29/09/2026
Ryu Kintaro mulai membuat konten sejak usia 7 tahun. Awalnya hanya iseng, sampai salah satu kontennya tentang berjualan susu menggunakan mobil mewah menarik perhatian banyak orang dan membuat namanya semakin dikenal. Dari sana, kanal YouTube-nya terus berkembang hingga mencapai sekitar 1,2 juta subscriber.
Menariknya, kesibukan Ryu bukan hanya soal membuat konten. Ia tetap menjalani sekolah dan berbagai kegiatan seperti belajar Mandarin, matematika, renang, piano, hingga bahasa Inggris. Di tengah jadwal tersebut, ia juga menjalankan bisnis jamu. Rahasianya bukan karena semua aktivitas terasa mudah, tetapi karena ia menikmati apa yang sedang dijalani.
Ryu juga menjadi founder Jamu Cap Nyonya. Ide bisnis tersebut muncul dari pengalaman sederhana: ia kurang menyukai rasa jamu yang pahit. Alih-alih hanya mengeluh, Ryu justru mencoba mencari solusi dengan membuat jamu yang menurutnya lebih modern, sehat, dan memiliki rasa yang lebih mudah diterima anak muda.
Perjalanan membangun personal brand tentu tidak selalu mulus. Ryu pernah mengalami akun media sosialnya disuspend. Namun, ia tidak berhenti di sana. Ia membuat akun baru dan kembali membangun dari awal. Ketika menghadapi komentar negatif, Ryu memilih untuk tidak terlalu memikirkannya dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi agar dirinya bisa berkembang.
Dari kisahnya, terlihat bahwa Ryu belajar menghadapi kegagalan sejak usia sangat muda. Baginya, komentar negatif tidak selalu harus dibalas dengan emosi. Ada kalanya kritik cukup didengarkan, dipilah, lalu digunakan untuk memperbaiki diri. Sikap seperti ini membuat tantangan tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti.
Hal yang paling menarik muncul ketika Ryu ditanya apakah dirinya merasa kehilangan masa kecil karena terlalu banyak aktivitas. Jawabannya sederhana, tetapi cukup dalam: ia lebih memilih kehilangan masa kecil daripada kehilangan masa depan. Pernyataan itu menggambarkan bagaimana ia melihat waktu, kesempatan, dan proses membangun sesuatu sejak dini.
Kisah Ryu Kintaro menunjukkan bahwa usia tidak selalu menentukan seberapa besar seseorang bisa belajar dan berkarya. Namun, setiap anak tetap memiliki kondisi, minat, dukungan keluarga, dan kebutuhan yang berbeda. Yang bisa dipetik bukan sekadar angka 1,2 juta subscriber atau sebuah bisnis, melainkan keberanian mengubah masalah sederhana menjadi ide, terus belajar, serta tidak berhenti hanya karena pernah gagal.