—

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Seluruh ruangan terperanjat kaget, hingga tubuh Yumi terhuyung mundur. Air matanya kembali mengalir, namun wanita paruh baya itu justru tampak jauh lebih hancur.

“Kamu puas sekarang?!” serunya penuh amarah. “Anak saya meninggal karena kamu!”

“Mama…” cegah wanita muda itu sambil menarik lengan ibunya.

Namun wanita itu terus menangis tersedu.

“Kalau bukan karena dia p**ang demi kamu, Alfan nggak akan kecelakaan!”

Yumi membeku kaku, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Kalimat itu benar adanya—benar-benar benar. Tak ada sepatah kata pun yang sanggup ia ucapkan untuk membela diri.

Pria paruh baya itu akhirnya bersuara berat.

“Sejak awal kami sudah melarang Alfan menikahimu.”

Yumi perlahan mengangkat wajah, tatapannya kosong dan penuh tanya.

“A… apa?”

“Kami orang tuanya.”

Dunia seakan runtuh seketika bagi Yumi. Orang tua? Selama empat tahun pernikahan, Alfan tak pernah benar-benar menceritakan keluarganya. Ia hanya pernah berkata hubungan mereka tak begitu akur, dan Yumi pun tak pernah berniat bertanya lebih jauh. Namun kini, keluarga ini datang dengan penampilan yang jauh dari kesan biasa.

Wanita muda itu maju perlahan sambil terisak.

“Aku adiknya Mas Alfan…”

Yumi serasa kehilangan kemampuan bicara. Ia menatap satu per satu sosok di hadapannya pakaian mahal, keberadaan pengawal, mobil mewah terparkir di luar, semua itu mulai terasa tak masuk akal.

“Kami memang menentang pernikahan kalian,” lanjut sang ayah dengan nada dingin. “Karena kami yakin kamu hanya mengejar hartanya.”

Yumi tertunduk lemas, napasnya terengah.

“Kami bahkan memintanya meninggalkan rumah jika tetap memilihmu.”

Ternyata… Alfan benar-benar melakukannya.

“Empat tahun…” suara ibu Alfan kembali terdengar parau. “Empat tahun lamanya anakku tak p**ang, hanya demi mempertahankan pernikahannya denganmu!”

Tangisannya semakin menjadi-jadi.

“Dia rela meninggalkan segalanya!”

Yumi mulai menggeleng perlahan, pikirannya kacau balau.

“A… apa maksudnya?”

Adik Alfan menatap tajam dengan mata sembab.

“Mas Alfan bukan asisten pribadi CEO.”

Jantung Yumi seakan berhenti berdetak sejenak.

“Apa…?”

“Dialah CEO-nya.”

Tubuh Yumi seketika lemas tak berdaya. Tidak… mustahil.

“Mas Alfan adalah pemilik perusahaan tempat ia bekerja.”

“Bohong…” lirih Yumi sambil menangis. “Dia bohong padaku?”

“Sebab ia ingin dicintai apa adanya!” bentak sang ibu sambil terisak. “Bukan karena kekayaannya!”

Yumi terdiam seribu bahasa, kepalanya terasa berputar hebat. Wanita itu kembali berbicara, suaranya gemetar menyimpan luka mendalam.

“Ia rela pergi dari rumah tanpa membawa harta sepeser pun! Menolak segala bantuan keluarga, lalu membangun semuanya dari nol hanya demi mempertahankanmu!”

Tangisan Yumi pun meledak. Perlahan tapi pasti, semua potongan teka-teki mulai tersusun rapi. Kini ia paham mengapa gajinya selalu terasa terlalu besar untuk seorang asisten, mengapa segala keinginannya selalu bisa dipenuhi, mengapa ia kerap terlihat amat sibuk, dihormati banyak orang, dan selalu tampak kelelahan luar biasa.

“Ia bahkan telah menyiapkan segalanya demi kamu dan calon anaknya,” ujar sang ayah dengan nada berat yang masih menyimpan amarah. “Namun kini semuanya sudah terlambat.”

Yumi segera menoleh cepat.

“A… apa?”

Namun pria itu tak lagi bersuara. Kekecewaan mereka pada Yumi sudah terlalu mendalam malam itu. Sementara Yumi hanya bisa terisak di sisi jenazah suaminya, hatinya kini hancur berkeping-keping. Akhirnya ia sadar, lelaki yang kerap ia hina, abaikan, dan lukai selama ini ternyata telah memberikan seluruh hidup dan dunianya demi dirinya.

Bersamanya...

Judul: “Memberimu Dunia dan Seisinya”

BAB 27 (POV Nina) Perkataan perempuan itu… ternyata terus tinggal di kepalaku. Bahkan sampai beberapa hari setelah perte...
02/06/2026

BAB 27

(POV Nina)

Perkataan perempuan itu… ternyata terus tinggal di kepalaku. Bahkan sampai beberapa hari setelah pertemuan itu berlalu.

“Apa kamu tidak merasa bersalah?”

Kalimat itu terus terulang. Berulang kali. Dan semakin kupikirkan… semakin aku merasa sesak.

Karena mungkin… ada benarnya juga. Abian memang berubah sejak menikah denganku. Beliau bekerja lebih keras. Lebih lelah. Dan terus memaksakan dirinya demi membuat hidup kami lebih baik. Sementara aku… apa yang sebenarnya sudah kuberikan?

Aku tidak punya pekerjaan. Tidak punya pendidikan tinggi. Tidak punya relasi. Tidak punya apa-apa. Aku hanya punya cinta. Dan malam itu… aku akhirnya sadar satu hal. Kalau memang hanya itu yang kupunya… maka aku akan mencintai Abian sebaik mungkin. Sebanyak mungkin.

Sejak hari itu… aku mulai lebih memperhatikan hal-hal kecil tentangnya. Hal-hal yang dulu mungkin tidak terlalu kusadari.

Aku mulai mengingat makanan kes**aannya. Abian ternyata sangat s**a tumis kangkung pedas dan ikan goreng hangat. Beliau juga s**a teh hangat yang tidak terlalu manis sep**ang kerja. Dan kalau sedang sangat lelah… beliau biasanya diam lebih banyak.

Sore itu aku sudah selesai memasak sejak sebelum magrib. Aku bahkan menata meja makan kecil kami lebih rapi dari biasanya. Lalu duduk menunggu di ruang tengah sambil sesekali melihat jam. Dan ketika suara salam itu akhirnya terdengar… aku langsung berdiri cepat.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam, Mas…”

Beliau baru masuk sambil terlihat lelah seperti biasa. Tapi langkahnya langsung melambat saat melihatku berdiri di depan pintu sambil tersenyum.

“Ada apa?” tanyanya heran kecil.

Aku menggeleng cepat.

“Tidak ada.”

Padahal sebenarnya… aku hanya terlalu senang beliau p**ang dengan selamat.

Aku langsung mengambil tasnya. Dan itu membuat beliau mengangkat alis kecil.

“Tumben sekali dilayani begini.”

Aku menahan senyum kecil.

“Memang tidak boleh?”

Beliau tertawa pelan.

“Boleh.”

Saat makan malam… aku bahkan menyuapinya. Dan itu benar-benar membuat Abian berhenti makan. Beliau menatapku cukup lama. Sementara aku langsung salah tingkah sendiri.

“Kenapa lihatnya begitu?”

Beliau masih terlihat bingung.

“Kamu habis minta sesuatu?”

Aku langsung melotot kecil.

“Mas…”

Beliau malah tertawa pelan.

“Karena istriku tiba-tiba manis sekali.”

Wajahku langsung memanas. Aku cepat-cepat menyodorkan sendok lagi.

“Makan saja.”

Beliau akhirnya membuka mulut sambil tetap menatapku heran. Dan entah kenapa… melihatnya makan buatanku dengan tenang seperti itu membuat hatiku hangat sekali. Sangat hangat.

“Makanan hari ini enak.”

Aku tersenyum kecil.

“Saya sengaja masak yang Mas s**a.”

Beliau langsung menatapku lagi.

“Ada apa sebenarnya?”

Aku tertawa kecil gugup.

“Tidak ada.”

Padahal ada. Aku hanya sedang takut kehilangan laki-laki ini.

Setelah makan selesai, biasanya Abian langsung membantu membereskan meja. Tapi malam itu aku melarangnya.

“Mas duduk saja.”

“Aku bisa bantu.”

“Tidak usah.”

Beliau mengernyit kecil.

“Kamu sakit?”

Aku langsung tertawa kecil tidak percaya.

“Kenapa malah saya yang dikira sakit?”

“Karena kamu terlalu perhatian hari ini.”

Aku langsung menunduk malu.

Malam semakin larut. Dan saat beliau duduk di ruang tengah sambil memijat lehernya pelan… aku datang membawa minyak hangat.

“Mau dipijit?”

Beliau terlihat benar-benar terkejut sekarang.

“Nina.”

Aku duduk di belakangnya.

“Diam.”

Beliau tertawa pelan. Lalu akhirnya membiarkanku memijat pundaknya.

Tubuhnya terasa keras karena lelah. Dan semakin aku memijatnya… semakin hatiku terasa nyeri. Karena laki-laki ini benar-benar bekerja terlalu keras.

“Capek ya, Mas…”

Suaraku lirih. Beliau tersenyum kecil tanpa menoleh.

“Sedikit.”

Aku memijat pundaknya lebih pelan. Dan tanpa sadar berkata—

“Terima kasih sudah selalu berjuang buat saya.”

Beliau langsung diam. Suasana mendadak menjadi sangat tenang.

“Nina…”

“Iya?”

“Kamu kenapa?”

Aku terdiam sesaat. Lalu tersenyum kecil meski beliau tidak bisa melihatnya.

“Saya cuma sadar…”

Tanganku tetap bergerak pelan di pundaknya.

“…kalau saya mungkin tidak punya banyak hal untuk dibanggakan.”

Beliau langsung menoleh sedikit. Aku buru-buru melanjutkan sebelum beliau memotong.

“Tapi saya ingin jadi tempat paling nyaman buat Mas p**ang.”

Hening. Panjang sekali.

Dan beberapa detik kemudian… beliau perlahan menggenggam tanganku. Lalu mencium punggung tanganku pelan.

“Siapa bilang kamu tidak punya apa-apa?”

Dadaku langsung terasa hangat. Aku menatapnya pelan. Dan beliau tersenyum lembut sekali.

“Kamu punya hati yang membuat aku selalu ingin p**ang.”

Air mataku hampir jatuh saat itu juga.

Beliau lalu menarikku duduk di sampingnya. Tatapannya masih penuh heran.

“Tapi serius…”

Beliau menyipitkan mata kecil.

“Kamu hari ini manis sekali.”

Aku langsung salah tingkah.

“Memangnya biasanya tidak?”

Beliau tertawa kecil.

“Biasanya juga manis.”

Lalu beliau mendekat sedikit sambil tersenyum jahil.

“Tapi sekarang seperti takut aku direbut orang.”

Jantungku langsung berhenti sesaat. Aku cepat-cepat memalingkan wajah. Dan itu justru membuat beliau tertawa semakin pelan.

Padahal beliau tidak tahu. Bahwa memang sejak hari itu… aku jadi semakin takut. Takut suatu hari nanti ada perempuan lain yang membuat Abian sadar… bahwa hidup bersamaku ternyata memang terlalu berat.

Bersambung...

Judul: “Kutitipkan Takdirku Dalam Do'a”

Bab 13 — Terlambat Langkah kaki Yumi terdengar terburu-buru menyusuri lorong rumah sakit. Jantungnya berdetak sangat ker...
01/06/2026

Bab 13 — Terlambat

Langkah kaki Yumi terdengar terburu-buru menyusuri lorong rumah sakit. Jantungnya berdetak sangat keras, tangannya dingin, sedangkan perawat di depannya terus berjalan cepat tanpa banyak bicara.

“Suami saya gimana?” tanya Yumi lagi dengan suara bergetar.

Namun wanita berseragam putih itu hanya menjawab pelan.

“Mohon tenang dulu, Bu.”

Tenang? Bagaimana mungkin dia bisa tenang? Kepala Yumi terasa penuh oleh berbagai kemungkinan buruk. Tangannya terus gemetar sejak tadi, dan entah kenapa semakin jauh mereka berjalan, semakin tidak nyaman perasaannya. Lorong rumah sakit mulai berubah semakin sepi, tidak banyak pasien, tidak banyak suara, bahkan pencahayaan di bagian itu terasa lebih redup. Yumi mulai mengernyit bingung.

“Ini bukan ruang UGD ya?”

Perawat itu tidak menjawab. Langkahnya tetap berjalan. Dan sekarang dada Yumi mulai terasa sesak.

“Nanti kita sampai di mana sih?”

Tetap tidak ada jawaban jelas. Tubuh Yumi perlahan mulai melemas. Naluri buruknya semakin kuat.

“Mbak…”

Suara Yumi mulai pecah.

“Suami saya kenapa?”

Perawat itu akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna abu-abu. Tulisan di atasnya membuat tubuh Yumi langsung membeku. RUANG JENAZAH. Dunia Yumi seperti berhenti berputar.

“A… apa?”

Matanya langsung membesar. Tubuhnya mundur satu langkah.

“Nggak…”

Perawat itu menatapnya penuh iba.

“Mohon maaf, Bu…”

Kalimat itu langsung menghancurkan semuanya. Yumi menggeleng cepat sambil mulai menangis.

“Nggak… nggak mungkin…”

“Suami Anda mengalami benturan sangat parah di bagian kepala dan dada.”

“Nggak!”

“Tim dokter sudah berusaha melakukan penanganan—”

“Nggak!!”

Suara Yumi pecah keras di lorong rumah sakit yang sunyi itu. Air matanya langsung jatuh deras. Tubuhnya gemetar hebat.

“Dia tadi masih telepon sama saya…”

Kalimat itu keluar dengan suara hancur.

“Dia tadi masih ngomong…”

Perawat itu hanya diam. Karena tidak ada kalimat apa pun yang bisa membuat situasi ini lebih baik.

“Tidak mungkin…”

Yumi langsung mendorong pintu ruang jenazah dengan tangan gemetar. Dan saat itulah, dunianya benar-benar runtuh. Ruangan itu sangat dingin, sunyi, dan di tengah ruangan terbaring sosok Alfan di atas ranjang besi putih dengan tubuh tertutup kain hingga dada. Wajah lelaki itu pucat. Ada luka di pelipisnya. Beberapa bagian wajahnya dipenuhi bekas lecet dan memar. Namun yang paling menyakitkan, Alfan terlihat sangat tenang. Terlalu tenang. Seolah sedang tidur sangat p**as.

“Nggak…”

Langkah Yumi melemah. Tubuhnya hampir jatuh saat mendekat perlahan.

“Alfan…”

Tidak ada jawaban. Tidak ada senyum kecil seperti biasanya. Tidak ada suara lembut yang selalu mengalah padanya. Yumi langsung memegang wajah suaminya dengan tangan gemetar. Dingin. Sangat dingin.

“Bangun…”

Suara wanita itu pecah.

“Alfan…”

Air matanya jatuh tanpa henti sekarang.

“Kamu jangan bercanda…”

Namun lelaki itu tetap diam. Untuk selamanya.

Yumi mulai menggeleng keras sambil menangis semakin histeris.

“Nggak… nggak… kamu nggak boleh begini…”

Tubuhnya melemas di sisi ranjang jenazah. Tangannya mencengkeram baju Alfan erat.

“Maaf…”

Tangisnya pecah semakin keras. Dan untuk pertama kalinya, semua ucapan terakhir Alfan mulai terngiang jelas di kepalanya.

“Aku cuma pengen p**ang kamu ada di rumah.”

“Aku bakal biarin kamu ngelakuin apa pun yang kamu mau.”

“Ini permintaanku yang terakhir kali.”

Yumi langsung menutup mulutnya sendiri sambil menangis keras. Karena sekarang dia sadar, Alfan benar-benar menepati ucapannya. Lelaki itu tidak akan mengatur dirinya lagi. Tidak akan melarangnya pergi. Tidak akan meminta ditemani. Tidak akan meminta perhatian kecil lagi. Karena lelaki itu sudah pergi.

Dan yang paling menghancurkan hati Yumi, Alfan meninggal saat memenuhi permintaannya sendiri. Permintaan bodoh tentang sebuah kunci mobil.

“Maaf…”

Tubuh Yumi gemetar hebat sambil menunduk di samping jasad suaminya.

“Maaf… maaf…”

Namun tidak peduli seberapa keras dia menangis malam itu, Alfan tidak akan membuka matanya lagi.

Bersambung...

Judul: “Memberimu Dunia dan Seisinya”

BAB 26 (POV Nina) Satu tahun setelah pernikahan kami… hidup tetap berjalan seperti biasa. Atau setidaknya… aku selalu be...
01/06/2026

BAB 26

(POV Nina)

Satu tahun setelah pernikahan kami… hidup tetap berjalan seperti biasa. Atau setidaknya… aku selalu berusaha menganggap semuanya baik-baik saja.

Rumah kecil kami masih sama. Masih sederhana. Masih penuh suara langkah Abian yang kadang p**ang terlalu malam. Dan masih dipenuhi omelanku yang tidak pernah benar-benar berubah.

“Mas lagi-lagi belum makan?”

“Itu karena pekerjaannya belum selesai.”

“Mas janji minggu lalu mau mengurangi kerja tambahan.”

“Aku cuma bantu sebentar.”

“Sebentar dari sore sampai malam?”

Lalu seperti biasa… Abian akan tertawa kecil. Mendekat. Merayuku dengan suara lembut. Dan akhirnya pertengkaran kecil kami selalu selesai dengan hangat.

Aku sebenarnya tahu. Beliau tidak pernah benar-benar berhenti memikirkan bagaimana caranya membuat hidup kami lebih baik. Kadang beliau masih membantu toko bangunan. Kadang mengisi kajian di luar kota kecil sekitar pondok. Kadang membantu administrasi milik kenalan Kyai. Apa saja dilakukan. Dan meski aku sering marah… aku juga tahu satu hal. Semua itu dilakukan karena beliau terlalu mencintaiku.

Namun ternyata… tekanan dalam rumah tangga kami tidak lagi datang hanya dari pekerjaan. Karena kali ini… yang datang adalah masa lalu.

Hari itu ada pengajian akbar di masjid besar dekat pondok. Aku datang bersama beberapa ibu-ibu pengajar lain. Masjid cukup ramai sore itu. Dan aku sama sekali tidak menyangka… akan melihat perempuan itu lagi.

Aku langsung mengenalinya. Meski sudah bertahun-tahun berlalu. Wajah cantik itu masih sama. Hanya terlihat lebih dewasa dan elegan sekarang. Gamisnya rapi. Caranya berbicara lembut. Dan dari penampilannya saja… sudah terlihat bahwa hidupnya berjalan sangat baik. Dadaku langsung terasa tidak nyaman. Karena aku tahu siapa dia. Perempuan yang dulu hampir menjadi istri Abian.

Aku berusaha mengalihkan pandangan. Berusaha fokus pada pengajian. Tapi entah kenapa… hatiku jadi tidak tenang sejak melihatnya.

Selesai pengajian, langit sudah mulai gelap. Aku berjalan p**ang sendirian melewati jalan kecil dekat masjid. Dan saat itulah… aku mendengar suara langkah dari belakang.

“Maaf…”

Aku menoleh pelan. Perempuan itu berdiri beberapa langkah dariku. Menatapku dengan sopan. Tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku gugup.

“Apakah kamu Nina?”

Dadaku langsung mencelos. Aku mengangguk kecil.

“Iya…”

Dia tersenyum tipis.

“Yang menikah dengan Abian?”

Aku kembali mengangguk. Dan kalimat berikutnya… langsung membuat langkahku terasa berat.

“Aku mantan calon istrinya dulu.”

Aku menggenggam tanganku kecil. Meski sebenarnya aku sudah tahu. Tetap saja mendengarnya langsung dari mulut perempuan itu terasa berbeda. Sangat berbeda.

“Aku pernah lihat kamu waktu acara perpisahan pondok dulu,” katanya pelan. “Tapi kita belum pernah benar-benar kenal.”

Aku hanya diam. Tidak tahu harus menjawab apa.

Dia melangkah sedikit mendekat.

“Jadi benar ya… Abian menikah denganmu.”

Entah kenapa… cara dia mengucapkan kalimat itu membuatku tidak nyaman. Seolah ada sesuatu yang sedang dibandingkan.

“Kenapa?” tanyaku pelan akhirnya.

Perempuan itu tersenyum kecil.

“Aku hanya penasaran.”

Tatapannya turun sebentar memperhatikan penampilanku. Lalu kembali ke wajahku.

“Perempuan seperti apa yang akhirnya dipilih Abian.”

Dadaku langsung terasa panas.

“Apa maksudnya?”

Dia menghela napas kecil.

“Tidak apa-apa.”

Tapi jelas sekali itu bukan “tidak apa-apa”. Karena beberapa detik kemudian… dia kembali bicara.

“Abian itu laki-laki yang sangat pintar.”

Aku diam.

“Dulu banyak orang yakin masa depannya akan bagus.”

Tatapannya lurus ke arahku.

“Dan sebenarnya… aku juga berpikir begitu.”

Aku mulai menggenggam ujung bajuku erat.

“Tapi sekarang aku dengar dia sampai bekerja ke sana kemari.”

Suaranya terdengar tenang. Justru terlalu tenang.

“Pulang malam.”

“Badan makin kurus.”

“Kerja tambahan di mana-mana.”

Air mataku mulai terasa panas. Karena semua itu memang benar.

“Aku jadi berpikir…” Dia tersenyum tipis. “…hidupnya pasti berat sekali sekarang.”

Aku menatapnya pelan. Dan entah kenapa… aku mulai merasa sesak.

“Kalau dulu dia mau menungguku,” lanjutnya, “mungkin hidupnya tidak akan sesulit itu.”

Dadaku langsung mencelos keras.

“Aku sudah punya pekerjaan tetap sekarang.”

Dia berkata tanpa nada sombong. Tapi justru itu yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan.

“Aku juga punya banyak relasi.”

Tatapannya kembali menatapku dari atas sampai bawah.

“Setidaknya Abian mungkin tidak perlu bekerja terlalu keras seperti sekarang.”

Aku menahan napas pelan.

“Apa kamu tidak merasa bersalah?”

Kalimat itu akhirnya keluar juga. Dan tepat di saat itu… aku merasa seperti dihantam sesuatu.

“Saya…”

Suaraku langsung melemah. Perempuan itu kembali bicara sebelum aku selesai.

“Aku hanya kasihan sama dia.”

Kasihan. Lagi-lagi kata itu. Dan entah kenapa… itu terasa jauh lebih menyakitkan dibanding hinaan apa pun.

“Abian dulu punya masa depan yang bagus.”

Tatapannya tajam tapi tetap tenang.

“Sayang sekali sekarang dia harus mengorbankan dirinya begitu banyak.”

Air mataku mulai menggenang. Karena semua perkataannya terasa benar. Terlalu benar.

Aku menunduk cepat. Takut perempuan itu melihat mataku yang mulai basah. Dan di saat itulah… untuk pertama kalinya setelah menikah dengan Abian… aku mulai benar-benar takut. Takut kalau ternyata… aku memang bukan perempuan yang pantas berada di samping laki-laki itu. Karena mungkin… jika Abian menikah dengan perempuan seperti dirinya… hidup laki-laki itu memang akan jauh lebih mudah dibanding hidup bersamaku.

Bersambung...

Judul: “Kutitipkan Takdirku Dalam Do'a”

Bab 12 — Kabar Buruk Jam di dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul lima sore, namun Alfan belum juga sampai. Yumi be...
01/06/2026

Bab 12 — Kabar Buruk

Jam di dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul lima sore, namun Alfan belum juga sampai. Yumi berdiri di dekat jendela sambil melipat tangan di dada dengan wajah kesal. Sejak tadi dia terus melihat ke arah gerbang rumah, menunggu mobil suaminya muncul, tapi nihil.

“Lama banget sih…”

Wanita itu mendecih pelan lalu kembali duduk di sofa. Ponselnya berkali-kali dibuka, tidak ada pesan baru, tidak ada kabar. Dan entah kenapa itu justru membuat emosinya semakin naik.

“Nyetir doang kenapa susah banget,” gumamnya kesal.

Padahal dia tahu sendiri jarak kota tempat Alfan bekerja cukup jauh. Perjalanan p**ang-pergi bisa memakan waktu berjam-jam, apalagi cuaca sedang buruk sejak siang tadi. Namun rasa kesal membuat Yumi tetap merasa dirinya paling benar.

“Harusnya dari tadi sampai.”

Dia mengambil ponselnya lalu mencoba menelepon Alfan. Tidak aktif. Yumi langsung mendecih lebih keras.

“Hebat. HP juga mati.”

Mbak Rina yang sedang menemani Naira bermain sampai melirik hati-hati.

“Ibu belum makan dari tadi…”

“Nanti aja.”

Yumi kembali berdiri lalu mondar-mandir kecil di ruang tamu. Semakin lama menunggu, semakin buruk suasana hatinya.

“Dasar nyusahin.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

“Ceroboh banget sih jadi orang.”

Dia bahkan mulai mengomel sendiri sambil membuka media sosial di ponselnya. Melihat teman-temannya yang sedang nongkrong di kafe justru membuat suasana hatinya makin buruk. Kalau saja Alfan tidak membawa kunci mobilnya, dia pasti sudah pergi sejak tadi.

“Selalu aja bikin repot…”

Namun di tengah omelannya sendiri, ada rasa aneh yang mulai muncul perlahan. Karena biasanya, seberapa sibuk atau sejauh apa pun pergi, Alfan selalu memberi kabar. Dan lelaki itu juga tidak pernah mematikan ponselnya begitu lama. Yumi menggigit bibir bawahnya pelan. Perasaannya mulai tidak nyaman, tapi dia berusaha mengabaikannya.

Sampai akhirnya, ponselnya berdering. Nomor asing. Yumi langsung mengangkat tanpa pikir panjang.

“Halo?”

Namun suara di seberang sana terdengar formal dan asing.

“Selamat sore, apa benar ini keluarga Bapak Yudhistira Alfan?”

Jantung Yumi langsung berdetak aneh.

“Iya… saya istrinya.”

“Mohon maaf, Bu. Suami Anda mengalami kecelakaan dan saat ini sedang berada di rumah sakit.”

Dunia Yumi mendadak terasa hening. Seolah semua suara di sekitarnya menghilang begitu saja.

“A… apa?”

Tangannya mulai gemetar.

“Kondisi pasien sedang dalam penanganan dokter. Mohon keluarga segera datang.”

Ponsel di tangan Yumi hampir jatuh. Wajahnya langsung pucat.

“Nggak… nggak mungkin…”

Tubuhnya mulai bergetar hebat. Napasnya terasa sesak mendadak. Baru beberapa jam lalu Alfan masih berbicara dengannya, masih memohon agar dia tidak marah, masih menuruti permintaannya. Dan sekarang… kecelakaan?

“Rumah sakit mana?!” suara Yumi langsung pecah.

Orang di seberang sana menjelaskan alamat rumah sakit dengan cepat, namun kepala Yumi terasa berdengung. Dia bahkan hampir tidak bisa berpikir dengan benar. Pikiran buruk mulai bermunculan satu per satu. Bagaimana kalau Alfan terluka parah? Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Bagaimana kalau… Tidak. Yumi langsung menggeleng keras.

“Bu?” suara di telepon terdengar lagi.

“Iya… iya saya ke sana sekarang!”

Telepon terputus. Dan untuk pertama kalinya sejak tiga tahun menikah, Yumi merasa sangat takut kehilangan Alfan. Bukan ketakutan kecil, melainkan ketakutan yang membuat tubuhnya dingin dan gemetar.

“Ya Allah…”

Mbak Rina yang melihat wajah Yumi langsung panik.

“Ibu kenapa?”

“Mas Alfan…”

Suara Yumi bergetar.

“Kecelakaan…”

Perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat panjang. Yumi bahkan tidak berhenti menangis sejak tadi. Tangannya terus gemetar memegang ponsel. Kepalanya penuh. Dan semakin dia mengingat percakapan terakhir mereka, dadanya terasa semakin sesak.

“Aku balik.”

Kalimat itu terus terngiang di telinganya. Alfan kembali… karena dirinya memaksa. Kalau saja tadi dia tidak keras kepala. Kalau saja dia tidak memaksa lelaki itu p**ang hanya demi kunci mobil. Kalau saja—

“Nggak…”

Air matanya jatuh semakin deras. Untuk pertama kalinya, rasa bersalah mulai menghantam dirinya begitu keras.

Begitu sampai di rumah sakit, Yumi langsung turun terburu-buru. Rumah sakit itu terlihat besar dan ramai. Tangannya dingin. Langkahnya bahkan terasa tidak stabil saat masuk ke lobi utama.

“Saya mau cari pasien kecelakaan… Yudhistira Alfan!”

Petugas resepsionis langsung terlihat sedikit berubah ekspresi saat mendengar nama itu. Namun anehnya, wanita itu tidak langsung menjawab.

“Mohon tunggu sebentar, Bu.”

“Tunggu apa?! Saya istrinya!”

Suara Yumi mulai panik.

“Dia di mana sekarang?!”

Resepsionis itu tampak ragu-ragu sambil sesekali melihat ke arah belakang. Dan justru saat itulah, seorang perawat datang mendekat.

“Maaf, apakah Anda Ibu Yumi?”

Yumi langsung menoleh cepat.

“Iya!”

“Silakan ikut saya.”

“Suami saya gimana?! Dia sadar?! Dia luka parah?!”

Namun perawat itu tidak langsung menjawab. Dan entah kenapa, hal itu justru membuat jantung Yumi semakin takut.

Bersambung...

Address

Balikpapan

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rizky kiki97 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share