Majlis Sambel Terong R2

Majlis Sambel Terong R2 ojo mikir....!!! kok koyo wong pinter? tambah nambahi ruwetmu. (kumpulan cerita Humor yang bisa jadi tidak lucu sama sekali, namun terlalu sayang kalau di buang)

Di serambi asrama, selepas ngaji kitab kuning, dua santri duduk selonjoran. Angin malam menggerakkan sarung yang dijemur...
19/03/2026

Di serambi asrama, selepas ngaji kitab kuning, dua santri duduk selonjoran. Angin malam menggerakkan sarung yang dijemur, sementara lampu bohlam menggantung dengan cahaya seadanya.

Si Fulan datang dengan wajah pucat.

“Aku tadi malam mimpi dikejar dan dipatok ular,” katanya pelan, seperti baru kehilangan sandal sebelah.

Temannya yang hobi baca primbon—sebut saja si Ahli Ta’bir Dadakan—langsung duduk tegak.

“Wah!” katanya mantap. “Kamu akan segera dapat jodoh.”

“Mooso?” Wajah Fulan langsung berbinar seperti habis dapat kiriman dari rumah.
“Iya. Ular itu simbol pasangan. Patokan itu tanda ikatan. Artinya kamu akan dipinang takdir.”

Fulan pun dua hari itu berjalan lebih tegap. Senyum-senyum sendiri. Setiap ada santri putri lewat depan ndalem ibu nyai, dia langsung rapikan peci.

Dua hari kemudian…
Terdengar teriakan dari kebun belakang pondok.

“Tolong! Ulaaaar!”

Ternyata Fulan benar-benar dipatok ular. Ular asli. Bukan simbol. Bukan metafora. Ular sungguhan yang tidak pernah baca buku tafsir mimpi.

Kaki kirinya diperban. Ia terbaring lemas di klinik kecil pesantren.

Si Ahli Ta’bir Dadakan datang membesuk, membawa buah tangan: pisang dan rasa bersalah.

“Ehm… kadang mimpi itu déjà vu,” katanya mencoba ilmiah. “Terulang di kehidupan nyata.”
“Lho, moso?” Fulan menatap dengan wajah campuran bingung dan takut.

“Lha mimpimu jadi kenyataan kan?”
Fulan terdiam. Wajahnya makin pucat.

“Kenapa?” tanya si penafsir.

Fulan menelan ludah.

“Tapi… aku tadi malam mimpi mati…”

“HAAAH?!”

Pisang jatuh. Hening. Angin lewat seperti ikut merinding.

Si Ahli Ta’bir Dadakan perlahan berdiri.
“Eh… aku ada rapat penting dengan… pengurus kebersihan,” katanya sambil mundur pelan.
“Jangan pergi dulu!” teriak Fulan panik. “Kalau ini déjà vu juga gimana?!”

Sejak hari itu, si Ahli Ta’bir Dadakan pensiun dini dari dunia tafsir mimpi. Ia kembali fokus menghafal Alfiyah dan berhenti menafsirkan hal-hal yang bahkan ular pun tidak pernah niat simbolik.

Sementara Fulan?
Alhamdulillah sembuh.
Dan sampai sekarang—masih jomblo.
Kadang yang salah bukan mimpinya.
Tapi yang terlalu percaya diri menafsirkannya.





13/03/2026
Rujak Kecubung Empat Hari Empat MalamDi sebuah pesantren yang adem, penuh jemuran sarung warna-warni dan sandal yang ser...
07/03/2026

Rujak Kecubung Empat Hari Empat Malam

Di sebuah pesantren yang adem, penuh jemuran sarung warna-warni dan sandal yang sering tertukar, hiduplah seorang santri bernama Fikri. Anak ini terkenal dua hal: doyan makan dan sok tahu.
Suatu sore, setelah ngaji kitab kuning yang bikin kepala berasap tipis-tipis, Fikri keliling kebun belakang pesantren. Matanya berbinar melihat buah bulat berduri.
“Wah, ini kayaknya mantap buat rujak,” gumamnya penuh keyakinan yang tidak berdasar.
Tanpa ba-bi-bu, dipetiklah buah itu. Diraciklah rujak ala kadarnya: garam, cabai, gula sedikit hasil pinjam (tanpa izin jelas). Ia pun makan dengan lahap.
Teman-temannya cuma melongo.
“Itu buah apa, Rik?” tanya Hamdan.
“Buah surga,” jawab Fikri mantap.
Ternyata… itu kecubung.
Malamnya, Fikri mulai aneh.
Ia berdiri di tengah kamar, menunjuk kipas angin.
“Wahai burung besi, jangan berputar terlalu cepat! Aku pusing!” teriaknya.
Teman-teman panik.
Besoknya lebih parah. Fikri mengigau, tertawa sendiri, lalu tiba-tiba bilang, “Saya ini raja semut! Semua baris yang rapi itu pasukanku!”
Empat hari. Iya, empat hari Fikri tidak kembali ke mode normal. Kadang ia pidato ke jemuran, kadang debat sama tembok, bahkan pernah minta izin ke sajadah sebelum duduk.
Teman-teman makin bingung.
“Ini pasti kesurupan!” bisik salah satu.
“Panggil ustadz senior! Cepat!”
Datanglah Ustadz Hasyim, ustadz senior yang terkenal kalem dan tatapannya bikin santri langsung tobat dari niat bolos.
Fikri didudukkan. Dibacakan doa. Dipegang kepalanya.
Fikri malah senyum lebar.
“Ustadz… kenapa antum ada tiga?” katanya polos.
Teman-teman makin yakin: ini bukan main-main.
Ruqyah dilakukan. Doa dibaca. Santri lain ikut mengamini dengan wajah tegang.
Tapi anehnya, tidak ada reaksi dramatis. Tidak ada suara berat. Tidak ada pengakuan dari “makhluk tak kasat mata”.
Yang ada cuma Fikri bilang, “Saya lapar…”
Hari keempat, tiba-tiba Fikri bangun seperti orang habis tidur panjang.
Ia lihat teman-temannya mengelilingi dia.
“Kenapa kalian lihat saya kayak lihat pengumuman kelulusan?”
Semua terdiam.
“Kamu nggak ingat apa-apa?” tanya Hamdan.
“Ingat apa? Saya cuma makan rujak kemarin sore…”
Semua saling pandang.
“Rujak apa?” tanya ustadz pelan.
Fikri menjawab dengan bangga yang tersisa, “Itu lho, buah berduri di kebun belakang…”
Ustadz Hasyim langsung tepuk jidat pelan.
“Itu kecubung, Rik. Itu bukan buah buat rujak. Itu bisa bikin orang mabuk dan hilang kesadaran berhari-hari.”
Semua hening.
Empat hari itu… ternyata bukan kesurupan.
Itu efek kecubung.
Sejak hari itu, Fikri dapat julukan baru: “Syekh Empat Hari”.
Dan setiap ada santri baru sok berani coba-coba buah aneh, senior tinggal bilang:
“Ingat Fikri.”
Pesantren pun kembali tenang.
Kecuali kipas angin.
Katanya, dia masih trauma pernah dimarahi “raja semut”.





“Kalau Ipul Teriak ‘Berkat!’ Semua Santri Langsung Lari… Walau Kadang Cuma ‘Berkat Rahmat Allah’ 😅”Di sebuah pondok pesa...
05/03/2026

“Kalau Ipul Teriak ‘Berkat!’ Semua Santri Langsung Lari… Walau Kadang Cuma ‘Berkat Rahmat Allah’ 😅”

Di sebuah pondok pesantren, ada satu kata yang bisa membuat seluruh santri mendadak atlet lari: “BERKAT!”

Begitu terdengar teriakan dari depan pondok,
“Berkat… berkat…!”

Santri dari lantai bawah sampai lantai tiga langsung berhamburan keluar.
Sandal terbalik, sarung dilipat setengah, yang lagi ngaji pun kadang langsung menoleh ke arah suara.

Maklum…
biasanya itu tanda ada kendurenan dari warga yang mengirim nasi kotak untuk santri pondok.

Tapi ada satu masalah kecil.
Yang paling sering memberi aba-aba itu adalah Ipul.
Santri yang satu ini terkenal cerdik, jail, dan gokil.
Kalau Ipul cerita apa pun, biasanya santri lain langsung curiga.
“Ah… paling Ipul ngibul lagi.”
Kecuali satu hal:
teriakan “BERKAT!”

Kalau itu yang teriak Ipul, tetap saja semua orang lari duluan.

Ipul juga punya kebiasaan unik soal mandi sebelum Subuh.
Di pondok itu, kamar mandi cuma beberapa, jadi santri sering antri panjang.
Tapi Ipul punya strategi yang tidak terpikirkan orang lain.
Dia selalu berangkat mandi bareng waktunya Pak Yai.
Karena kamar Pak Yai menyatu dengan kamar santri, biasanya ketika Pak Yai datang ke kamar mandi, santri yang antri langsung berkata,
“Silakan dulu, Yai…”
Semua mundur memberi jalan.
Pak Yai maju ke depan.
Dan… Ipul ikut membuntuti di belakangnya.
Begitu Pak Yai hampir masuk kamar mandi…

SRET!

Ipul langsung menyalip masuk lebih dulu.
Santri lain cuma geleng-geleng kepala.
“Ya sudah… itu Ipul.”

Suatu malam yang sunyi…
Tiba-tiba terdengar suara keras dari luar asrama.

“BERKAT! BERKAT! BERKAT!!!”
Seperti biasa, santri dari semua lantai langsung berhamburan keluar.
Ada yang masih pakai sarung setengah.
bahkan ada yang sambil bertanya,
“Di mana? di mana?”
Semua mencari kotak nasi.
Tapi…
tidak ada apa-apa.

Di tengah kerumunan santri yang bingung, Ipul berdiri santai.
Lalu dengan wajah polos dia berkata,

“Tenang saja…
Masih ada berkat rahmat Allah Subhanahu wa Ta‘ala.”

Mau marah tapi Si ipul gak bisa diajak serius.
“Pul… suatu hari nanti kalau benar ada berkat, kami takut sudah tidak percaya lagi sama kamu!” 😆 gerutu sebagian santri. Dan sebagaian santri yang lain malah menganggap hiburan.

Ternyata bukan cuma kabar buruk yang cepat menyebar…
kabar “berkat ” di pondok, lebih cepat dari sinyal WiFi.





Iqomah Paling Singkat Sepanjang Sejarah PesantrenDi sebuah pesantren kampung yang dikelilingi sawah dan suara jangkrik, ...
04/03/2026

Iqomah Paling Singkat Sepanjang Sejarah Pesantren

Di sebuah pesantren kampung yang dikelilingi sawah dan suara jangkrik, hiduplah seorang santri Jawa yang sederhana. Namanya sebut saja Rofi’i. Badannya sedang, kulitnya sawo matang, kopiahnya hitam agak pudar kena matahari dan wudhu bertahun-tahun.
Rofi’i ini santri baik. Ngajinya tekun, kalau disuruh bersih-bersih paling depan, kalau makan paling belakang. Pokoknya tipe santri yang tidak neko-neko.

Tapi ada satu kelemahannya:
Dia tidak pernah pegang mikrofon.
Suatu malam, setelah pengajian kitab selesai, lampu-lampu masjid sudah menyala temaram. Para santri duduk rapi menunggu shalat Isya.

Tiba-tiba, suara Kiai yang lembut tapi tegas memanggil:
“Fi’i… kamu yang iqomah.”
Rofi’i kaget.
Jantungnya langsung seperti bedug mau takbiran.

“Leres, Yai?” tanyanya lirih.

“Iya. Sekali-kali biar biasa.”

Teman-temannya langsung melirik. Ada yang senyum-senyum. Ada yang sudah menahan tawa karena tahu Rofi’i belum pernah tampil di pengeras suara.
Rofi’i sebenarnya bisa iqomah. Di kamar, kalau latihan, suaranya lumayan. Bahkan kadang lebih keras dari ayam tetangga.

Tapi malam itu beda.

Malam itu ada mikrofon.

Ada speaker.
Dan ada satu pesantren penuh yang siap mendengar.
Ia berdiri. Tangannya sedikit gemetar. Mikrofon terasa seperti alat ujian hidup.

Tarik napas.
“Allahu akbar…”
Suaranya keluar… tapi separuh.
Seperti orang bangun tidur dipaksa pidato.

“Allahu akbar…”

Teman belakang sudah mulai saling sikut.
Harusnya lanjut dengan tertib dan tenang.
Tapi karena grogi, otaknya seperti kitab yang kebalik halamannya.

Dengan kecepatan tinggi dan penuh kebingungan, ia melanjutkan:
“Laa ilaha illallah…”
Diam.
Hening.
Para santri menoleh.
Ada yang berbisik, “Lho… itu penutupnya kan?”

Rofi’i panik.
Dia merasa sudah terlalu jauh melompat. Maka ia buru-buru menyudahi sebelum makin salah.

Selesai.

Iqomah paling ringkas, padat, dan membingungkan dalam sejarah pesantren.
Masjid hening sepersekian detik.
Lalu terdengar suara Kiai berdehem pelan.
Bukan marah. Bukan kecewa.
Beliau hanya berkata lembut:

“Fi’i… itu iqomah apa trailer?”

Seketika masjid pecah oleh tawa yang ditahan-tahan sejak tadi. Bahkan Rofi’i sendiri akhirnya ikut tertawa sambil menutup wajah dengan sarungnya.
Malam itu, shalat tetap khusyuk.

Tak ada yang mengejek. Tak ada yang merendahkan.
Besoknya?
Rofi’i disuruh iqomah lagi.
Dan kali ini… masih grogi, tapi tidak loncat ke akhir dulu.

Sejak malam itu, setiap ada santri baru grogi tampil, teman-temannya selalu bilang:
“Tenang saja. Yang penting jangan kayak Rofi’i, langsung ‘Laa ilaha illallah’.”

Dan Rofi’i?

Ia sekarang sudah biasa pegang mikrofon.
Kadang malah suaranya paling lantang.

Yang membuat kita besar bukan karena tidak pernah salah, tapi karena berani berdiri lagi setelah ditertawakan.
Di pesantren, salah itu biasa.
Yang luar biasa adalah tetap sederhana… dan tetap mau belajar.
Dan begitulah, dari iqomah yang terlalu cepat, lahirlah keberanian yang pelan-pelan tumbuh. 🌾





Kopyah Ora Jaman, Nanging Isih Nyimpen KenanganDi pondok dulu, ada satu teman yang tak pernah ganti kopyah.Kopyahnya hit...
02/03/2026

Kopyah Ora Jaman, Nanging Isih Nyimpen Kenangan

Di pondok dulu, ada satu teman yang tak pernah ganti kopyah.
Kopyahnya hitam, tapi sudah tidak hitam lagi. Agak kemerahan, mungkin terlalu sering kena hujan waktu jemur baju, atau terlalu setia menemani sujud sampai warnanya ikut lelah.

Kalau santri lain tiap tahun ganti model — ada yang lebih tinggi, ada yang lebih mengkilap — dia tetap dengan kopyah itu. Tipis. Kusam. Mirip kopyah yang sering dipakai mbah-mbah dukun kampung kalau orang Jawa bilang.

Lima tahun setelah kami boyong dari pondok, kami dipertemukan lagi di sebuah acara.
Aku langsung senyum geli.

“Lho, kopyahmu kok isih kuwi wae?” tanyaku.
Ia tersenyum. Senyum santri yang kalem, tidak grusa-grusu.
“Kopyah iki istimewa,” katanya pelan.

“Istimewa piye?”
Ia menghela napas kecil, seperti membuka lembar kenangan.

“Wektu mbah kyai masih sugeng, pernah nyekel kopyah iki pas tak pakai. Beliau sambil guyon bilang, ‘Kopyahmu wes wayahe ganti.’”
Ia tertawa kecil.

“Tapi bagiku, sejak itu kopyah iki rasane beda. Ono barokah saking sentuhan tangan beliau.”
Matanya nampak jelas memeram rindu yang tak kenal kata sampai. Bukan karena kopyahnya, tapi karena rindunya pada sang guru.

Aku diam. Tiba-tiba kopyah kusam itu tidak lagi terlihat jelek. Ia berubah menjadi saksi cinta seorang murid pada gurunya.

Dua puluh tahun berlalu.
Rambut nya mulai diselingi uban meski belum serame lampu di jalan. Perut sudah tidak sekencang dulu waktu lari ke masjid karena takut telat jamaah.

Suatu sore kami bertemu lagi.
Tapi ada yang beda.

Kopyahnya hitam pekat. Baru. Tegap. Cocok dengan bajunya yang rapi.
Aku langsung mendekat.

“Lho… kopyah lawasmu ngendi?”
Ia melihat kanan kiri. Lalu mendekat sambil berbisik,

“Ssst… pelan-pelan.”

Aku makin penasaran.

“Istriku ngamuk-ngamuk nek tak pakai kopyah kuwi terus. Katanya isin-isini. Koyo ora duwe kopyah liyane,” katanya setengah malu.

Ia terdiam sebentar. Lalu cepat-cepat menambahkan, seolah sedang membela diri,
“Tapi isih aman kok. Tak simpen neng lemari. Dibungkus apik.”
Aku tertawa. Ia ikut tertawa.

Di balik tawa itu, aku sangat faham, cinta itu semakin bertambah usianya ia akan kembali menempati rumah aslinya yaitu "Hati.





“Mbadali Berkat, Bukan Berpidato”Di Leteh Rembang, hiduplah seorang santri lugu yang terkenal polos tapi penuh percaya d...
01/03/2026

“Mbadali Berkat, Bukan Berpidato”

Di Leteh Rembang, hiduplah seorang santri lugu yang terkenal polos tapi penuh percaya diri. Ia mondok sekaligus penderek Kyai Syarofuddin, seorang kyai kharismatik yang kondang pidatonya.

Suatu sore, selepas shalat Ashar, ada acara syukuran di rumah salah satu warga. Kyai berhalangan hadir karena ada tamu penting. Maka dipanggillah si santri lugu itu.

“Cung… nanti kamu mbadali Saya ya,” dawuh Kyai singkat.
Santri itu langsung menjawab penuh percaya diri,
“Siap, Yai!”

Di benaknya, tugas itu terasa ringan. “Mbadali” menurut pemahamannya sederhana saja: menggantikan Kyai untuk menghadiri undangan. Duduk manis, makan seperlunya, bawa pulang nasi berkat. Selesai.

Sore itu ia datang dengan sarung terbaiknya. Wajahnya sumringah. Duduk paling depan, seolah-olah memang utusan resmi pesantren.

Acara dimulai. MC membuka dengan khidmat. Lalu tibalah sesi sambutan dan doa.
“Baik, selanjutnya kami persilakan wakil dari Kyai Syarofuddin Leteh untuk memimpin doa sekaligus memberikan mau’idzah hasanah…”

Panitia berjalan mendekat, menyerahkan mikrofon tepat di tangannya.
Santri itu mendadak pucat.

“Lho… lho… ini buat apa?” bisiknya panik.

“Silakan, Kang. Panjenengan badalipun Yai, nggih,” jawab panitia ramah.
Dengan tangan gemetar, ia berdiri. Mikrofon sudah di tangan. Semua mata tertuju padanya.

Ia berdehem sekali. Dua kali.

Lalu dengan suara jujur tanpa tedeng aling-aling ia berkata:
saya cuma disuruh mbadali kok…”

Hening.

Beberapa orang mulai saling pandang.
Ia melanjutkan dengan nada sungguh-sungguh,

“Saya kira mbadali itu cuma wakil ngambil berkat… bukan wakil ceramah…”

Beberapa detik suasana membeku. Lalu terdengar tawa pecah dari belakang. Ibu-ibu menutup mulut, bapak-bapak menunduk menahan geli.





“Lambaian dari Selokan Utara”Tahun 2000.Seusai jamaah Ashar di Pondok Langitan, suasana berubah jadi “jam rekreasi”. 😄Se...
28/02/2026

“Lambaian dari Selokan Utara”

Tahun 2000.
Seusai jamaah Ashar di Pondok Langitan, suasana berubah jadi “jam rekreasi”. 😄

Sebagian santri berjalan ke maqbaroh masyayikh, menunduk khidmat.
Sebagian lagi ke arah barat, menuju tambangan Desa Selawe, sekadar cari angin sore.
Dan ada rombongan “pencari inspirasi” yang sengaja belok ke utara — melewati tambak belakang kantin.

Alasannya?
Pemandangan sawah, tambak, langit senja… dan—kalau lagi beruntung—dari lantai tiga Madrasah Mujibiyah terlihat bayangan santri putri yang sedang berdiri di kejauhan.
Maklum… santri tidak boleh ketemu.

Jarak kurang lebih 200 meter terasa seperti 2 meter di hati yang sedang “bersemangat”. 😅
Di antara rombongan itu, ada satu teman kami yang kalau merasa diperhatikan, mendadak berubah jadi artis ibu kota.

Jalannya dibuat gagah.
Langkahnya diperlebar.
Senyumnya ditata.

Begitu merasa “sepertinya ada yang melihat”, ia mulai over akting.
Tangannya melambai-lambai seperti selebriti yang baru turun dari panggung.
Dada dibusungkan.
Wajah penuh percaya diri.

Kami sudah berbisik,
“Pelan-pelan… got di depan…”
Tapi mungkin suara kami kalah oleh suara imajinasinya sendiri.
Takdir berkata lain.
Kakinya menginjak tanah licin.

Dan… byurrr!

Ia terperosok ke got comberan yang mengalir ke utara.
Airnya hitam.
Aromanya… cukup untuk menghapus rasa percaya diri siapa pun. 😆

Kami terpaku.
Santri putri di kejauhan mungkin juga terpaku.

Yang lebih unik?
Dalam keadaan berlumur comberan, berdiri setengah basah setengah malu…
Ia masih sempat mengangkat tangan.

Melambai lagi.

Seolah berkata,
“Tidak apa-apa… ini bagian dari pertunjukan.”

Sejak hari itu, kalau ada yang terlalu caper, kami hanya berkata,
“Hati-hati… utara masih punya got.” 😄

Dan pelajaran sore itu sederhana:
Jangan terlalu sibuk terlihat hebat di mata manusia,
sampai lupa melihat jalan di depan mata sendiri.





SI CERDIK SELALU BISA TAMPIL PINTARDi setiap pondok, selalu ada satu nama yang kalau dipanggil, para ustadz sudah menari...
27/02/2026

SI CERDIK SELALU BISA TAMPIL PINTAR

Di setiap pondok, selalu ada satu nama yang kalau dipanggil, para ustadz sudah menarik napas lebih dulu.
Di pondok itu, namanya—sebut saja— kang bejo.
Bukan nama sebenarnya. Tapi sifatnya? Asli.

Ia langganan ta’zir. Terlambat madrasah. Malas sorogan. Setoran hafalan sering kosong. Kalau teman-temannya membawa kitab penuh coretan makna gandul, kitabnya masih bersih seperti baru dari percetakan.

Ustadznya sudah hafal pola hidup bocah ini.

Sampai suatu pagi, kang bejo datang terlambat lagi.
“Berdiri!” perintah ustadz tegas.
Satu jam pelajaran penuh ia berdiri di belakang kelas.

Ustadz yang memang sudah lama menyimpan jengkel, hari itu seperti mendapat momentum.

“Hafalan Alfiyahmu sampai bab apa?” selidik beliau, dengan nada yang bukan sekadar tanya—tapi juga ancaman tambahan hukuman.

Kang bejo menjawab santai, seolah tak berdiri dihukum.
“Sampai Bab Lau, Pak.”
Kelas langsung hening.

Bab Lau? Itu sekitar bait tujuh ratusan lebih dalam Alfiyah Ibnu Malik karya Ibnu Malik.
Mana mungkin santri seperti dia sudah sejauh itu?

“Santri kaya kamu sampai bait 700 lebih?” tanya ustadz dengan sorot mata tajam.

“Enggih, Pak. Saya tiap hari menghafalkan.”

Ustadz mendekat.
“Coba Bab Lau. Bunyinya bagaimana?”

Tanpa ragu, kang bejo melantunkan:
لو حرف شرط في مضي ويقل
ايلاؤه مستقبلا لكن قبل
Ia lanjutkan sampai selesai satu bab. Lancar. Tanpa jeda. Tanpa salah.
Karena memang… satu bab itu cuma tiga bait.

Bel istirahat berbunyi tepat ketika ia menutup hafalannya.
Ustadz terdiam. Raut wajahnya melunak. Dalam hati mungkin terbersit harapan:
“Anak ini berubah…”

Sore harinya, di kamar pondok, aku mendekatinya.
“Sejak kapan kamu jadi secerdas ini?” tanyaku penasaran.
“Hafal sampai 700 lebih, loh.”

Ia merebahkan badan di lantai dengan bantal usang yang setia. Wajahnya tetap santai.
Lalu dengan nada datar ia berkata:

“Seribu bait yang kuhafalkan… Bab Lau doang.”

Aku terkagum dengan sosok yang kuanggap selalu beruntung yang seperti selalu lolos dari lubang jarum dengan ide cerdasnya.

Ternyata, setiap hari ia memang menghafal.
Tapi yang dihafalkan… tiga bait itu lagi, tiga bait itu lagi.

Dan entah kenapa…
sejak saat itu, setiap mendengar kata “لو”… aku selalu ingat wajah polos kang bejo yang penuh percaya diri.





KETIKA KESAKTIAN PANCASILA DI UJIMalam itu gelapnya seperti sengaja diturunkan lebih pekat dari biasanya. Angin berdesir...
26/02/2026

KETIKA KESAKTIAN PANCASILA DI UJI

Malam itu gelapnya seperti sengaja diturunkan lebih pekat dari biasanya. Angin berdesir lirih, daun-daun berbisik seperti menyimpan rahasia. Di pinggir jalan kampung, berdiri satu pohon jambu air yang rindangnya seperti payung raksasa. Dan di atasnya… ada aku. Siap menjadi “hantu dadakan”.

Sejak sore aku sudah punya niat jahil. Ada satu santri kecil yang ikut ngaji kalongan—datang pas ngaji, pulang habis itu, tak mau bermukim. Katanya penakut sekali kalau soal gelap dan cerita setan.

“Seru kali ya kalau aku kerjai,” pikirku.
Sehabis adzan Isya’, aku sudah nangkring di atas pohon jambu air. Di tanganku ada kelintingan kecil yang biasanya dipasang di kambing. Aku ikatkan di dahan yang agak lentur. Strateginya sederhana: goyang pohon, bunyi kelintingan, dia lari tunggang-langgang. Sempurna!

Tak lama kemudian, dari kejauhan terdengar langkah sandal kecil diseret-seret. Itu dia. Sendirian. Bayangannya memanjang diterpa lampu jalan yang temaram.
Aku tahan napas.

Satu… dua… tiga…

Krek… krek…

Kugoyang dahan pelan.

Kelinting… kelinting…

Langkahnya langsung terhenti. Kaku. Diam seperti patung. Aku hampir tertawa tapi kutahan.

Kugoyang lagi, lebih keras.

Kelinting-kelinting-kelinting…

Seketika dia menengadah ke arah pohon. Wajahnya pucat. Bahunya gemetar. Tangannya naik menutup dada.
Lalu dengan suara bergetar dia mulai membaca:

“Allaahu laa ilaaha illaa huwa…”

Ayat Kursi meluncur, tapi seperti mobil kehabisan bensin. Tersendat-sendat.
Aku makin semangat. Pohon kugoyang lebih keras.
Daun-daun berguguran. Kelintingan berbunyi semakin liar.

Bocah itu makin panik.
“Bismillaaahirrahmaaanirrahiim… Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin…”

Al-Fatihah ditembakkan seperti peluru. Cepat sekali. Huruf-hurufnya saling tabrak. Nafasnya ngos-ngosan. Entah gugup, entah hafalannya kabur.
Aku sampai harus menggigit bibir agar tidak ketahuan tertawa.

Tiba-tiba bacaannya berubah.

“Pancasila satu! Ketuhanan Yang Maha Esa!”

Aku hampir tersedak.

Dia lanjut, masih gemetar:
“Dua! Kemanusiaan yang adil dan ber—”

Belum selesai sila kedua, tawaku meledak.
“Hahahaha!”

Karena terlalu keras tertawa dan kehilangan keseimbangan, kakiku terpeleset. Dahan yang kupijak patah.

Brak!

Aku jatuh dari pohon dengan suara yang jauh lebih seram daripada kelintingan tadi.
Sekarang gantian aku yang meringis kesakitan sambil memegangi pinggang.

Ia memandangku dengan serius, seperti mengecek hantu tipe model yang gimana.?.

Ternyata Hantu juga butuh kreatifitas untuk tampilnmenyeramkan.





Amplop Beda kasta. Simbah Kyai  Abdul Mujib Sidomulyo Ponggok Blitar memang kondang tirakatnya; para santri dan tamu ser...
26/02/2026

Amplop Beda kasta.

Simbah Kyai Abdul Mujib Sidomulyo Ponggok Blitar memang kondang tirakatnya; para santri dan tamu sering bercerita tentang laku prihatin beliau; maka orang-orang pun maklum bila Allah memberi beliau kelebihan.

Suatu hari di serambi masjid Ponpes Miftahul Huda samping ndalem yang halamannya luas itu; Simbah Dawuh dengan tenang; “Nanti ada tamu; membawa amplop isi tujuh puluh ribu.” Saya yang duduk di serambi hanya diam; dalam hati sudah kagum duluan.
Tidak lama kemudian; sebuah mobil dari Surabaya masuk pelan-pelan ke halaman; debunya tipis berterbangan; pintu mobil terbuka; seorang bapak turun dengan wajah sungkan. Simbah Kyai segera bangkit; melangkah menyambut dengan antusias ; menyalami; mempersilakan duduk; karena bagi beliau tamu harus dimuliakan.

Tamu itu menyampaikan hajatnya dengan suara pelan; Simbah Kyai mendengarkan penuh perhatian; lalu mengangkat tangan; mendoakan dengan khusyuk; suasana hening; hanya suara angin dan ayam di halaman.
Setelah selesai; tamu pamit; menyalami kembali; lalu menyerahkan sebuah amplop putih; mobilnya bergerak perlahan meninggalkan ndalem.

Simbah Kyai membuka amplop itu, ternyata isinya hanya dua puluh ribu. Beliau bersuara agak keras; seperti orang mengadu manja kepada Gusti Allah;
“Ya Allah; katanya tujuh puluh ribu; ini kok cuma dua puluh ribu.”
Saya tertegun; belum sempat berpikir; mobil yang membawa tamu tadi kembali lagi; masuk halaman lagi; berhenti tergesa. Tamu itu turun dengan wajah cemas; berkali-kali mohon maaf; katanya dari rumah niatnya memasukkan tujuh puluh ribu; ternyata yang terbawa amplop dua puluh ribu; uangnya lalu ditambah lima puluh ribu hingga genap tujuh puluh ribu. Saya makin yakin; dalam hati berkata : Simbah Kyai memang Sakti.

Beberapa hari kemudian saya sowan; dengan polos saya minta diajari ilmu supaya bisa menebak hari ini dapat uang berapa. Simbah Kyai hanya tersenyum tipis; lalu dawuh singkat; “Besok kamu bisa sendiri.” Hati saya langsung adem; merasa mendapat berita masa depan.

Waktu berlalu; saya pulang ke rumah; bahkan berniat tidak kembali ke pondok.

Entah bagaimana awalnya; orang-orang datang minta bantuan; ada yang curhat; ada yang tanya ini itu; tahu-tahu saya disebut dukun (Risih disebut dukun, terpaksa yo.. mau bagaimana lagi) siapa yang memulai menyebar kabar itu saya tidak tahu; siapa pelanggan pertama saya pun sudah tidak ingat lagi.

Suatu malam ada tamu datang; bercerita panjang; saya pasang wajah serius meski dalam hati bingung; setelah selesai ia pamit; menyerahkan amplop. Karena kebutuhan sedang mendesak; saya ingin cepat tahu isinya; namun amplop itu di lem rapet, di depannya tertulis nama tamu yang bawa amplop tadi. tidak mungkin dibuka tanpa disobek.

Kesuwen _ Saya sobek pelan-pelan di sisi kiri; hati-hati sekali (takut uangnya ikut robek) tangan sampai gemetar sedikit. Uang berhasil keluar; saya lihat; isinya dua puluh ribu.
Belum tiga menit, tamu tadi kembali; wajahnya malu; katanya;
“Maaf; amplopnya ketuker buat buwoh.” Jantung saya serasa copot ; amplop sudah sobek; pinggirnya menganga; uangnya mengintip dari celah.
Dengan wajah panas dan senyum kaku; saya serahkan amplop (dengan sobekan semplah -semplah) itu kembali.





Address

Pandean Rt. 05 Rw. 01 Sidomukti , Kepohbaru
Bojonegoro
62194

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Majlis Sambel Terong R2 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category