16/07/2026
Distosia partus Kala II
“Dok, ada pasien Dokter 2 hari yang lalu baru ke poli Dokter,” lapor bidan IGD.
“Iya ada apa dengan pasien itu Mbak?” tanyaku.
“Dia dirujuk oleh faskes 1 karena sudah dipimpin meneran selama 2 jam tidak lahir.”
Hah? Kenapa ya? Seingatku pasien ini taksiran berat janinnya tidak besar, hanya 3000 gram.
Panggulnya juga tidak sempit. Kepala sudah masuk panggul.
“Ketuban sudah pecah sejak 17 jam yang lalu Dok, warnanya putih keruh. Mulas sejak tadi sore. Pasien hamil pertama, 39 minggu. Pasien sudah diinduksi dengan oksitosin drip Dok. His 4-5x dlm 10 menit, pembukaan lengkap, kepala di H3, teraba kaput,” lanjut bidan IGD.
His (kontraksi) sudah bagus, ketuban juga sudah pecah. Berarti penanganan sudah maksimal, pikirku. Kalau memang lancar, harusnya sudah lahir. Kalau kucoba divakum, tidak bisa karena penurunan kepala belum memenuhi syarat.
“Ya sudah siapkan operasi saja. Sekarang yaa.” Kalau tidak cepat-cepat dioperasi, aku khawatir ada apa-apa dengan janinnya.
“Baik, Dok. Kami siapkan dulu timnya.”
Setelah mandi sebentar dan siap-siap, aku melajukan mobil. Untung jalanan tidak macet. Dalam waktu setengah jam aku sudah sampai di rumah sakit.
Tim sudah siap. Kami pun mulai bekerja diawali dengan doa agar ibu dan bayi selamat, tidak ada komplikasi. Terlebih mengingat pasien ini sudah 2 jam dipimpin meneran. Risiko operasi lebih besar dibanding jika pembukaan masih kecil.
Risiko dan komplikasi yang bisa terjadi adalah perdarahan akibat luka robek yang meluas pada luka sayatan di rahim. Karena pada kasus pembukaan lengkap dan kepala sudah turun ke pintu panggul bawah, dokter operator harus memasukkan tangan ke bawah untuk merogoh kepala bayi, menariknya ke atas, dan mengeluarkannya lewat sayatan di perut agar bisa dilahirkan. Akibatnya, luka sayatan di rahim bisa melebar ke samping. Jika tidak beruntung, robekan tersebut bisa sampai ke arteri uterina yang jika pembuluh darah tersebut terkena maka perdarahannya sangat hebat. Janin pun bisa mengalami asfiksia (sesak) jika terlalu lama di dalam rongga panggul, apalagi jika air ketuban sudah sedikit.
Setelah dinding perut dan rahim disayat, dengan berdebar kumasukkan tangan ke dalam rongga panggul dan dengan sekuat tenaga menarik ke atas kepala janin yang sudah turun ke bawah. Syukurlah tidak butuh waktu terlalu lama, kepala bayi lahir diikuti seluruh tubuh. Setelah plasenta lahir, aku menjepit rahim dengan beberapa alat agar tidak berdarah aktif. Kuperiksa, syukurlah tidak ada robekan dari luka sayatan rahim yang melebar sampai ke arteri uterina. Luka memang melebar, tapi tidak membahayakan. Bisa ditangani. Syukurnya bayi pun langsung menangis, dan segera ditangani oleh tim bayi. Berat bayi hanya 2800 gram.
Luka di rahim segera kujahit. Perdarahan diatasi. Rongga perut dibersihkan. Dinding perut dijahit kembali.
Kateter dipasang 24 jam, untuk mencegah retensio urin (pasien tidak bisa berkemih, yang mengakibatkan urine tertahan di kandung kemih) akibat persalinan yang lama.
2 hari kemudian ibu dan bayinya pulang dalam keadaan baik.
Tahukah kalian apa yang menyebabkan bayi tidak bisa lahir perva**nam? Karena air ketubannya tinggal sedikit dan pasien ini masih hamil pertama, sehingga jalan lahirnya masih kaku. Air ketuban dalam proses persalinan sangat penting, yaitu sebagai pelumas agar persalinan berjalan lancar. Pada pasien ini, air ketuban sedikit karena ketuban sudah pecah sejak 17 jam sebelum rumah sakit dan ketubannya keluar terus selama proses persalinan.
Jadi, apa yang harus dilakukan jika ketuban sufah pecah? Ibu-ibu jangan jalan-jalan ya. Berbaring saja di tempat tidur, untuk mencegah air ketuban keluar terus yang mengakibatkan air ketuban sedikit atau habis. Air ketuban sedikit apalagi habis bisa mengakibatkan kompresi tali pusat, yaitu tali pusat terjepit oleh dinding rahim yang mengakibatkan aliran darah
termasuk oksigen ke janin tidak lancar. Akibatnya, janin bisa sesak.
Siapa di sini yang ketubannya pecah dan akhirnya harus operasi karena air ketuban tinggal sedikit?
WRITTEN BY :
dr. Susie Susilawati, SpOG