Bakso dan Mie Ayam Sidomulyo

Bakso dan Mie Ayam Sidomulyo Jl. Teluk Tiram Darat No. 35 RT. 28 Kelurahan Teluk Tiram ( Samping Pintu Gerbang Jl. Ampera Raya )

📌Lokasi
https://maps.app.goo.gl/9H2Lfrs2UWdQqH8S7

10/08/2026

Hubungan sama janda itu anti ribet.
Gak ada lagi drama ngambek 3 hari gara gara lupa ngabarin, dia udah paham kalau hidup gak cuma nyari sinyal hape.

Suatu Minggu pagi, Hadran mengajak Sofiati jalan-jalan ke jembatan gantung di pinggir sungai."Fi, habis foto-foto kita m...
09/08/2026

Suatu Minggu pagi, Hadran mengajak Sofiati jalan-jalan ke jembatan gantung di pinggir sungai.

"Fi, habis foto-foto kita makan mie ayam, ya."

Sofiati tersenyum. "Boleh. Tapi jangan nanti pas makan malah sibuk lihat orang lewat."

Tak lama kemudian mereka sampai di warung mie ayam dekat jembatan.

Saat menunggu pesanan, Hadran membaca status di ponselnya:

"Puncak komedi cowok masa kini: gaji pas-pasan, tapi seleranya janda kembang atau binor spek bidadari."

Hadran langsung ngakak.

Sofiati penasaran. "Memangnya lucu di mana?"

Hadran menjawab, "Lucunya itu kayak orang dompetnya isi lima puluh ribu, tapi nanya harga rumah di pinggir pantai."

Sofiati ikut tertawa.

"Yang penting itu bukan selera setinggi langit, tapi kemampuan menjaga dompet tetap hidup."

Tak lama, dua mangkuk mie ayam bakso datang.

Hadran langsung semangat.

"Bu, tambah bakso satu."

Penjual bertanya, "Tambah dua ribu ya, Mas."

Hadran mendadak menghitung isi dompet.

"Eee... nggak jadi, Bu. Kuahnya aja ditambah."

Sofiati menahan tawa.

"Lho, katanya seleranya tinggi?"

"Iya... selera boleh tinggi, tapi saldo ATM ngajak musyawarah."

Penjual mie ayam sampai ikut tertawa.

Sofiati lalu berkata, "Makanya, Had. Jangan kebanyakan mimpi mewah kalau mie ayam jumbo aja masih mikir dua kali."

Hadran mengangguk sambil menyeruput kuah.

"Benar juga. Yang penting makan kenyang, hati senang, dompet tetap pulang dengan selamat."

Sofiati tersenyum.

"Itu baru namanya pria realistis."

Hadran menutup mangkuknya yang sudah licin.

"Kesimpulannya, mie ayam lebih jujur. Harganya sesuai papan menu. Kalau mimpi terlalu tinggi tanpa usaha, yang kenyang cuma angan-angan."

Semua pengunjung warung pun tertawa mendengar celetukan Hadran.

Kesimpulan:
Humor mengingatkan kita bahwa memiliki selera atau impian itu tidak salah, tetapi sebaiknya disesuaikan dengan usaha dan kemampuan.

Daripada sibuk mengejar gengsi, lebih baik menikmati rezeki yang ada, bekerja lebih giat, dan sesekali menikmati semangkuk bakso atau mie ayam bersama orang yang membuat hari terasa lebih menyenangkan. 🍜😄

Pagi-pagi sekali, Hadran mengajak Sofiati jalan santai di trotoar kota."Fi, habis jalan kita makan mie ayam, ya."Sofiati...
08/08/2026

Pagi-pagi sekali, Hadran mengajak Sofiati jalan santai di trotoar kota.

"Fi, habis jalan kita makan mie ayam, ya."

Sofiati mengangguk.

"Asal jangan bilang habis ini mau diet."

"Tenang, dietku cuma ditunda sampai besok... dan besoknya lagi."

Mereka pun tertawa.

Sampai di warung mie ayam, Hadran membaca sebuah status di ponselnya:

"Gadis sering bikin nangis, binor bisa bikin bonyok, cuma janda yang bikin romantis tanpa banyak drama."

Hadran tersenyum kecil.

Sofiati langsung bertanya, "Kenapa senyum-senyum sendiri? Jangan-jangan lagi baca yang aneh-aneh."

"Bukan. Ini cuma humor."

Tak lama kemudian, semangkuk mie ayam bakso datang.

Hadran langsung menuangkan sambal sampai lima sendok.

Sofiati kaget.

"Itu mau makan mie ayam apa lomba tahan api?"

Hadran menjawab santai, "Katanya hidup harus penuh tantangan."

Baru satu suapan...

"Huaaa... pedaaas!"

Wajah Hadran langsung merah, keringat bercucuran.

Sofiati tertawa terbahak-bahak.

"Nah, itu romantisnya sama sambal, bukan sama status di ponsel."

Penjual mie ayam ikut menyahut, "Mas, kalau mau drama, cukup sama sambal. Jangan sama urusan hati orang."

Hadran langsung mengangguk sambil meneguk es teh.

"Iya, Pak. Sambal ini aja udah bikin air mata keluar. Ngapain cari masalah yang lebih pedas?"

Sofiati tersenyum.

"Tuh kan. Akhirnya kamu paham."

Hadran menghabiskan mie ayamnya sambil berkata, "Kesimpulannya, mie ayam lebih setia. Selama dibayar, dia selalu datang. Kalau urusan hati, yang penting saling menghargai dan jangan bikin drama."

Semua orang di warung pun tertawa mendengar ucapan Hadran.

-----

Kesimpulan:
Humor memang boleh membuat kita tertawa, tetapi dalam kehidupan nyata yang paling penting adalah saling menghormati, menjaga perasaan orang lain, dan tidak mencari masalah yang tidak perlu.

Kebahagiaan sering kali datang dari hal-hal sederhana, seperti menikmati semangkuk bakso atau mie ayam hangat bersama orang yang membuat suasana menjadi penuh tawa. 😄

07/08/2026

Jangan minder deketin janda kembang. Sainganmu cuma dua: pengusaha sukses yang mau serius, atau cowok spek beban yang pengen numpang hidup.

Pagi-pagi, Hadran mengajak Sofiati ke pasar membeli ayam. Katanya, habis itu mereka mau makan bakso ayam di warung langg...
06/08/2026

Pagi-pagi, Hadran mengajak Sofiati ke pasar membeli ayam. Katanya, habis itu mereka mau makan bakso ayam di warung langganan.

Di lapak ayam, Sofiati sibuk memilih ayam yang paling segar.

"Bu, yang ini gemuk ya?" tanya Sofiati.

Penjual menjawab sambil tersenyum, "Iya, Bu. Ini makannya teratur, nggak s**a begadang."

Hadran langsung nyeletuk, "Kalau saya yang begadang, besoknya malah mirip ayam kurang bumbu."

Sofiati tertawa geli.

Setelah selesai belanja, mereka mampir ke warung bakso ayam.

Sambil menunggu pesanan, Hadran membaca tulisan di media sosial:

"Binor itu seperti barang pajangan di toko mewah: boleh dilihat, boleh dikagumi, tapi kalau dibawa pulang tanpa bayar, urusannya sama polisi."

Hadran tertawa sampai hampir keselek air putih.

Sofiati langsung bertanya, "Lucu ya?"

"Iya. Tapi itu mengingatkan kalau kita memang harus tahu batas."

Tak lama kemudian, penjual bakso datang membawa dua mangkuk bakso ayam yang mengepul.

Hadran langsung fokus.

"Kalau ini baru aman buat dibawa pulang."

"Kenapa?" tanya Sofiati.

"Soalnya memang sudah kubayar. Nggak perlu lari-lari dikejar siapa pun."

Penjual bakso ikut tertawa.

"Iya, Mas. Yang halal itu bikin makan tenang, tidur juga nyenyak."

Hadran mengangguk sambil menyendok bakso.

"Benar juga. Daripada cari sensasi yang bikin pusing, mending cari kuah bakso yang bikin hati adem."

Sofiati tersenyum.

"Nah, akhirnya otakmu lebih matang daripada baksonya."

Hadran tertawa.

"Bakso boleh panas, tapi kepala harus tetap dingin."

Mereka pun menghabiskan semangkuk bakso ayam sambil bercanda sampai penjual di warung ikut tersenyum melihat tingkah mereka.

📌Kesimpulan:
Mengagumi sesuatu itu wajar, tetapi setiap orang perlu menghormati batas dan hak orang lain.

Kebahagiaan yang diperoleh dengan cara yang benar akan terasa lebih tenang daripada mengejar sesuatu yang bukan milik kita.

Seperti semangkuk bakso hangat, rasanya paling nikmat jika dinikmati dengan hati yang tenang dan penuh rasa syukur. 😄

05/08/2026

Jika hidup anda di selimuti masalah, berarti anda manusia. Jika di selimuti daun pisang, berarti anda lontong. 😁

Sepulang kerja dari lokasi tambang, Hadran masih belepotan debu. Helm proyek digantung di motor, sepatu masih penuh tana...
04/08/2026

Sepulang kerja dari lokasi tambang, Hadran masih belepotan debu. Helm proyek digantung di motor, sepatu masih penuh tanah.

Sofiati melihat Hadran lalu berkata, "Daripada pulang langsung tidur, ayo makan mie ayam. Biar tenaga balik."

Hadran langsung semangat. "Kalau urusan mie ayam, aku paling sigap. Lebih sigap daripada dengar bos bilang 'lembur bentar'."

Mereka pun duduk di warung mie ayam.

Sambil menunggu pesanan datang, Hadran membaca status seseorang di ponsel:

"Mencintai binor itu olahraga ekstrem. Adrenalinnya dapet, bonyoknya juga dapet kalau ketahuan."

Hadran terkekeh.

"Fi, lucu juga ya."

Sofiati menatap tajam.

"Lucu boleh. Jangan sampai dipraktikkan."

Hadran buru-buru menggeleng.

"Mana berani. Di tambang aja aku cuma berani dekat sama excavator. Kalau urusan begitu, nyaliku langsung berubah jadi kerupuk."

Tak lama kemudian, seorang bapak bertubuh besar masuk ke warung sambil memanggil istrinya.

Hadran langsung berbisik, "Nah... itu mungkin alasan kenapa status tadi dibuat."

Sofiati tertawa.

"Kalau di tambang yang bahaya itu longsor. Kalau soal hati orang, yang bahaya itu salah sasaran."

Pelayan datang membawa dua mangkuk mie ayam bakso.

Hadran langsung berkata, "Ini olahraga ekstrem yang aman."

"Maksudnya?"

"Adrenalin naik karena kuahnya panas, napas ngos-ngosan karena sambalnya pedas. Tapi pulangnya tetap selamat."

Sofiati mengangguk sambil tertawa.

"Itu baru pintar. Cari tantangan di mie ayam, bukan di masalah."

Hadran menghabiskan semangkuk mie ayam sampai kuahnya tinggal setetes.

"Kesimpulannya..."

"Apa?"

"Excavator saja ada operatornya. Apalagi hati orang, sudah ada yang mengemudikan. Jangan asal nyelonong."

Satu warung langsung tertawa mendengar ucapan Hadran.

Kesimpulan:
Mengejar sensasi dengan mengganggu hubungan orang lain bukanlah keberanian, melainkan sumber masalah.

Lebih baik nikmati hal-hal sederhana yang membawa kebahagiaan, seperti semangkuk bakso atau mie ayam hangat bersama orang yang tepat.

Adrenalin boleh dicari, tapi jangan sampai dicari dengan cara yang bikin hidup jadi berantakan. 🍜😄

03/08/2026

Kalau kamu merasa hari ini sangat berat, cobalah untuk timbang badan. Setidaknya kamu tahu kalau berat badanmu jauh lebih berat daripada masalahmu.

Di sebuah kampung yang suasananya teduh, Hadran mengajak Sofiati makan mie ayam di warung depan rumah warga."Fi, mie aya...
02/08/2026

Di sebuah kampung yang suasananya teduh, Hadran mengajak Sofiati makan mie ayam di warung depan rumah warga.

"Fi, mie ayam sini katanya enak. Bonus es teh kalau mangkuknya dijilat sampai kinclong," kata Hadran.

Sofiati langsung melotot.

"Jangan serius amat, Dran! Nanti dikira belum makan seminggu."

Mie ayam pun datang. Baru dua suapan, Hadran malah melirik meja sebelah.

"Fi... kok mie ayam bapak itu kelihatannya lebih banyak, ya?"

Sofiati tertawa.

"Itu namanya penyakit nasional: rumput tetangga selalu lebih hijau, mie ayam tetangga selalu lebih menggunung."

Hadran masih penasaran.

"Coba aku hitung deh... baksonya lima, punyaku cuma empat."

Penjual mie ayam yang mendengar langsung menghampiri.

"Mas, itu bukan bakso tambahan. Itu sendok yang lagi terendam kuah."

Warung langsung pecah oleh tawa pengunjung.

Hadran pun garuk kepala sambil malu.

Sofiati berkata sambil menyeruput kuah, "Makanya jangan sibuk menghitung isi mangkuk orang. Fokus saja sama mangkuk sendiri."

Hadran mengangguk.

"Iya juga. Lagian kalau mangkuk orang lebih banyak, belum tentu dia kuat ngabisinnya."

Sofiati tersenyum.

"Betul. Rezeki orang beda-beda. Yang penting perut kenyang, hati tenang."

Hadran langsung menghabiskan mie ayamnya.

"Mulai sekarang aku nggak iri lagi."

"Kenapa?"

"Soalnya setelah habis begini, semua mangkuk sama-sama kosong."

Mendengar itu, penjual mie ayam sampai ikut tertawa sambil berkata, "Nah, kalau filosofinya begitu, besok mampir lagi ya!"

📌Kesimpulan :
Rumput tetangga memang sering terlihat lebih hijau, tetapi kita tidak tahu usaha dan biaya yang dikeluarkan untuk merawatnya.

Daripada sibuk membandingkan milik orang lain, lebih baik mensyukuri apa yang kita punya dan menikmatinya.
Karena rasa syukur selalu lebih mengenyangkan daripada rasa iri. 😄

Siang itu Hadran baru selesai membantu menurunkan peralatan proyek dari truk. Helm masih nempel di kepala, baju penuh de...
01/08/2026

Siang itu Hadran baru selesai membantu menurunkan peralatan proyek dari truk. Helm masih nempel di kepala, baju penuh debu, perut sudah konser dangdut.

"Fi, ayo makan mie ayam. Kalau nggak, aku bisa ikut diangkut ke bak truk karena lemas," kata Hadran.

Sofiati tertawa. "Ya sudah, yang penting jangan pesan semangkuk buat berlima."

Mereka pun duduk di warung mie ayam langganan.

Sambil menunggu pesanan, Hadran melihat seorang ibu yang tampil rapi, wangi, dan wajahnya glowing.

"Fi, kok ada orang yang mukanya kinclong banget ya?"

Sofiati menjawab sambil menyeruput es teh, "Ya ada yang rajin perawatan."

Hadran bercanda, "Atau jangan-jangan benar kata orang, 'Binor memang terlihat lebih glowing, mungkin karena dirawat pakai duit orang lain.'"

Sofiati langsung menyenggol mangkuk Hadran.

"Eh... jangan sembarangan. Glowing itu bisa karena rajin merawat diri, pola hidup sehat, atau memang lagi bahagia. Jangan asal bikin kesimpulan."

Hadran nyengir. "Iya juga sih."

Tak lama kemudian mie ayam datang.

Hadran langsung lahap makan.

Sofiati heran.

"Lho, kok sekarang fokus ke mie ayam?"

Hadran mengangguk mantap.

"Soalnya aku sadar, yang penting itu mangkuk mie ayam di depanku. Kalau sibuk memperhatikan orang lain, nanti mienya keburu dingin."

Penjual mie ayam yang mendengar obrolan mereka ikut tertawa.

"Betul, Mas. Mie ayam yang dingin masih bisa dihangatkan. Tapi kalau bikin salah paham sama orang, menghangatkannya lebih susah."

Hadran mengangguk sambil menambah sambal.

"Mulai sekarang aku fokus kerja, makan, sama nabung. Biar suatu hari bisa traktir Sofiati mie ayam pakai bakso jumbo!"

Sofiati tersenyum. "Nah, itu baru proyek masa depan yang jelas."

Kesimpulan:
Jangan mudah menilai kehidupan orang lain hanya dari penampilannya. Setiap orang punya cerita dan usahanya masing-masing.

Daripada sibuk membandingkan hidup dengan orang lain, lebih baik fokus bekerja, bersyukur, dan menikmati semangkuk bakso atau mie ayam yang ada di depan kita.

Soal glowing, yang paling awet tetap hati yang baik dan pikiran yang positif. 😄

Address

Jalan Teluk Tiram Darat No. 35 RT. 28 Kelurahan Teluk Tiram
Banjarmasin
70114

Opening Hours

Monday 17:00 - 22:00
Tuesday 17:00 - 22:00
Wednesday 17:00 - 22:00
Thursday 17:00 - 22:00
Friday 17:00 - 22:00
Saturday 09:00 - 17:00
17:00 - 22:00
Sunday 17:00 - 22:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bakso dan Mie Ayam Sidomulyo posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category