03/06/2026
BAB 28
(POV Nina)
Malam itu udara terasa dingin. Aku duduk di belakang Abian, memegang pelan ujung jaketnya saat motor kami melaju membelah jalanan desa. Lampu-lampu rumah makin jarang terlihat, sebab lokasi pengajian malam ini cukup jauh dari pondok.
“Dingin?” Suara Abian terdengar di sela angin.
“Sedikit.”
Beliau langsung menarik sedikit jaketnya ke belakang. “Dekat sini saja.”
Wajahku memanas menahan malu. Meski sudah setahun lebih kami menikah, hal sekecil apa pun darinya tetap membuat jantungku berdebar kencang.
Sesampainya di lokasi, halaman masjid sudah penuh sesak dengan kendaraan. Suara lantunan shalawat berkumandang lewat pengeras suara. Seperti biasa, jamaah laki-laki dan perempuan dipisah. Aku masuk ke bagian khusus wanita bersama ibu-ibu lain, sementara Abian menuju sisi seberang.
Pengajian berlangsung agak larut malam itu. Aneh rasanya, sepanjang acara hatiku terasa begitu tenang. Mungkin karena sudah lama kami tak berangkat bersama seperti ini bukan lagi sebagai ustadz dan santriwati, bukan p**a dua orang yang saling memendam rasa, melainkan sebagai suami istri.
Usai pengajian, jamaah mulai berhamburan keluar. Aku berjalan pelan menuju area parkir sambil mencari motor kami. Beberapa meter di depan, Abian sudah berdiri menunggu, matanya menyapu keramaian seolah sedang mencariku. Begitu pandangan kami bertemu, beliau tersenyum tipis, senyum sederhana yang selalu membuatku merasa menjadi satu-satunya yang dicari.
Aku berjalan menghampiri, namun tiba-tiba sebuah suara perempuan memecah suasana. “Abian?”
Langkahku terhenti seketika, dadaku menegang erat. Aku hafal suara itu.
Perempuan itu berjalan mendekat dari arah parkir mobil, tampak rapi dan anggun persis seperti saat terakhir kami berjumpa. Saat memandang Abian, senyumnya merekah hangat.
“Aku benar-benar tak menyangka bertemu kamu di sini.”
Abian tampak sedikit terkejut. “Oh… kamu?”
Aku masih diam berdiri agak jauh, hanya mengamati mereka berdua.
“Kamu sering ikut pengajian di sini?” tanya perempuan itu.
“Kadang-kadang.”
“Aku baru beberapa bulan pindah kerja ke kota dekat sini.”
“Oh ya?”
“Iya. Dunia memang terasa sempit ya.”
Ada rasa tak nyaman yang mulai merayapi dadaku. Cara mereka berbincang terasa begitu luwes, terlalu akrab seolah rentang waktu bertahun-tahun tak pernah memisahkan mereka sedikit pun. Yang paling menyakitkan, ia terus berbicara pada Abian seolah aku tak ada, atau justru sengaja mengabaikanku.
“Aku dengar kabar kamu kini makin sibuk.”
Abian tersenyum tipis. “Masih seperti biasa saja.”
“Kamu memang tak pernah mau diam semenjak dulu.” Perempuan itu terkekeh pelan. “Aku masih ingat, dulu kamu kerap lupa makan saat sedang sibuk bekerja.”
Dadaku terasa perih dan panas. Bahkan aku pun tahu, kebiasaan itu masih melekat pada diri Abian hingga kini. Aku menunduk, berusaha menepis rasa cemburu yang mulai menyelimuti. Sepertinya Abian sadar akan hal itu, karena tak lama kemudian ia menoleh ke arahku.
“Nina.”
Aku segera mendongak. “Ya, Mas?”
“Sini mendekat.”
Beliau melangkah menghampiri, lalu berdiri persis di sisiku, begitu dekat hingga aku merasa ada perlindungan yang menyelimuti. Untuk pertama kalinya sejak perempuan itu datang, aku merasa keberadaanku diakui.
“Oh, jadi ini dia.” Perempuan itu akhirnya memandangku, menatap sesaat lalu tersenyum tipis. “Pasti kamu Nina ya?”
Aku mengangguk kecil. “Iya, benar.”
Senyumnya kembali mengembang, namun entah kenapa terasa begitu dingin menusuk hati. Mungkin karena beberapa waktu lalu kami juga sudah pernah bertemu. Hanya saja dia berpura-pura seolah tidak kenal aku di hadapan Abian.
“Aku sempat mendengar kabar mengenai kalian berdua.”
Aku hanya diam. Tangan Abian pun perlahan menggenggam tanganku erat, gerakan sederhana yang seketika meredakan gejolak di dadaku.
“Jadi kalian datang berdua?” tanyanya lagi.
“Iya,” jawab Abian tenang.
“Baguslah akhirnya. Dulu Abian selalu p**ang sendirian usai acara malam, sampai aku kerap memarahinya karena tak mau menjaga diri.”
Aku menggigit pelan bibir bawahku. Sekali lagi ia berbicara seolah dialah orang yang paling mengenal Abian, dan hal itu membuatku merasa begitu kecil tanpa alasan yang jelas. Namun di tengah kecanggungan itu, Abian justru kembali menoleh padaku.
“Kamu sudah lelah?”
Aku sedikit terkejut. “Tidak, Mas.”
“Kalau begitu mari kita p**ang saja.”
Perempuan itu langsung memandang tajam ke arahnya. “Wah, apa aku sudah mengganggu waktumu?”
“Bukan begitu maksudku,” jawab Abian tetap santun namun bernada tegas. “Sudah terlalu larut malam.”
Perempuan itu akhirnya tersenyum tipis. “Baiklah kalau begitu.” Pandangannya kembali jatuh padaku, diucapkannya pelan, “Tolong jaga Abian dengan baik ya.”
Dadaku kembali menegang. Kalimat itu terdengar bukan sekadar pesan, melainkan sindiran, seolah selama ini aku tak pernah cukup menjaganya.
Setelah perempuan itu berlalu, suasana mendadak hening. Kami berjalan menuju motor tanpa sepatah kata pun. Saat Abian hendak memasangkan helm di kepalaku, aku tak sanggup lagi menahan perasaan.
“Mas masih merasa nyaman mengobrol dengannya ya?”
Gerakan tangannya terhenti seketika, lalu ia menatapku lekat-lekat. Tatapan itu selalu terasa begitu tenang, kontras dengan kekacauan hatiku sendiri.
“Ia hanyalah seseorang yang pernah aku kenal di masa lalu, Nina.”
Jawabannya ringkas, namun rasa tak nyaman di dadaku belum juga sirna. Melihatku masih menunduk diam, Abian perlahan mengangkat daguku hingga pandangan kami bertemu.
“Nina, dengarkan aku.” Ia tersenyum lembut sambil merapikan ujung jilbabku. “Jika aku masih ingin kembali ke masa lalu, aku takkan pernah membawa serta kamu p**ang bersamaku malam ini.”
Seketika jantungku berdebar kencang. Abian lalu menaiki motor, menatapku penuh kasih sayang.
“Ayo kita p**ang, Sayangku.”
Sekali lagi, hanya dengan kalimat sesederhana itu, ia berhasil meyakinkanku bahwa akulah satu-satunya yang dipilihnya.
Bersambung...
Judul: “Kutitipkan Takdirku Dalam Do'a”