04/03/2026
Ya Allah, Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih lagi setelah Donald Trump secara resmi memerintahkan operasi militer besar-besaran bertajuk "Operation Epic Fury".
Langkah drastis ini diambil sebagai balasan atas tewasnya tiga tentara Amerika Serikat dalam serangan rudal Iran ke pangkalan militer di Kuwait pekan lalu.
Dalam pidato terbaru dari Gedung Putih, Presiden Trump menegaskan bahwa fokus utama AS bukan lagi sekadar memberi peringatan, melainkan menghancurkan struktur kekuasaan Iran secara permanen. "Kita tidak akan membiarkan rezim teroris ini mengancam dunia lebih lama lagi. Amerika akan membalas kematian pahlawan kita dengan kekuatan yang paling menghancurkan," ujar Trump.
Serangan udara gabungan AS-Israel dilaporkan telah menyasar pusat komando tertinggi. Setelah tewasnya Ayatollah Ali Khamenei, Pentagon kini membidik unit-unit elit Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Fokus serangan meliputi infrastruktur nuklir di Fordow dan Natanz, serta situs peluncuran rudal balistik guna memutus kemampuan serangan balik Iran.
Trump secara terang-terangan menyerukan kepada rakyat Iran untuk bangkit dan mengambil alih pemerintahan, menjanjikan dukungan penuh bagi terbentuknya pemerintahan baru yang pro-Barat.
Bersamaan dengan serangan fisik, AS menerapkan sanksi energi tingkat akhir untuk memastikan rezim tidak memiliki dana untuk membiayai sisa pasukannya.
Saat ini, Teheran berada di bawah kendali Dewan Kepemimpinan Transisi yang dipimpin oleh Ayatollah Alireza Arafi sebagai pemimpin sementara. Meski kekuatan militer Iran mulai goyah akibat gempuran udara, sisa-sisa IRGC bersumpah akan melakukan perlawanan gerilya yang panjang.
Para analis memperingatkan bahwa langkah Trump untuk menggulingkan seluruh rezim dapat memicu perang regional skala besar, namun Trump menegaskan bahwa operasi ini ditargetkan selesai dalam waktu hitungan minggu demi mewujudkan "Peace through Strength" (Perdamaian melalui Kekuatan).