06/07/2026
Surat Terakhir Ayah
"Ayahmu tidak meninggalkan apa pun selain utang."
Kalimat itu masih teringat jelas, bahkan setelah lima tahun pemakaman Ayah berlalu.
Saat itu aku hanya diam. Semua orang yang datang melayat mengangguk seolah mereka tahu seluruh hidup Ayah.
Padahal mereka tidak pernah tahu bagaimana Ayah rela pulang larut malam demi memastikan aku tetap bisa sekolah.
Namaku Rina.
Usiaku 29 tahun.
Sejak Ayah meninggal, hidupku berubah drastis.
Aku berhenti kuliah di semester akhir karena tidak sanggup membayar biaya pendidikan. Ibu jatuh sakit. Rumah kecil peninggalan kakek hampir disita bank.
Lalu datanglah Arga.
Ia seorang pengusaha yang mapan. Penampilannya rapi, tutur katanya lembut, dan semua orang bilang aku sangat beruntung menerima lamarannya.
"Akhirnya hidupmu akan enak," kata tetangga.
Aku juga percaya.
Ternyata aku salah.
Arga memang tidak pernah memukulku.
Namun setiap kali aku mencoba menyampaikan pendapat, ia selalu berkata,
"Kamu jangan lupa, semua yang kamu nikmati sekarang hasil kerja kerasku."
Awalnya aku menganggap itu sekadar emosi sesaat.
Lama-kelamaan, kalimat itu menjadi makanan sehari-hari.
Aku mulai merasa tidak berguna.
Aku bahkan takut membeli kebutuhan rumah tanpa meminta izin.
Pagi itu, saat Arga berangkat kerja dan anak kami masih di sekolah, aku memutuskan membersihkan gudang belakang.
Gudang itu sudah bertahun-tahun tidak pernah kubuka.
Debunya tebal.
Di sudut ruangan, ada sebuah peti kayu kecil yang dulu sering dijadikan tempat Ayah menyimpan dokumen penting.
Aku hampir saja membuangnya.
Namun saat mengangkat peti itu, terdengar bunyi sesuatu bergeser di dalamnya.
Dengan penasaran kubuka penutupnya.
Isinya hanya tiga benda.
Sebuah buku tabungan.
Sebuah kunci berwarna emas.
Dan sebuah amplop cokelat yang sudah mulai menguning.
Di bagian depan amplop tertulis dengan tulisan tangan yang sangat kukenal.
"Untuk Rina. Jangan dibuka sebelum lima tahun setelah Ayah pergi."
Tanganku langsung gemetar.
Hari itu...
Tepat lima tahun sejak Ayah dimakamkan.
Aku menarik napas panjang sebelum membuka amplop tersebut.
Di dalamnya hanya ada selembar surat.
Baris pertama membuat air mataku langsung jatuh.
"Maafkan Ayah karena selama ini membiarkan semua orang mengira Ayah gagal. Sebenarnya, ada satu rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun... termasuk suamimu."
Aku belum sempat membaca baris berikutnya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu depan terbuka.
Padahal Arga seharusnya baru pulang sore.
Aku buru-buru melipat surat itu.
Langkah kaki seseorang semakin mendekat ke arah gudang.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah...
Aku merasa sangat takut.
Bersambung ke Bagian 2...