Cireng Pedas BDG - BPN

Cireng Pedas BDG - BPN Cemilan Bandung

11/07/2025
01/07/2025

Kita pindah tempat ya cess, terimakasih buat Bang Pan udah review šŸ™šŸ»šŸ™šŸ»šŸ™šŸ»
CC : Instagram/makan.balikpapan

14/08/2021

Menjual sebanyak banyaknya produk jajanan baik berjualan langsung dengan gerobak ataupun menjadi reseller
Untuk yang mempunyai tempat ramai dan strategis, gerobak dan peralatan kami sediakan.

01/07/2021

Yg mau join usaha sekitar Subang , hayu lah..

31/10/2020
30/05/2019
28/05/2019

HABIBIE, KEKALAHAN, KEMENANGAN’

[Saya menemukan kembali tulisan saya dalam Tempo edisi 34 (25-31 Oktober 1999) di rubrik ā€˜Catatan Pinggir’]

Habibie tetap di sana. Mukanya tetap meriah dan matanya bundar berpendar, senyumnya lebar. Ia duduk di samping presiden yang baru. Wajah itu wajah orang yang tak kehilangan apa-apa. Terlalu sulit untuk menduga apa yang ada di lubuk hati orang, tapi sikap ceria presiden yang dikalahkan itu (di antara kursi-kursi di Senayan itu) merupakan cerita baru tentang politik Indonesia.

Saya ingat, ia pernah berkata (waktu saya berjumpa singkat dengan dia, pertama dan terakhir kali sebagai kepala negara) bahwa pendahulunya —ia tak menyebut nama Soeharto —tak pernah mempersiapkannya untuk jadi pemimpin Republik. Bahkan juga ketika teknokrat itu masih jadi wakil presiden.

Soeharto memang tak ingin dia, atau siapa pun, menggantikannya pada tahun menjelang 1998 itu. Tetapi insiden sejarah menyebabkan Habibie naik ke kokpit. Ia jadi kapten. Ketika ia turun, ketika ia menerima kekalahan dengan muka tetap meriah dan mata berpendar dan senyum lebar, ia telah membuktikan: ia tak kalah dari Soeharto. Sebuah proses yang sulit telah mempersiapkannya untuk jadi sebuah bagian penting politik baru di Indonesia — politik dengan sepercik 'peradaban’.

Kalah, menang akhirnya tak selamanya ditentukan oleh siapa yang kehilangan. Di sinilah Habibie, justru dalam kekalahannya, meneguhkan ā€œrespublicaā€, ā€œkemaslahatan publikā€. Tak lama Habibie menjadi presiden. Hanya 512 hari. Tetapi, selama 512 hari itu politik di Indonesia mengalami transformasi dari ā€œarche-politikā€ ke ā€œpara-politikā€: perubahan dari suatu era ketika hidup bermasyarakat dianggap tak punya konflik dan tak perlu kompetisi, memasuki suatu era ketika sengketa dan persaingan dilangsungkan dalam lembaga yang beraturan, bukan di barikade.

Soeharto, komandan tertinggi Indonesia-sebagai-markas-tentara, berhenti pada bulan Mei 1998. Cukup cepat, meskipun tak cukup gampang, mengubah politik di Indonesia dari arus militerisasi itu. Para mahasiswa dan semua gerakan prodemokrasi telah menetak satu simpul yang mengukuhkan ultra-politik itu: rasa takut. Khususnya rasa takut pada tentara. Habibie tak memulai pembebasan dari rasa takut itu, tapi ia memberikan sumbangannya sendiri

Ia jadi presiden dan para-politik pun dimulai. Pemilihan yang bebas untuk membentuk parlemen yang bebas berlangsung. Kekuasaan presiden tak lagi angker. ā€œSaya ingin membuat presiden sebagai seorang tetanggaā€, katanya.

Tapi sumbangannya yang terbesar ialah ketika orang ramai merayakan kekalahannya, ia hadir di Senayan, duduk di antara orang-orang yang mengalahkannya. Mukanya tetap ceriah dan senyumnya lebar. Ah, akal sehat menang. Demokrasi menang. Dan dalam arti tertentu, Habibie pun menang - dalam 'perang yang lebih besar’ di dalam dirinya sendiri. Dia eksit dengan bagus. Kita perlu bertepuk tangan.

__

Saya menemukan fragmen dari buku Habibie yang terbit 13 tahun yang lalu.

DENGAN PRABOWO

Habibie menulis sebuah buku penting buat bahan sejarah Indonesia. ā€œDetik-detik yang Menentukan. Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasiā€ (terbii tahun 2006).

Di halaman 111 kita temukan cerita tentang dialognya, sebagai presiden, dengan Prabowo. Saat itu Prabowo dicopot dari jabatannya sebagai Panglima Kostrad, persisnya pada 23 Mei 1998.

Prabowo menghadap Habibie di Istana Merdeka.

Percakapannya dengan Presiden dilakukan dalam bahasa Inggris.

"Ini suatu pengghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto, Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad," kata Prabowo seperti dituturkan Habibie.

"Anda tidak dipecat, tetapi jabatan Anda diganti," jawab Habibie.

"Mengapa?" tanya Prabowo.

Habibie menjawab, itu dilakukan karena dia menerima laporan dari Panglima ABRI tentang adanya gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan dan Istana Merdeka.

"Saya bermaksud untuk mengamankan Presiden," kata Prabowo.

"Itu adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab langsung pada Pangab dan bukan tugas Anda," jawab Habibie kepada Prabowo.

"Presiden apa Anda? Anda naif!" jawab Prabowo dengan nada marah.

"Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang sangat memprihatinkan," jawab Habibie.

Percakapan Habibie dengan Prabowo terus berlangsung memanas. Sampai akhirnya salah satu staf khusus Presiden, Sintong Pandjaitan meminta agar Prabowo meninggalkan ruangan, karena Presiden Habibie akan menerima tamu berikutnya.

Syahdan, setelah dicopot dari jabatan Panglima Kostrad, Prabowo dikirim ke Bandung menjadi Komandan Sesko ABRI. Tak lama kemudian Dewan Kehormatan Perwira dibentuk.

Dewan Kehormatan Perwira dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Pangab Nomor Sekp/533/P/VII/1998 tanggal 14 Juli 1998. Sebelum mengambil keputusan ini, Dewan Kehormatan Perwira telah bersidang pada tanggal 10, 12, dan 18 Agustus 1998 dengan terperiksa Letnan Jenderal TNI Prabowo Subianto sebagai Danjen Kopassus.

Dewan Kehormatan Perwira pada akhirnya mengeluarkan surat keputusan Nomor KEP/03/VIII/1998/DKP. Surat tersebut dibuat dan ditandatangani pada 21 Agustus 1998 oleh Ketua Dewan Kehormatan Perwira Jenderal TNI Subagyo Hadi Siswoyo, Sekretaris Letjen TNI Djamari Chaniago, Wakil Ketua Letjen TNI Fahrul Razi, anggota Letjen Susilo Bambang Yudhoyono, dan anggota Letjen Yusuf Kartanegara. Isinya adalah sederet pelanggaran Prabowo. Di akhirnya ada rekomendasi agar Prabowo dipecat dari TNI.

06/04/2019

Address

Kp. Timur Jalan Perjuangan Gang Rukun RT. 33, Kel. Gn Samarinda Baru Kec. Balikpapan Utara, Kota Balikpapan
Balikpapan
76125

Opening Hours

Monday 08:00 - 17:00
Tuesday 08:00 - 17:00
Wednesday 08:00 - 17:00
Thursday 08:00 - 17:00
Friday 08:00 - 17:00
Saturday 08:00 - 17:00
Sunday 08:00 - 17:00

Telephone

+6283863336949

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cireng Pedas BDG - BPN posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Cireng Pedas BDG - BPN:

Share

Category