16/09/2025
☀️ Pagi ini, kopi arabika dari Gunung Ijen terasa lebih hangat dari biasanya…
Langit cerah tanpa awan, tapi di balik secangkir kopi ini, ada cerita yang sedang ramai dibicarakan.
Beberapa waktu lalu, ada 1–2 pelanggan dalam negeri yang bertanya serius soal harga kopi Ijen Lestari. Dari ratusan pelanggan dalam dan luar negeri, tentu suara sekecil apa pun tetap kami dengarkan. Karena kami percaya, usaha ini bisa bertahan bukan hanya dengan pujian, tapi juga lewat kritik.
Lalu, kenapa harga kopi naik?
Mari kita cerita sedikit…
Brasil dan Kolombia adalah dua raksasa kopi dunia. Tahun ini, gejolak ekonomi global dan perang tarif membuat harga arabika melonjak tajam. Data Trading Economics mencatat:
☕ Juli–Agustus: sekitar $280/lbs
☕ September: tembus $380–400/lbs
Artinya, naik 35% hanya dalam hitungan minggu.
Indonesia, termasuk Ijen Lestari, kebagian dampaknya. Permintaan naik, harga terdorong. Tapi… apakah kami senang harga naik tinggi? Tidak sepenuhnya. Karena bisnis kopi sebenarnya butuh stabilitas, bukan lonjakan mendadak. Lonjakan hanya membuat rantai ekosistem—petani, prosesor, roastery, café, hingga penikmat—ikut terguncang.
Kami di Ijen Lestari tetap berkomitmen menjaga apa yang diwariskan almarhum pendiri kami, Dandy Dharmawan. Dengan SOP dan standar mutu yang beliau tinggalkan, kami pastikan hanya biji terbaik yang lolos, meski berarti harus menyisihkan banyak demi kualitas. Dan ya, itu berarti ada biaya ekstra, apalagi di tengah harga bahan baku yang sudah melambung.
Karena kami percaya:
👉 Kalau hanya murah yang dicari, jangan harap kualitas yang didapat.
Di tahun yang penuh tantangan ini, tujuan kami sederhana: keberlanjutan untuk semua. Agar petani tetap sejahtera, proses tetap berjalan, café bertahan, dan para pecinta kopi masih bisa menikmati cita rasa terbaik dari Gunung Ijen.
✨ Bagaimana menurut kalian, apakah harga kopi yang naik ini seharusnya jadi kabar baik untuk petani, atau justru ujian berat bagi penikmat kopi?