Huruf suci Ongkara melambangkan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) atau Brahman dan selalu bersinar menyinari semua makluk agar mendapatkan anugrah-Nya.
2. Warna Hitam dan Putih dalam lingkaran bermakna ketegasan dan keberanian. Serta sebagai bentuk penetralisir agar pertentangan unsur negative dan positif melebur tanpa saling mempengaruhi, sehingga ketentraman dan kedamaian terwujud.
3. Satwika, Satwam atau Sattwa memiliki arti perilaku manusia yang wajar, tenang, bijaksana, jujur, baik, pandai dan bersih serta kualitas kebaikan atau kemurnian, yang paling tinggi. Kata Satwika, juga kita jadikan sebagai singkatan dari Satya ing Sawitra lan Sewaka Dharma, setia pada persaudaraan dan selalu mengabdi pada Dharma.
4. Tulisan Satwika dalam aksara Bali menandakan logo ini diterbitkan yakni di Pulau Bali, dimana pemakainya diharapkan melestarikan kekayaan budaya dan sastra masing-masing daerah. Akan ada tulisan Satwika dalam Huruf Jawa, Sunda, dsb yang disesuaikan dengan keragaman kekayaan sastra asli Hindunesia.
5. Bagian luar menunjuk kepada delapan penjuru yang bermakna agar sifat sifat kebaikan atau sattwa menyebar keseluruh penjuru sekaligus menunjukkan sifat ketelatenan, konsentrasi daya pikir dan seni dalam menciptakan produk, jasa ataupun layanan.
6. Butiran butiran dalam lingkaran berjumlah 33 melambangkan Dewa Dewi dalam kitab suci Weda dengan tujuan utama mendapat karunia dan perlindungan dari para Dewa semuanya.
7. Tulisan “PUSKOR HINDUNESIA” sebanyak tujuh kali merupakan singkatan nama organisasi Pusat Koordinasi Hindu Indonesia. Bahwasannya pelayanan kita dalam membangun kesadaran Hindunesia ini berlanjut tanpa henti, selama 7 hari.
8. Bentuk bagian dalam seperti roda yang memilki makna perputaran hukum alam (rta) dengan siklusnya, Tri Kona (Utpeti, Stiti, Pralina) menjadi penyemangat dinamika Hindunesia untuk menghasilkan sesuatu yang semakin sempurna dengan dilandasi atas kesucian dan keseimbangan sekala niskala.