23/04/2026
Sore jatuh perlahan di beranda, menumpahkan cahaya yang tidak utuh. Terpecah oleh daun, tersaring pagar, lalu menjelma bayang-bayang yang terus berubah.
Seorang laki-laki datang membawa kamera, seolah ada sesuatu yang perlu segera diselamatkan dari waktu. Di hadapannya, makanan tersaji. Hangat, sedap. Namun ia justru mempercepat setiap suapan. Bukan karena lapar, melainkan karena ada yang lebih mendesak: cahaya yang bergerak, bayangan yang tidak pernah mau tinggal.
"Di tempat ini, segala sesuatu tampak biasa bagi yang sekadar lewat. Tanaman tumbuh tanpa ambisi. Kayu berdiri tanpa cerita yang dipaksakan. Udara bergerak nyaris tanpa suara. Namun bagi mereka yang memilih untuk tinggal sedikit lebih lama, yang bersedia melihat lebih dekat, ada hal-hal kecil yang diam-diam membuka diri." Ia berbicara sembari meraih kameranya lagi.
Matanya berpindah-pindah. Dari lantai ke dinding, dari dedaunan ke sela-sela udara yang nyaris tak terlihat. Ia memperhatikan bagaimana bayangan memanjang, lalu memendek, lalu hilang tanpa jejak. Bagaimana cahaya yang tadi lembut perlahan meredup, seperti mengerti bahwa ia hanya diberi waktu sebentar. Katanya, ada yang ajaib dari semua itu. Sesuatu yang tidak bisa diulang, tidak bisa disimpan, selain mungkin dalam beberapa bingkai yang ia buru dengan tergesa.
Barangkali ia mengerti, bahwa keindahan tidak selalu meminta untuk dimiliki. Kadang, cukup untuk disaksikan. Sebentar, lalu hilang, tanpa perlu kembali dengan cara yang sama.