19/03/2026
Di serambi asrama, selepas ngaji kitab kuning, dua santri duduk selonjoran. Angin malam menggerakkan sarung yang dijemur, sementara lampu bohlam menggantung dengan cahaya seadanya.
Si Fulan datang dengan wajah pucat.
“Aku tadi malam mimpi dikejar dan dipatok ular,” katanya pelan, seperti baru kehilangan sandal sebelah.
Temannya yang hobi baca primbon—sebut saja si Ahli Ta’bir Dadakan—langsung duduk tegak.
“Wah!” katanya mantap. “Kamu akan segera dapat jodoh.”
“Mooso?” Wajah Fulan langsung berbinar seperti habis dapat kiriman dari rumah.
“Iya. Ular itu simbol pasangan. Patokan itu tanda ikatan. Artinya kamu akan dipinang takdir.”
Fulan pun dua hari itu berjalan lebih tegap. Senyum-senyum sendiri. Setiap ada santri putri lewat depan ndalem ibu nyai, dia langsung rapikan peci.
Dua hari kemudian…
Terdengar teriakan dari kebun belakang pondok.
“Tolong! Ulaaaar!”
Ternyata Fulan benar-benar dipatok ular. Ular asli. Bukan simbol. Bukan metafora. Ular sungguhan yang tidak pernah baca buku tafsir mimpi.
Kaki kirinya diperban. Ia terbaring lemas di klinik kecil pesantren.
Si Ahli Ta’bir Dadakan datang membesuk, membawa buah tangan: pisang dan rasa bersalah.
“Ehm… kadang mimpi itu déjà vu,” katanya mencoba ilmiah. “Terulang di kehidupan nyata.”
“Lho, moso?” Fulan menatap dengan wajah campuran bingung dan takut.
“Lha mimpimu jadi kenyataan kan?”
Fulan terdiam. Wajahnya makin pucat.
“Kenapa?” tanya si penafsir.
Fulan menelan ludah.
“Tapi… aku tadi malam mimpi mati…”
“HAAAH?!”
Pisang jatuh. Hening. Angin lewat seperti ikut merinding.
Si Ahli Ta’bir Dadakan perlahan berdiri.
“Eh… aku ada rapat penting dengan… pengurus kebersihan,” katanya sambil mundur pelan.
“Jangan pergi dulu!” teriak Fulan panik. “Kalau ini déjà vu juga gimana?!”
Sejak hari itu, si Ahli Ta’bir Dadakan pensiun dini dari dunia tafsir mimpi. Ia kembali fokus menghafal Alfiyah dan berhenti menafsirkan hal-hal yang bahkan ular pun tidak pernah niat simbolik.
Sementara Fulan?
Alhamdulillah sembuh.
Dan sampai sekarang—masih jomblo.
Kadang yang salah bukan mimpinya.
Tapi yang terlalu percaya diri menafsirkannya.