31/03/2026
Dalam perspektif psikologi, kondisi ini sering berkaitan dengan apa yang disebut sebagai learned helplessness dan cognitive overload. Ketika seseorang merasa tidak memiliki kendali terhadap bagaimana ia bekerja—terlalu banyak aturan, prosedur yang berbelit, atau ekspektasi yang tidak rasional—energi mentalnya terkuras untuk “memahami sistem” daripada menyelesaikan tugas itu sendiri. Akibatnya, motivasi menurun, muncul rasa frustrasi, bahkan dapat berkembang menjadi kelelahan emosional (burnout). Ini bukan karena individu lemah, tetapi karena sistem tersebut tidak selaras dengan kebutuhan dasar manusia: otonomi, kejelasan, dan makna.
Fenomena ini juga memperlihatkan konflik antara kebutuhan manusia akan fleksibilitas dengan struktur organisasi yang terlalu rigid. Dalam praktik klinis, saya melihat banyak klien yang sebenarnya kompeten dan berdedikasi, tetapi kehilangan semangat karena merasa terjebak dalam aturan yang tidak memberi ruang untuk bernapas. Ketika seseorang harus terus-menerus “menyesuaikan diri” dengan sistem yang tidak manusiawi, maka tubuh dan pikiran akan merespons dengan kelelahan, kecemasan, bahkan penolakan terhadap pekerjaan itu sendiri.
Solusi praktis yang teruji adalah dengan mengembalikan rasa kendali secara bertahap. Pertama, identifikasi mana aturan yang benar-benar wajib dan mana yang masih bisa dinegosiasikan—ini membantu mengurangi beban persepsi. Kedua, gunakan teknik cognitive reframing: alihkan fokus dari “aturan menyulitkan” menjadi “bagaimana saya bisa bekerja lebih efisien di dalam batas ini.” Ketiga, terapkan jeda mental terstruktur (misalnya teknik 50-10: 50 menit kerja, 10 menit istirahat) untuk mencegah kelelahan akumulatif. Terakhir, jika memungkinkan, komunikasikan secara asertif kepada atasan atau sistem tentang hambatan yang dirasakan—banyak perubahan organisasi justru berawal dari suara individu yang berani menyampaikan realitasnya.