Jual Beli Kambing Etawa

Call Website

Jual Beli Kambing Etawa Etawa crossbred goat (PE) farm, Mojosari duck, Alabio duck and Madura cattle, Pelaihari area, Tanah Laut, South Kalimantan, Indonesia

Ryu Kintaro mulai membuat konten sejak usia 7 tahun. Awalnya hanya iseng, sampai salah satu kontennya tentang berjualan ...
29/09/2026

Ryu Kintaro mulai membuat konten sejak usia 7 tahun. Awalnya hanya iseng, sampai salah satu kontennya tentang berjualan susu menggunakan mobil mewah menarik perhatian banyak orang dan membuat namanya semakin dikenal. Dari sana, kanal YouTube-nya terus berkembang hingga mencapai sekitar 1,2 juta subscriber.

Menariknya, kesibukan Ryu bukan hanya soal membuat konten. Ia tetap menjalani sekolah dan berbagai kegiatan seperti belajar Mandarin, matematika, renang, piano, hingga bahasa Inggris. Di tengah jadwal tersebut, ia juga menjalankan bisnis jamu. Rahasianya bukan karena semua aktivitas terasa mudah, tetapi karena ia menikmati apa yang sedang dijalani.

Ryu juga menjadi founder Jamu Cap Nyonya. Ide bisnis tersebut muncul dari pengalaman sederhana: ia kurang menyukai rasa jamu yang pahit. Alih-alih hanya mengeluh, Ryu justru mencoba mencari solusi dengan membuat jamu yang menurutnya lebih modern, sehat, dan memiliki rasa yang lebih mudah diterima anak muda.

Perjalanan membangun personal brand tentu tidak selalu mulus. Ryu pernah mengalami akun media sosialnya disuspend. Namun, ia tidak berhenti di sana. Ia membuat akun baru dan kembali membangun dari awal. Ketika menghadapi komentar negatif, Ryu memilih untuk tidak terlalu memikirkannya dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi agar dirinya bisa berkembang.

Dari kisahnya, terlihat bahwa Ryu belajar menghadapi kegagalan sejak usia sangat muda. Baginya, komentar negatif tidak selalu harus dibalas dengan emosi. Ada kalanya kritik cukup didengarkan, dipilah, lalu digunakan untuk memperbaiki diri. Sikap seperti ini membuat tantangan tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti.

Hal yang paling menarik muncul ketika Ryu ditanya apakah dirinya merasa kehilangan masa kecil karena terlalu banyak aktivitas. Jawabannya sederhana, tetapi cukup dalam: ia lebih memilih kehilangan masa kecil daripada kehilangan masa depan. Pernyataan itu menggambarkan bagaimana ia melihat waktu, kesempatan, dan proses membangun sesuatu sejak dini.

Kisah Ryu Kintaro menunjukkan bahwa usia tidak selalu menentukan seberapa besar seseorang bisa belajar dan berkarya. Namun, setiap anak tetap memiliki kondisi, minat, dukungan keluarga, dan kebutuhan yang berbeda. Yang bisa dipetik bukan sekadar angka 1,2 juta subscriber atau sebuah bisnis, melainkan keberanian mengubah masalah sederhana menjadi ide, terus belajar, serta tidak berhenti hanya karena pernah gagal.

Bagi Mas Eko Ary Priambodo dari Tulungagung, bisnis ternyata tidak selalu dimulai dari modal besar. Saat masih kuliah, i...
29/09/2026

Bagi Mas Eko Ary Priambodo dari Tulungagung, bisnis ternyata tidak selalu dimulai dari modal besar. Saat masih kuliah, ia menyisihkan uang bulanan sedikit demi sedikit hingga mampu membeli sebuah printer. Dari sana, ia mulai membuka jasa printing untuk teman-teman seangkatannya. Sederhana, tetapi menjadi langkah awal perjalanan bisnis yang dibangun secara mandiri.

Prinsipnya kemudian semakin jelas: jangan hanya mencari peluang, tetapi ciptakan peluang dari masalah yang kita alami sendiri. Salah satu contohnya muncul ketika ia mengelola angkringan dan mengalami listrik padam. Wi-Fi ikut terganggu, padahal koneksi tersebut dibutuhkan untuk aktivitas usaha. Masalah sederhana itu justru membuka pikirannya pada kebutuhan akan cadangan listrik yang praktis.

Dari pengalaman tersebut, Mas Eko mulai serius mengembangkan bisnis UPS atau Uninterruptible Power Supply, perangkat yang dapat menyediakan daya cadangan ketika listrik utama terputus. Targetnya bukan sekadar menjual unit, tetapi memodifikasi sistem agar lebih sesuai untuk kebutuhan perangkat seperti Wi-Fi, CCTV, dan komputer milik UMKM. Ia bahkan mempelajarinya secara otodidak melalui berbagai sumber daring.

Menariknya, Mas Eko tidak memilih perang harga sebagai strategi utama. Baginya, inovasi seharusnya menghadirkan nilai tambah, bukan sekadar membuat harga produk lebih murah daripada kompetitor. Karena itu, ia berusaha memberikan layanan yang membuat pelanggan merasa lebih terbantu, mulai dari konsultasi hingga memberikan pemahaman mengenai cara penggunaan perangkat agar tidak sekadar membeli lalu kebingungan ketika mengoperasikannya.

Salah satu bentuk pelayanan yang ia tekankan adalah garansi unit. Jadi, ketika terjadi masalah, pelanggan mendapatkan perhatian terhadap unitnya, bukan sekadar diarahkan pada proses perbaikan. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa menjual produk teknologi bukan hanya soal spesifikasi, tetapi juga soal membangun kepercayaan. Pelanggan membutuhkan solusi yang mudah dipahami dan layanan yang bisa diandalkan.

Perjalanan itu tentu tidak selalu mulus. Saat masih kuliah, Mas Eko pernah mengalami pengalaman pahit ketika tertipu dalam bisnis online hingga kehilangan uang yang tersisa. Namun, menurut ceritanya, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia memilih kembali bekerja dan membangun dari apa yang masih dimiliki, dengan prinsip untuk tidak bergantung pada bantuan modal orang tua.

Dari kisah Mas Eko, ada satu pelajaran yang kuat: peluang bisnis bisa muncul dari masalah yang kita temui setiap hari. Namun menemukan masalah saja belum cukup. Dibutuhkan kemauan untuk belajar secara serius, keberanian mencoba, inovasi yang memberi nilai tambah, dan pelayanan yang membuat pelanggan percaya. Karena pada akhirnya, bisnis bukan hanya tentang menjual barang, tetapi tentang menemukan kebutuhan lalu menghadirkan solusi yang benar-benar berguna.

29/09/2026

Para padam api

Bagi sebagian orang, p**ang kampung mungkin berarti kembali mencari pekerjaan. Namun bagi Pak Lukman Nurwahid, kep**anga...
29/09/2026

Bagi sebagian orang, p**ang kampung mungkin berarti kembali mencari pekerjaan. Namun bagi Pak Lukman Nurwahid, kep**angan ke Kebumen justru menjadi awal perjalanan baru sebagai peternak perkutut warna. Ia memulai usaha dengan sangat sederhana, hanya dari 2 pasang burung, lalu mengembangkannya sedikit demi sedikit.

Pak Lukman menyebut prinsipnya sebagai “ilmu rayap”. Seperti rayap yang bekerja perlahan tetapi terus-menerus, ia tidak terburu-buru mengejar hasil besar. Dari 2 pasang, kandang terus bertambah hingga kini mencapai sekitar 700 kandang. Baginya, menjalani usaha dengan sabar dan rasa senang menjadi bagian penting agar prosesnya bisa bertahan dalam jangka panjang.

Salah satu alasan perkutut menarik dijadikan usaha sampingan adalah perawatannya yang relatif praktis. Menurut Pak Lukman, pakan dan minum dapat disiapkan untuk beberapa hari, bahkan disebut bisa bertahan hingga sekitar 4 hari. Meski begitu, kebutuhan perawatan tetap harus disesuaikan dengan kondisi kandang dan jumlah burung agar kesehatan ternak tetap terjaga.

Pak Lukman memilih fokus pada perkutut warna, seperti cemani, silver, kapas, dan putih lurik. Menurut pengalamannya, jenis warna memiliki peminat dan permintaan pasar yang lebih stabil dibandingkan perkutut yang lebih berorientasi pada suara atau anggungan. Pilihan fokus pasar inilah yang kemudian menjadi salah satu bagian dari strategi usahanya.

Dari sisi pemasaran, perjalanan Pak Lukman juga ikut berubah. Pada awalnya ia mengandalkan pengepul untuk menjual hasil ternak. Kini ia mulai memanfaatkan penjualan online dan menurut penuturannya rata-rata bisa menjual sekitar 300 ekor anakan per bulan ke berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Jambi, Bali, hingga Medan. Angka tersebut merupakan pengalaman yang disampaikan dalam video, sehingga hasil setiap peternak tentu bisa berbeda.

Manajemen kandang pun tidak dibiarkan begitu saja. Ukuran kandang yang digunakan sekitar 70 × 70 cm dengan tinggi 150 cm. Pak Lukman juga menekankan pentingnya ketelitian memantau telur agar tidak terjadi penumpukan telur dalam satu sangkar. Detail kecil seperti ini menjadi penting ketika jumlah kandang sudah mencapai ratusan.

Pesan Pak Lukman untuk anak muda sederhana: jangan malu menjalankan usaha ternak selama bidang tersebut bisa menghasilkan dan membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Kisahnya menunjukkan bahwa usaha tidak selalu harus dimulai dengan skala besar. Kadang, yang lebih penting adalah memulai dari kemampuan yang ada, bertumbuh secara bertahap, memahami pasar, lalu konsisten memperbaiki cara kerja.

Banyak anak muda bermimpi meninggalkan desa setelah lulus kuliah. Agus Wibowo justru mengambil jalan berbeda. Berasal da...
29/09/2026

Banyak anak muda bermimpi meninggalkan desa setelah lulus kuliah. Agus Wibowo justru mengambil jalan berbeda. Berasal dari keluarga petani di Desa Sumberejo, Magelang, ia memilih kembali ke desa dengan satu misi: mengubah pola pertanian kentang yang masih konvensional menjadi sistem yang lebih modern, mandiri, dan mampu memberi nilai tambah bagi petani.

Langkah pertamanya bukan sekadar membeli lahan lebih luas, tetapi mencari solusi dari persoalan yang ada di lapangan. Agus melakukan riset hingga mampu memproduksi bibit kentang unggul secara mandiri. Menariknya, ia tidak mengandalkan seminar untuk meyakinkan petani. Ia membuat demplot, lalu mengajak petani melihat langsung bagaimana bibit dan teknik tersebut menghasilkan tanaman serta panen yang lebih baik.

Dari sinilah kepercayaan mulai tumbuh. Ketika permintaan pasar dan industri mencapai sekitar 30 ton per bulan, Agus membangun kemitraan dengan kurang lebih 70 petani lokal. Sistemnya dibuat agar petani tidak berjalan sendirian: benih dan sarana produksi disediakan dalam kemitraan, sementara hasil panen memiliki kepastian pembelian berdasarkan harga kontrak yang disepakati sejak awal.

Produksi kentang pun tidak diarahkan ke satu pasar saja. Ada kentang sayur yang dipasarkan untuk kebutuhan lokal, dan ada kentang industri yang ditujukan untuk kebutuhan pengolahan. Kentang industri membutuhkan karakteristik tertentu, termasuk tekstur yang lebih putih dan kadar air lebih rendah agar menghasilkan tekstur renyah ketika diolah. Artinya, sejak awal petani perlu memahami bahwa kualitas produk harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Model seperti ini membuat pertanian tidak berhenti pada aktivitas menanam dan memanen. Ada mata rantai yang dibangun dari bibit, produksi, pendampingan petani, hingga pemasaran. Petani mendapatkan akses terhadap sarana produksi dan pasar, sementara kebutuhan industri dapat dipenuhi melalui produksi yang lebih terorganisasi. Tantangannya tentu tetap ada, karena hasil pertanian dipengaruhi cuaca, kualitas bibit, teknik budidaya, harga input, dan kondisi pasar.

Pesan Agus untuk generasi muda juga menarik: jangan takut kembali ke desa. Bagi lulusan pertanian, desa bukan sekadar tempat untuk menerapkan teori dari bangku kuliah, tetapi ruang untuk menemukan persoalan nyata dan menciptakan solusi. Daripada hanya bertanya, “Kerja apa setelah lulus?”, mungkin pertanyaan yang lebih besar adalah, “Masalah apa di sekitar saya yang bisa saya selesaikan?”

Kisah Agus Wibowo menunjukkan bahwa modernisasi pertanian bukan selalu tentang mesin mahal atau lahan yang luas. Modernisasi juga bisa dimulai dari bibit yang lebih baik, edukasi berbasis praktik, kemitraan yang jelas, kepastian pasar, dan keberanian membangun sistem bersama petani. Ketika anak muda membawa ilmu kembali ke desa dan mengubahnya menjadi solusi nyata, pertanian bisa menjadi ruang tumbuh bagi generasi baru sekaligus membuka peluang peningkatan nilai tambah bagi petani.

Di sebuah kandang bambu sederhana di kawasan Jember Selatan, tersimpan seekor sapi jantan yang langsung mencuri perhatia...
29/09/2026

Di sebuah kandang bambu sederhana di kawasan Jember Selatan, tersimpan seekor sapi jantan yang langsung mencuri perhatian. Bukan karena kandangnya mewah, tetapi karena ukuran tubuhnya yang luar biasa. Di usia baru 16 bulan dan masih nol poel, sapi ini sudah memiliki tinggi sekitar 143 cm dengan lingkar dada mencapai 210 cm. Dalam video, bobotnya diperkirakan berada di kisaran 750–800 kilogram.

Yang membuat sapi ini semakin menarik adalah bentuk tubuhnya. Posturnya terlihat lebar, panjang, dan tebal, ditopang kaki yang kokoh. Bukan hanya soal ukuran, sifatnya juga disebut jinak dan mudah dikendalikan. Kombinasi antara bodi besar dan temperamen yang tenang inilah yang membuat sapi tersebut dianggap punya nilai tersendiri.

Menariknya, sapi jumbo ini bukan berasal dari peternakan besar dengan fasilitas serba modern. Selama sekitar satu tahun, perawatannya dilakukan oleh Mbak Aida di lingkungan kandang sederhana. Dari sini terlihat bahwa kualitas ternak tidak selalu ditentukan oleh megahnya kandang, tetapi juga oleh bagaimana ternak dirawat, diberi pakan, dan diperlakukan setiap hari.

Untuk pakannya, sapi ini mendapatkan comboran tiga kali sehari: pagi, siang, dan sore. Komposisinya disebut terdiri dari ampas tahu, bekatul, serta sedikit konsentrat. Pola pemberian pakan yang rutin menjadi bagian penting dalam pemeliharaan sapi seperti ini, meskipun kebutuhan nutrisi tentu perlu disesuaikan dengan bobot, umur, kondisi tubuh, dan tujuan pemeliharaan masing-masing ternak.

Ada satu kebiasaan sederhana yang justru menarik perhatian: sapi ini sering diajak keluar kandang setiap hari. Menurut penuturan dalam video, kebiasaan tersebut turut membuat sapi terbiasa berinteraksi dengan manusia sehingga tidak terlalu giras. Sapi besar memang bukan hanya membutuhkan pertumbuhan fisik, tetapi juga penanganan yang aman dan nyaman agar mudah dikelola.

Karena ukurannya yang mencolok, sapi ini kemudian disebut sebagai “amunisi tersembunyi”. Istilah itu menggambarkan bagaimana seekor sapi dengan potensi fisik luar biasa ternyata bisa ditemukan di kandang peternak skala kecil. Perawatan rutin, pemberian pakan, aktivitas harian, dan ketelatenan selama berbulan-bulan menjadi bagian dari perjalanan sapi tersebut hingga mencapai kondisi seperti sekarang.

Kisah dari Jember Selatan ini menunjukkan bahwa potensi besar dalam dunia peternakan kadang muncul dari tempat yang tidak disangka-sangka. Angka tinggi 143 cm, lingkar dada 210 cm, dan perkiraan bobot 750–800 kg merupakan informasi yang disampaikan dalam video, sehingga tetap perlu dikonfirmasi melalui pengukuran atau penimbangan langsung. Namun satu hal yang jelas: sapi jumbo berusia muda ini menjadi contoh menarik bahwa ketelatenan peternak dan pengelolaan yang konsisten bisa menghasilkan ternak yang sangat mencuri perhatian.

Tim Hobby Makan kembali menyusuri kuliner Surabaya, kali ini masuk ke kawasan Pasar Wonokromo, tepatnya di area DTC Wono...
29/09/2026

Tim Hobby Makan kembali menyusuri kuliner Surabaya, kali ini masuk ke kawasan Pasar Wonokromo, tepatnya di area DTC Wonokromo. Di tengah ramainya aktivitas pasar, mereka mencari sebuah warung nasi sambal yang sudah dikenal pelanggan. Warung tersebut sempat tutup beberapa hari, tetapi kemudian kembali buka dan langsung menjadi tujuan para pencinta kuliner.

Menu yang menjadi perhatian adalah nasi sambal tongkol. Lokasinya memang tidak seperti restoran pada umumnya. Warung ini berada di dalam area pasar, tepatnya di kawasan yang juga dipenuhi aktivitas perdagangan. Namun justru suasana sederhana seperti inilah yang memberikan pengalaman berbeda bagi orang yang datang.

Mbak Ju, penjualnya, memiliki cara tersendiri dalam menyajikan makanan. Hidangan disiapkan langsung di depan pelanggan agar makanan tetap terasa fresh. Bagi warung sederhana, perhatian terhadap cara penyajian seperti ini bisa menjadi bagian penting dari pengalaman makan, terutama ketika pelanggan bisa melihat langsung makanan yang akan disantap.

Yang menarik, warung ini disebut memiliki permintaan yang cukup tinggi. Stok makanan sering kali cepat habis, bahkan dalam video diceritakan pernah ada pesanan dalam jumlah besar hingga mencapai ratusan porsi. Angka tersebut merupakan informasi yang disampaikan dalam video, sehingga jumlah pesanan dapat berbeda tergantung hari dan kondisi penjualan.

Suasana tempatnya juga menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung harus masuk ke area pasar yang ramai, bahkan warung berada di lingkungan basement pasar baju. Jadi, perjalanan mencari makanan ini bukan hanya soal mencicipi nasi sambal tongkol, tetapi juga merasakan suasana khas pasar Wonokromo yang hidup dengan aktivitas pedagang dan pembeli.

Dari sini terlihat bahwa kuliner legendaris tidak selalu lahir dari tempat yang megah. Sebuah warung kecil di tengah pasar bisa memiliki pelanggan yang loyal karena rasa, harga, kesegaran makanan, dan cerita yang sudah melekat di dalamnya. Bahkan ketika sempat tutup beberapa hari, pelanggan tetap mencari ketika warung kembali berjualan.

Pada akhirnya, perjalanan Hobby Makan ke Pasar Wonokromo menunjukkan bahwa kuliner sederhana bisa menjadi bagian dari identitas sebuah kawasan. Nasi sambal tongkol Mbak Ju bukan hanya soal sepiring nasi dan lauk, tetapi juga tentang suasana pasar, interaksi penjual dengan pelanggan, serta rasa penasaran yang membuat orang rela datang dan mencarinya. Kalau ke Surabaya, pengalaman kuliner seperti inilah yang membuat perjalanan terasa semakin berwarna.

Bagi sebagian orang, lumpur mungkin dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari. Tetapi bagi Julian Wahyu Prasetyo di ...
28/09/2026

Bagi sebagian orang, lumpur mungkin dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari. Tetapi bagi Julian Wahyu Prasetyo di Magelang, lahan berlumpur justru menjadi tempat mencari rezeki. Usaha budidaya cacing sutra yang dirintis sejak 1999 ini awalnya dilakukan di parit, sebelum akhirnya dikembangkan di lahan sawah dengan luas mencapai ribuan meter persegi.

Perubahan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Budidaya di parit memiliki risiko cacing terbawa arus, terutama ketika musim hujan. Karena itu, lahan sawah kemudian dipilih dan ditata agar budidaya bisa lebih mudah dikendalikan. Lahan dibajak dan diratakan sebelum digunakan sebagai tempat berkembangnya cacing sutra.

Yang menarik adalah pakan yang digunakan. Julian memanfaatkan limbah tahu sebagai sumber bahan organik untuk mendukung pertumbuhan cacing. Limbah tersebut dialirkan ke lahan yang sudah dipersiapkan. Konsep seperti ini menunjukkan bagaimana limbah dari suatu usaha bisa dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai ekonomi dalam usaha lainnya.

Panennya pun dilakukan secara rutin. Dalam video, cacing sutra dipanen dua kali sehari, yaitu sekitar pukul 05.30 pagi dan 16.00 sore. Cacing dikumpulkan menggunakan jaring, kemudian dibersihkan dan dimasukkan ke ember untuk dikumpulkan sebelum dipasarkan. Jadi, usaha ini membutuhkan rutinitas yang konsisten karena hasil panen diambil secara berkala.

Pasarnya juga cukup spesifik. Cacing sutra banyak dicari oleh pembudidaya ikan, terutama untuk pakan burayak atau ikan yang masih berukuran kecil seperti lele, nila, dan koi. Menurut penuturan dalam video, harga cacing sutra cenderung stabil dan tidak mengalami perubahan ekstrem. Namun, kondisi harga dan permintaan tetap dapat berbeda berdasarkan wilayah dan kondisi pasar.

Julian memiliki pesan sederhana untuk anak muda: jangan gengsi mencari rezeki. Kalau memang sebuah pekerjaan halal dan bisa menghasilkan, tidak perlu malu meskipun harus berkotor-kotor atau “bermain di lumpur”. Baginya, yang penting adalah bagaimana usaha tersebut dijalankan dengan serius dan memberikan hasil bagi kehidupan.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa peluang usaha terkadang muncul dari sesuatu yang tidak dianggap bernilai oleh banyak orang. Limbah tahu, lahan sawah, dan lumpur yang terlihat sederhana ternyata bisa menjadi bagian dari rantai ekonomi yang menghasilkan. Tentu, budidaya cacing sutra membutuhkan pengelolaan lahan, kualitas air, pakan, dan pasar yang tepat. Tetapi seperti pesan Julian, rezeki tidak selalu datang dari tempat yang terlihat bersih—kadang justru dari tempat yang membuat tangan kita kotor.

Saat banyak anak seusianya masih sibuk dengan sekolah dan aktivitas remaja, Alea Carolina justru mulai membangun bisnis ...
28/09/2026

Saat banyak anak seusianya masih sibuk dengan sekolah dan aktivitas remaja, Alea Carolina justru mulai membangun bisnis sendiri. Di usia 16 tahun, tepat ketika pandemi berlangsung, ia memulai Slime Bintaro dengan modal sekitar Rp300.000. Tidak ada tim besar, tidak ada sistem rumit. Hampir semua pekerjaan ia lakukan sendiri, mulai dari produksi hingga pengemasan.

Setelah bisnis mulai berjalan, Alea tidak berhenti di penjualan secara konvensional. Ia membawa produknya ke berbagai marketplace seperti Shopee dan TikTok. Salah satu masalah yang kemudian muncul adalah banyaknya pesan pelanggan melalui WhatsApp. Untuk membantu menangani komunikasi tersebut, ia memanfaatkan teknologi AI agar respons pelanggan bisa dilakukan secara otomatis selama 24 jam.

Namun, titik balik terbesar datang pada 2023. Setelah mendapatkan bimbingan dari seorang mentor, Alea mulai menyadari bahwa membesarkan bisnis tidak cukup hanya dengan bekerja semakin keras. Ia perlu mengubah fokus dari sekadar mengerjakan operasional menjadi membangun strategi pemasaran, sistem kerja, dan tim.

Perubahan cara berpikir itu membawa perkembangan besar menurut cerita Alea. Bisnis yang sebelumnya hanya menangani ratusan resi per hari kemudian berkembang hingga ribuan resi per hari. Pekerjaan yang dahulu dikerjakan sendiri mulai dibagi kepada tim, sehingga pemilik bisnis bisa lebih fokus pada hal-hal yang mendorong pertumbuhan.

Kini Alea disebut telah memiliki sekitar 80 karyawan. Perjalanan tersebut menunjukkan satu perubahan penting dalam kehidupan seorang pengusaha: ada waktunya kita harus belajar menjadi pekerja bagi bisnis sendiri, tetapi ada p**a waktunya belajar membangun sistem agar bisnis tidak sepenuhnya bergantung pada pemilik.

Bagi Alea, konsistensi, disiplin waktu, dan kemauan untuk terus belajar menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Ia juga memiliki visi yang jauh lebih besar, yaitu membawa brand-nya menjadi brand sensoris nomor satu di Asia, dengan Lego sebagai salah satu benchmark yang ia jadikan inspirasi.

Kisah Alea bukan berarti modal kecil otomatis menghasilkan bisnis besar. Perjalanannya tetap membutuhkan waktu, eksperimen, pemasaran, teknologi, mentor, dan kemampuan membangun tim. Tetapi dari modal Rp300.000 hingga memiliki puluhan karyawan, ada satu pelajaran yang kuat: jangan hanya berpikir bagaimana membuat produk laku, tetapi pikirkan juga bagaimana membangun sistem agar bisnis bisa terus tumbuh.

Dalam percakapan bersama Christina Lie, Dewa Eka Prayoga menceritakan salah satu fase paling berat dalam hidupnya. Tahun...
28/09/2026

Dalam percakapan bersama Christina Lie, Dewa Eka Prayoga menceritakan salah satu fase paling berat dalam hidupnya. Tahun 2012 menjadi titik yang sangat sulit ketika ia mengalami kebangkrutan dengan utang yang disebut mencapai Rp7,7 miliar, tidak lama setelah menikah. Di tengah tekanan tersebut, ia juga menghadapi persoalan kesehatan serius yang membuat kondisinya sempat sangat terbatas.

Namun, cerita Dewa bukan berhenti pada seberapa besar masalah yang dihadapinya. Justru dari titik terendah itu ia menemukan cara pandang baru. Ia kemudian membagikan tiga hal yang menurut pengalamannya menjadi titik balik dalam proses kebangkitan: bertobat dan meminta maaf, yakin, serta sering menolong orang lain.

Prinsip pertama adalah berani mengakui kesalahan. Dewa menceritakan bagaimana dirinya memilih untuk bertobat, meminta ampun kepada Tuhan, sekaligus meminta maaf kepada orang-orang yang pernah terdampak oleh kesalahannya. Bahkan, ia menyebut berusaha meminta maaf kepada orang yang pernah menipunya. Baginya, proses bangkit dimulai dari keberanian untuk melihat ke dalam diri sendiri.

Prinsip kedua adalah yakin. Bukan berarti menganggap masalah akan hilang dengan sendirinya, tetapi memiliki keyakinan bahwa masalah tersebut bisa dilewati. Dewa memandang masa sulit sebagai bagian dari proses kehidupan yang dapat membawa seseorang menuju kondisi yang lebih baik. Keyakinan tersebut menjadi tenaga mental untuk terus bergerak ketika keadaan belum berubah.

Prinsip ketiga justru terdengar berlawanan dengan keadaan yang sedang dialaminya: sering menolong orang lain. Saat dirinya sendiri sedang menghadapi masalah, Dewa memilih tetap berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang lain. Ia menyebut ada sesuatu yang “ajaib” dari kebiasaan tersebut karena ketika fokus membantu orang lain, pada akhirnya pertolongan juga datang kepadanya dari arah yang tidak disangka.

Tiga prinsip itu kemudian menjadi bagian dari cerita kebangkitannya. Tentu, pengalaman pribadi Dewa bukan formula yang menjamin setiap orang akan mendapatkan hasil yang sama. Namun, ada pelajaran yang bisa diambil: ketika berada dalam masalah, seseorang tetap bisa mengevaluasi kesalahan, menjaga keyakinan, memperbaiki hubungan dengan orang lain, dan menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk memberi manfaat.

Pada akhirnya, kisah Dewa Eka Prayoga bukan sekadar cerita tentang seseorang yang pernah memiliki utang miliaran lalu kembali sukses. Ini adalah cerita tentang bagaimana ia memaknai titik terendah dalam hidupnya. Kadang kebangkitan tidak dimulai ketika keadaan sudah membaik, tetapi ketika seseorang memutuskan untuk memperbaiki dirinya meskipun keadaan masih sangat sulit.

Address

Sungai Jelai
Pelaihari

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Jual Beli Kambing Etawa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share