05/05/2026
Di sebuah sudut Banyuwangi, lahirlah cahaya kecil bernama Yasmin Najwa Falihah. Di usianya yang baru 9 tahun, ia telah menorehkan prestasi luar biasa sebagai Juara 1 Hafiz Indonesia 2025. Pada malam puncak Wisuda Akbar yang disiarkan 30 Maret 2025, Yasmin berdiri teguh dengan ketenangan, mengungguli finalis lainnya dengan perolehan nilai tertinggi: 280 poin.
Namun kemenangan ini bukan sekadar tentang angka.
Di balik senyumnya, Yasmin menyimpan perjalanan yang tidak mudah. Sejak kecil, ia harus kehilangan penglihatannya akibat retinoblastoma—penyakit kanker mata yang membuat kedua bola matanya harus diangkat. Dunia yang gelap tak pernah memadamkan semangatnya. Justru dari kegelapan itu, ia menemukan cahaya melalui Al-Qur’an.
Dengan penuh kesabaran, Yasmin menghafal ayat demi ayat bukan dengan melihat, melainkan dengan mendengar. Suara lantunan Al-Qur’an dari MP3 menjadi “mata”-nya, dan bimbingan sang ibu, Nina Nur Aminah, menjadi penuntunnya. Ia mengulang, menirukan, dan menyimpan setiap ayat dalam hatinya.
Saat meraih juara, hafalannya telah mencapai 6 hingga 7 juz. Namun bagi Yasmin, itu baru permulaan. Ia memiliki mimpi besar—menghafal 30 juz Al-Qur’an. Bukan demi pujian, melainkan untuk mempersembahkan “mahkota kemuliaan” bagi kedua orang tuanya di akhirat kelak.
Lingkungan keluarganya di Pondok Pesantren Darul Falah turut menjadi sumber kekuatan. Kedua kakaknya yang juga hafidz 30 juz menjadi inspirasi nyata bahwa impian itu bisa diraih.
Sebagai bentuk penghargaan, Yasmin menerima hadiah yang luar biasa: uang tunai Rp100 juta, paket umroh untuk tiga orang, paket haji untuk satu orang, dan trofi kemenangan. Namun lebih dari itu, ia telah memenangkan hati banyak orang.
Kisah Yasmin bukan hanya tentang kemenangan di sebuah panggung. Ia adalah simbol keteguhan, harapan, dan keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih kemuliaan.
Dari Banyuwangi, Yasmin mengajarkan satu hal penting kepada kita semua:
bahwa cahaya sejati tidak selalu datang dari mata