Dokter Susie Susilawati, Sp.OG

  • Home
  • Dokter Susie Susilawati, Sp.OG

Dokter Susie Susilawati, Sp.OG Page ini adalah page official dari dr. Susie Susilawati SpOG. Anda akan mendapatkan info-info seputa

Distosia partus Kala II“Dok, ada pasien Dokter 2 hari yang lalu baru ke poli Dokter,” lapor bidan IGD.“Iya ada apa denga...
16/07/2026

Distosia partus Kala II

“Dok, ada pasien Dokter 2 hari yang lalu baru ke poli Dokter,” lapor bidan IGD.

“Iya ada apa dengan pasien itu Mbak?” tanyaku.

“Dia dirujuk oleh faskes 1 karena sudah dipimpin meneran selama 2 jam tidak lahir.”

Hah? Kenapa ya? Seingatku pasien ini taksiran berat janinnya tidak besar, hanya 3000 gram.
Panggulnya juga tidak sempit. Kepala sudah masuk panggul.

“Ketuban sudah pecah sejak 17 jam yang lalu Dok, warnanya putih keruh. Mulas sejak tadi sore. Pasien hamil pertama, 39 minggu. Pasien sudah diinduksi dengan oksitosin drip Dok. His 4-5x dlm 10 menit, pembukaan lengkap, kepala di H3, teraba kaput,” lanjut bidan IGD.

His (kontraksi) sudah bagus, ketuban juga sudah pecah. Berarti penanganan sudah maksimal, pikirku. Kalau memang lancar, harusnya sudah lahir. Kalau kucoba divakum, tidak bisa karena penurunan kepala belum memenuhi syarat.

“Ya sudah siapkan operasi saja. Sekarang yaa.” Kalau tidak cepat-cepat dioperasi, aku khawatir ada apa-apa dengan janinnya.

“Baik, Dok. Kami siapkan dulu timnya.”

Setelah mandi sebentar dan siap-siap, aku melajukan mobil. Untung jalanan tidak macet. Dalam waktu setengah jam aku sudah sampai di rumah sakit.

Tim sudah siap. Kami pun mulai bekerja diawali dengan doa agar ibu dan bayi selamat, tidak ada komplikasi. Terlebih mengingat pasien ini sudah 2 jam dipimpin meneran. Risiko operasi lebih besar dibanding jika pembukaan masih kecil.

Risiko dan komplikasi yang bisa terjadi adalah perdarahan akibat luka robek yang meluas pada luka sayatan di rahim. Karena pada kasus pembukaan lengkap dan kepala sudah turun ke pintu panggul bawah, dokter operator harus memasukkan tangan ke bawah untuk merogoh kepala bayi, menariknya ke atas, dan mengeluarkannya lewat sayatan di perut agar bisa dilahirkan. Akibatnya, luka sayatan di rahim bisa melebar ke samping. Jika tidak beruntung, robekan tersebut bisa sampai ke arteri uterina yang jika pembuluh darah tersebut terkena maka perdarahannya sangat hebat. Janin pun bisa mengalami asfiksia (sesak) jika terlalu lama di dalam rongga panggul, apalagi jika air ketuban sudah sedikit.

Setelah dinding perut dan rahim disayat, dengan berdebar kumasukkan tangan ke dalam rongga panggul dan dengan sekuat tenaga menarik ke atas kepala janin yang sudah turun ke bawah. Syukurlah tidak butuh waktu terlalu lama, kepala bayi lahir diikuti seluruh tubuh. Setelah plasenta lahir, aku menjepit rahim dengan beberapa alat agar tidak berdarah aktif. Kuperiksa, syukurlah tidak ada robekan dari luka sayatan rahim yang melebar sampai ke arteri uterina. Luka memang melebar, tapi tidak membahayakan. Bisa ditangani. Syukurnya bayi pun langsung menangis, dan segera ditangani oleh tim bayi. Berat bayi hanya 2800 gram.
Luka di rahim segera kujahit. Perdarahan diatasi. Rongga perut dibersihkan. Dinding perut dijahit kembali.

Kateter dipasang 24 jam, untuk mencegah retensio urin (pasien tidak bisa berkemih, yang mengakibatkan urine tertahan di kandung kemih) akibat persalinan yang lama.

2 hari kemudian ibu dan bayinya pulang dalam keadaan baik.

Tahukah kalian apa yang menyebabkan bayi tidak bisa lahir perva**nam? Karena air ketubannya tinggal sedikit dan pasien ini masih hamil pertama, sehingga jalan lahirnya masih kaku. Air ketuban dalam proses persalinan sangat penting, yaitu sebagai pelumas agar persalinan berjalan lancar. Pada pasien ini, air ketuban sedikit karena ketuban sudah pecah sejak 17 jam sebelum rumah sakit dan ketubannya keluar terus selama proses persalinan.

Jadi, apa yang harus dilakukan jika ketuban sufah pecah? Ibu-ibu jangan jalan-jalan ya. Berbaring saja di tempat tidur, untuk mencegah air ketuban keluar terus yang mengakibatkan air ketuban sedikit atau habis. Air ketuban sedikit apalagi habis bisa mengakibatkan kompresi tali pusat, yaitu tali pusat terjepit oleh dinding rahim yang mengakibatkan aliran darah
termasuk oksigen ke janin tidak lancar. Akibatnya, janin bisa sesak.

Siapa di sini yang ketubannya pecah dan akhirnya harus operasi karena air ketuban tinggal sedikit?

WRITTEN BY :
dr. Susie Susilawati, SpOG

“Dokter, ada bintil-bintil di kemaluan saya!”Seorang gadis cantik berusia sekitar 20-an duduk di hadapanku.“Dok, di kema...
13/07/2026

“Dokter, ada bintil-bintil di kemaluan saya!”

Seorang gadis cantik berusia sekitar 20-an duduk di hadapanku.

“Dok, di kemaluan saya ada bintil-bintil kecil,” ujarnya sedih.

Aku curiga ini kondiloma akuminata, suatu penyakit yang disebabkan oleh virus HPV, ditularkan melalui hubungan seksual.

“Mbak sudah pernah berhubungan intim?” tanyaku. Dokter harus tahu yaa masalah privasi seperti ini, karena akan mempengaruhi analisa dokter. Jadi, pasien harus jujur bicara kepada dokter. Kalau berbohong, nanti diagnosis bisa salah😬
Diagnosis salah, tata laksana tidak sesuai, pasien sulit sembuh. Pasien juga yang rugi.

Di luar dugaan, pasien ini jujur sekali. Mungkin terdorong rasa takut.

“Iya, Dok.. Saya sudah beberapa kali berhubungan intim.”

Subhaanallaah. Anak-anak zaman sekarang! Kenapa zina sudah menjadi suatu hal yang lazim yaa😮‍💨 Nggak malu sama jilbabnya, Mbak? omelku dalam hati.

Mau marah, tapi harus kutahan. Kalau dokter emosi, nanti pasien takut dan tidak mau berterus terang😬

Sambil menahan gejolak rasa, aku berusaha berbicara dengan tegas tapi tetap tenang. “Karena Mbak sudah pernah berhubungan seksual, saya harus melakukan pemeriksaan inspekulo. Mbak tidak keberatan?”

“Nggak papa, Dok. Saya juga mau sekalian pap smear dan tes HPV DNA!”

Wah! Well informed sekali pasien ini! Jarang kujumpai seperti ini, pasien yang begitu peduli dengan kesehatan organ reproduksinya.
Pemeriksaan pap smear dilakukan untuk melihat apakah seseorang terkena kanker serviks atau lesi pre kanker serviks.
Sedangkan HPV DNA dikerjakan untuk mengetahui apakah seseorang terkena infeksi HPV.

Pasien berbaring di kursi ginekologi.
Kuperiksa bagian luar organ reproduksinya. Tidak ada kondiloma. Bintil-bintil yang dikeluhkan pasien juga tidak ada.
Kuambil spekulum. “Dilemesin aja yaa. Paha dibuka lebar. Jangan angkat-angkat bokong, “perintahku.

Pasien mengikuti dengan patuh. Kupasang spekulum cocor bebek. Tampaklah leher rahim. Licin. Tidak ada tanda-tanda kanker serviks. Kuambil brush yang disodorkan asisten. Dengan alat tersebut, leher rahim kuusap. Kumasukkan brush ke dalam cairan yang sudah disediakan, dan kuguncang-guncang sikat tersebut agar sel2 leher rahim masuk ke dalam media cairan.

“Pemeriksaan sudah selesai. Hasilnya ditunggu beberapa hari lagi, yaa,” ujarku.

“Jangan berhubungan intim lagi yaa sebelum menikah, supaya tidak terkena infeksi!” tandasku.

“Baik, Dok. Terima kasih,” pasien itu berlalu setelah membubuhkan tanda tangan persetujuan tindakan.

Beberapa hari kemudian.

“Dok, hasil labnya sudah ada,” lapor asisten.

Kubaca lembaran itu. Hasil thin prep : tidak ada keganasan.
Hasil HPV DNA : virus HPV DNA tidak terdeteksi.

“Hasilnya bagus,” jawabku. Asisten segera menyampaikan hal tersebut ke pasien.

Kamu beruntung, Mbak! ujarku dalam hati.
Tapi lolos dari infeksi HPV belum tentu lolos dari infeksi yang lain kalau kamu tak berhenti dan tak bertaubat, batinku.

Untuk yang belum menikah, jangan coba-coba melakukan hubungan seksual yaa. Selain dosa besar, perbuatan tersebut dapat menyebabkanmu terkena macam-macam penyakit menular seksual. Bukan hanya kondiloma akuminata (jengger ayam kata orang), tapi juga bisa HIV-AIDS, hepatitis B dan C, sifilis, gonore, herpes dan parasit seperti trikomoniasis. Kanker serviks juga bisa mengintai!

Semoga bermanfaat.
Written by :
dr. Susie Susilawati, SpOG

10/07/2026

Siapa bilang semua ikan bagus utk ibu hamil?

Aku bersiap melakukan USG. Setelah perut  dilumuri jelly secukupnya,  probe kuletakkan di perut bawah pasien.“Bu, ini ke...
09/07/2026

Aku bersiap melakukan USG.
Setelah perut dilumuri jelly secukupnya, probe kuletakkan di perut bawah pasien.

“Bu, ini kepala yaa. Kepala bayinya ada di bawah,” infoku.

“Jenis kelaminnya apa, Dok?” tanya pasien.

“Bu, saya baru liat kepalanya, belum jalan sampai ke bokong,” ujarku geli. Kebanyakan pasien memang nggak sabar untuk menanyakan jenis kelamin.

“Gerakan janinnya bagus. Air ketuban cukup. Letak plasenta bagus, tidak menutupi jalan lahir. Taksiran berat janin sekian,” lanjutku lagi.

Aku tahu, sudah saatnya mencari jenis kelamin.
“Jenis kelaminnya laki-laki, Bu,” ujarku lagi.

Pasien terdiam. Kalau sudah begitu, artinya dia kecewa karena tidak sesuai harapan.

“Kenapa Bu? Sudah punya anak laki-laki ya?”

“Iya Dok.. 2 anak saya sebelumnya laki-laki.”

“Oh ya sudah Bu.. Yang penting bayinya sehat dan jadi anak yang sholih. Nanti Ibu gampang kok bisa punya anak lagi. Kan sebelumnya Ibu melahirkan normal terus. Jadi nggak masalah kalau mau hamil lagi..”

“Ah nggak Dok.. Sudah cukup. Nggak mau hamil lagi ah,” pasien tersenyum kecut.

Sekarang ngomongnya begitu. Tapi nanti pasti hamil lagi😃
Itu pengalamanku sih. Gimana menurut Ibu2?😀

Pasien yang patuhSaat sedang memeriksa pasien di lantai 1, telpon berdering. Mengabari ada pasien di lantai 4. Kok dipis...
07/07/2026

Pasien yang patuh

Saat sedang memeriksa pasien di lantai 1, telpon berdering. Mengabari ada pasien di lantai 4. Kok dipisah-pisah begitu ya pasiennya? Iya, supaya dokternya olahraga, banyak jalan😀 Nggak juga sih. Lantai 1 untuk pasien BPJS. Lantai 4 untuk pasien eksekutif😊

Setelah selesai dengan pasien di lantai 1, aku berjalan dan naik lift ke lantai 4.
Pasien di poli eksekutif rupanya seorang perempuan berusia sekitar 55 tahun.

“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” sapaku tersenyum setelah duduk berhadapan dengan pasien. Jemariku sudah siap di keyboard, untuk mengetik keluhan pasien. Jadi dokter jaman now harus punya skill mengetik juga. Untung dulu waktu SMP ada pelajaran mengetik, jadi sampai sekarang jemariku masih hafal letak-letak huruf di keyboard dan bisa mengetik dengan lumayan cepat.

“Saya sudah menopause 1 tahun. Dokter pernah bilang, kalau sudah tidak haid 1 tahun, spiralnya boleh dilepas,” jawab pasien.

Iya benar. Aku pernah mengatakan hal itu kepada pasien ini. Ibu ini patuh rupanya.

Wah, mudah-mudahan nggak susah, doaku dalam hati. Kalau sudah menopause, kadang susah melepas IUD nya. Apalagi kalau IUD nya sudah lama terpasang dan tidak terlihat benangnya.

Langkah pertama, USG transva**nal dulu. Untuk melihat di mana letak IUD-nya dan ke mana arah rahimnya. Jadi nanti memudahkan pencabutan spiralnya.

Langkah kedua, pasang spekulum cocor bebek yang sering ditakuti ibu-ibu. Sebenarnya nggak usah takut ya Bun. Pasienku yang ini aja nggak takut, padahal dia sudah menopause. Kalau menopause va**nanya kering, otomatis lebih seret dan nyeri kalau dimasukkan spekulum. Tapi tenang saja. Dokter pasti melumuri spekulum dengan jelly yang cukup, jadi tidak akan membuat nyeri dan tidak melukai va**na. Pasti tidak sakit kalau pasiennya rileks, tidak tegang, tidak mengangkat bokong dan tidak kaku.

Langkah ketiga, berdoa. Agar Allah memberi kemudahan dan kelancaran.

Kutampakkan leher rahim dengan spekulum. Leher rahimnya licin, tidak ada tanda-tanda kanker serviks. Tidak ada keputihan juga.
Dan di situlah, di ujung leher rahimnya, kulihat ada benang tersembul.

Langsung saja kutarik benang yang menyembul itu dengan alat. Dalam beberapa detik, IUD sudah keluar dengan mudahnya.

“Bu, sudah dilepas yaaa,” ujarku senang sambil memperlihatkan alat KB tersebut.

“Oh sudah ya Bu Dokter? Syukurlah..”

“Iya, sudah Bu.. Nggak lama kan..”

Pasien turun dari tempat tidur. Tidak ada wajah kesakitan sama sekali.
Setelah mengenakan pakaiannya, pasien mengucapkan terima kasih dan keluar dari ruangan.

“Dok, pasien yang di sini sudah nggak ada lagi, ya. Tapi masih ada beberapa pasien di lantai 1,” lapor asisten.

“Oh, OK.” Aku pun bergegas kembali ke bawah. Bolak balik kayak gosokan ya😃

Bidan kepala poli yang bertemu denganku menegur, “Dok, ada pasien di poli eksekutif.”

“Oh iya, sudah.”

“Sudah dikerjakan Dok? Kata pasiennya dia mau lepas IUD. Dia sudah menopause.”

Luar biasa yaa kepala poli bisa tahu hal-hal kecil seperti ini🥰

“Sudah selesai, Mbak,” jawabku tersenyum sumringah.

“Wuih cepet banget, Dok. Biasanya kan kalau sudah menopause agak susah ya Dok..”

“Iya Mbak. Ini alhamdulillah ada benangnya, jadi gampang tinggal ditarik.”

Kami berdua tertawa senang.

Tuh kan Ibu-Ibu.. Lepas spiral tidak sesulit dan tidak semenyeramkan seperti yang dibayangkan orang. Jadi, nggak usah takut berlebihan.

Sebaiknya jika ingin pasang ataupun lepas IUD, dalam keadaan haid yaa. Supaya memudahkan tindakannya. Karena saat sedang haid, leher rahim terbuka, jadi alat gampang dimasukkan. Jika prosedurnya gampang, in syaa Allah tidak nyeri.
Dan untuk memudahkan dokter/bidan, Ibu-ibu harus rileks, tenang, santai dan tidak kaku. Bayangkan saja sedang makan makanan yang enak dan banyak, di pantai yang eksotis ditemani anak-anak dan suami tercinta🥰

Semoga bermanfaat.
Written by :
dr. Susie Susilawati, SpOG



*Foto hanya ilustrasi*

Post menopausal bleedingDalam pandanganku, pasien itu masih cantik. Penampilan dan gestur tubuhnya mencerminkan kelas me...
03/07/2026

Post menopausal bleeding

Dalam pandanganku, pasien itu masih cantik. Penampilan dan gestur tubuhnya mencerminkan kelas menengah atas. Usianya sudah di atas 50 tahun, menjelang 60.

Aku tersenyum seramah mungkin dan menyapa, “Selamat pagi, Bu.. Ada yang bisa saya bantu?”

Dengan wajah cemas pasien itu berkata,
“Ini Dok.. Saya sudah menopause 3 tahun. Tapi 2 bulan ini saya keluar flek. Kenapa ya Dok?”

“Saya periksa dulu ya Bu. Yuk, silakan berbaring di sebelah sana,” aku menunjuk meja ginekologi.

Asisten membantu dan mengarahkan pasien.

Aku duduk di kursi yang disediakan, menghadapi pasien. Kupakai sarung tangan. Spekulum cocor bebek kulumuri jelly yg banyak agar pasien tidak merasa nyeri. Asisten mengatur lampu agar aku bisa melihat dengan jelas.

“Ibu lemas saja yaa biar nggak sakit.” Perlahan kumasukkan spekulum. Sekilas, leher rahim licin. Tapi.. kok mudah berdarah ya? Kulakukan pemeriksaan dalam. Teraba leher rahim kaku. Ini bukan leher rahim yang normal.
Hmm.. Aku sudah curiga pada suatu diagnosis penyakit tertentu. Tapi aku tidak ingin membuat pasien cemas, jadi kusimpan sendiri diagnosis itu dan nanti akan kutulis di rekam medik.

“Ibu pernah pap smear?” tanyaku.

“Pernah, Dokter. Dulu, cuma sekali.”

Oh pantes.. Gumamku dalam hati. Pap smear harus rutin dikerjakan, minimal tiap 2 tahun. Kalau hanya 1x, jika ada kelainan tidak terdeteksi. Dan kalau kelainannya sudah seperti ini, tidak bisa lagi pap smear.

“Ibu, ini Ibu perlu dilakukan biopsi.”

“Biopsi? Apa itu Dok?”

“Nanti saya akan mengambil sedikit jaringan di leher rahim Ibu dan dikirim ke laboratorium patologi anatomi. Setelah itu jaringan akan diperiksa di bawah mikroskop. Dari situ akan terlihat apa penyakit Ibu.”

“Memangnya saya sakit apa Dok?”

Aku tidak mau memberitahu kecurigaanku, khawatir pasien syok. “Ibu dibiopsi dulu yaa. Nanti hasilnya akan kita ketahui 2 minggu setelah biopsi.”

Wajah pasien masih menyimpan pertanyaan, tapi ia menuruti instruksiku.

Formulir-formulir disiapkan, termasuk informed consent dan pemeriksaan laboratorium.

Beberapa hari kemudian biopsi dilakukan. Jaringan dikirim ke PA. Pasien pulang 6 jam setelah tindakan.

Dua minggu kemudian.

Pasien datang ditemani suami dan seorang wanita muda, yang kuperkirakan anaknya.

“Dok, pasien ini datang post kuret, mau baca hasil PA,” ujar asisten. Ia dengan tangkas membuka hasil penunjang medis di komputer.

Kubaca datanya. Dan sesuai dugaanku, hasilnya adalah kanker serviks😮‍💨

“Pak, Bu, ini saya menjelaskan ke Bapak dan Ibu, atau ke Bapak saja?” tanyaku sambil bergantian memandangi pasien dan suaminya. Aku khawatir pasien akan sangat terpukul jika aku yang menyampaikan.

Pasien menjawab, “Dokter bicara dengan suami saya saja. Saya keluar dulu.” Ia pun langsung keluar ruangan.

“Bagaimana hasilnya, Dok?” tanya suaminya.

Aku menatap wajah pria itu lurus-lurus. Ingin tahu reaksinya. “Pak, isteri Bapak terkena kanker leher rahim..”

Sekilas terlihat wajah bapak itu datar. Mungkin agak sedikit terkejut, tapi ia mampu menahan emosinya.

“Jadi harus bagaimana, Dokter?”

“Ini RS tipe C. Jadi tidak bisa menangani kasus kanker seperti ini. Isteri Bapak akan saya rujuk ke RS yang lebih tinggi, yaitu RS tipe B. Kalau RS itu tidak bisa menangani, akan dirujuk ke RS tipe A.
Secepatnya ke sana ya Pak, biar lebih cepat ditangani. Karena kalau stadium masih rendah, masih bisa dilakukan pengangkatan rahim saja. Tapi kalau sudah stadium lanjut, kemungkinan akan dilakukan kemoradiasi.”

Asisten menyiapkan surat rujukan yang langsung kuisi.

****

Kanker servix adalah kanker yang berasal dari leher rahim. Penyebabnya 99% adalah infeksi lama dan terus menerus oleh virus human papilloma (HPV) tipe onkogenik. Tipe onkogenik maksudnya adalah jenis virus HPV yang bisa menyebabkan kanker. Ada ratusan jenis virus HPV. Ada yang menyebabkan kanker seperti tipe 16 dan 18. Tapi ada juga yang tidak menimbulkan kanker, seperti tipe 11 dan 13.

Dari infeksi sampai menjadi kanker, perjalanannya panjang. Bukan hanya setahun atau 2, tapi bisa belasan tahun. Dan penyakit ini tidak langsung menjadi kanker, tapi melewati tahapan lesi pre kanker yang akan terdeteksi dengan pemeriksaan IVA, pap smear atau HPV DNA. Kalau sudah terkena penyakit ini, pasien akan sangat menderita. Bayangkan saja, jika melakukan hubungan badan dengan suami, biasanya akan berdarah. Pasien juga akan mengalami keputihan berbau busuk. Juga bisa disertai penurunan berat badan, nyeri pada panggul atau bengkak pada kaki. Biayanya pun tidak sedikit, terutama jika tidak menggunakan asuransi/BPJS.

Semoga bermanfaat.
Written by :
dr. Susie Susilawati, SpOG

26/06/2026

Hiperplasia endometrium

Pasien paruh baya itu datang sendirian. Keluhannya jika haid banyak dan lama. Kadang-kadang lama haidnya sebulan. Tiga bulan yang lalu haid selama 2 minggu. Dua bulan yang lalu pun begitu. Bulan ini, haid sudah 1 minggu belum berhenti. Darah banyak bergumpal-gumpal.

Ini sudah haid yang patologis, tidak normal. Tanpa banyak bertanya lagi, kulakukan pemeriksaan. Miss V dan leher rahim normal. Tidak ada tanda-tanda kanker leher rahim. Tampak darah keluar dari rahim.

Pada pemeriksaan USG transva**nal, tampak kedua indung telur normal. Dinding rahimnya tebal sekali, 28 mm.

“Ibu, ini ada penebalan dinding rahim. Untuk mengetahui mengapa dinding rahimnya menebal, harus dilakukan pengambilan jaringan. Setelah jaringannya diambil, dilakukan pemeriksaan oleh dokter menggunakan mikroskop. Dari situ akan terlihat apa penyebab penebalan dinding rahim Ibu. Apakah karena polip, kanker, atau lesi pre kanker (hiperplasia).”

Pasien itu berpikir sejenak. “Mengambil jaringannya itu seperti apa, Dok?”

“Pengambilan jaringan bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti histeroskopi dan kuret. Pada kasus Ibu, akan saya lakukan kuret ya Bu..”
Sebenarnya histeroskopi (teropong va**na/rahim) bisa dilakukan di RS ini, tapi sayangnya saat ini alat itu sedang rusak.

Aku menjelaskan prosedur kuret dengan bantuan alat peraga. Pasien mendengarkan dengan cermat.

“Baik, Dok. Saya mengikuti apa kata Dokter saja. Saya bersedia dikuret.”

Aku senang karena Ibu ini mudah mengerti dan cepat mengambil keputusan yang tepat. Biasanya untuk memutuskan suatu tindakan, seorang pasien membutuhkan waktu yang cukup lama.

Kami buatkan pengantar laboratorium dan konsultasi ke dokter anestesi.

Satu minggu kemudian, pasien dikuret. Jaringan dikirim ke patologi anatomi (PA). Dua minggu kemudian, pasien kontrol. Hasil laboratorium PA sudah ada.

“Bu, ini hasilnya yaa. Ibu terkena hiperplasia endometrium, ” ujarku sambil membuka hasil pemeriksaan penunjang di komputer.

“Apa itu Dok?”

“Hiperplasia endometrium adalah suatu kelainan / lesi pre kanker, di mana kelenjar-kelenjar yang ada di dinding rahim pertumbuhannya berlebihan dan tidak normal. Lesi ini bisa menjadi kanker rahim, meskipun pada kasus Ibu kemungkinannya tidak besar, hanya sekitar 1 persen.”

Besar risiko terjadinya kanker rahim tergantung pada jenis hiperplasianya, apakah atipik atau non atipik, simplek atau kompleks, mulai dari 1 persen sampai 29 persen. Risiko paling besar ada pada tipe atipik, terutama yg kompleks. Karena pertumbuhan dinding rahimnya makin tidak khas, tidak teratur, dan sangat berlebihan.

Perempuan seperti apa yang berisiko terkena kanker rahim (endometrium)? Risiko meningkat pada : obesitas, kelainan ovulasi seperti PCOS, genetik, penggunaan terapi hormon (estrogen) tanpa progestin, penggunaan obat tertentu jangka panjang seperti tamoxifen.

Pasien itu mendengarkan dengan seksama.
Aku menjelaskan kembali, “Pengobatannya ada beberapa cara. Yang pertama, menggunakan IUD yang mengandung hormon (mirena). Harga IUD ini mahal. Dulu saja sekitar 5 juta. Entah sekarang.

Yang kedua, pengobatan hormon. Jadi Ibu harus minum yang selama 3 sampai 6 bulan.

Ibu harus kontrol secara berkala jika Ibu memilih pengobatan pertama dan kedua. Dan ada prosedur kuret ulang untuk mengevaluasi perkembangan penyakit.

Yang ketiga, pengangkatan rahim. Angkat rahim adalah operasi besar, dan ada risikonya, baik risiko pembiusan maupun pembedahan.
Ibu diskusi saja dulu dengan suami. Kalau Ibu sudah ada keputusan, datang kembali ya.”

“Kalau angkat rahim risikonya apa Dok?”

Kujelaskan panjang lebar risikonya. Ada risiko pembiusan dan ada juga risiko pembedahan. Risiko pembiusan seperti pusing, mual muntah, dan lainnya. Risiko pembedahan antara lain cedera organ, perdarahan dan infeksi luka operasi.

Pasien termenung sejenak.

“Bagaimana Bu? Mau pilih pengobatan yang mana?”

Setelah terdiam beberapa saat, ibu itu berkata yakin, “Saya pilih obat dulu, Dok.”

Aku kembali mengetik di komputer.
“Baik Bu. Saya resepkan obatnya ya. Pengobatan akan diberikan sekitar 3-6 bulan, tidak boleh terputus. Ibu harus rajin kontrol yaa.”

“Baik, Dok.. Terima kasih..”

Pasien keluar dari ruangan dan menunggu obat di farmasi. Aku berharap tubuh pasien merespons baik terapi hormonalnya dan penyakitnya tidak progresif menjadi kanker rahim.

SEMOGA BERMANFAAT

WRITTEN BY :
dr. Susie Susilawati, SpOG

Address


Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dokter Susie Susilawati, Sp.OG posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

  • Want your business to be the top-listed Food & Beverage Service?

Share