18/09/2026
“Penuhi kewajibanmu sebagai suamiku selama dua bulan. Jika aku tidak hamil, aku akan pergi dan tak akan menuntut apa pun. Tapi jika aku hamil, kamu harus membatalkan pernikahan dengan kekasihmu itu.”
Aku menyetujui syarat istriku dengan percaya diri. Bagiku dia mustahil bisa hamil. Bukankah selama ini dia dikenal janda man dul? Tapi, di bulan madu terakhir kami aku dibuat syok karena istriku ternyata masih.....
****
(2)
“Jangan bicara seenaknya, Luvita! Menjadi suamimu selama dua bulan? Kamu bercanda? Aku tidak sudi menyentuhmu. Kamu itu bekas kakakku!”
Suara Mas Alkaz meledak di dalam kabin mobil yang sempit, mengguncang keheningan malam yang semula mencekam. Ia menoleh tajam ke arahku, menatapku dari balik kemudi dengan sorot mata yang sarat akan penolakan dan rasa ji jik yang sengaja ia tampakkan. Rahangnya mengeras rapat, sementara jemarinya mencengkeram lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu, tersulut oleh kelantanganku yang sama sekali tidak ia duga.
Aku menahan napas sejenak di balik kain penutup wajah ini. Merasakan setiap incinya menempel erat di bibirku yang gemetar. Namun, aku menolak untuk terlihat lemah di hadapannya.
“Aku gak pernah bercanda dengan ucapanku, Mas,” balasku tenang. Mataku menatap lurus ke depan, berusaha keras mengontrol intonasi suara agar tak menyisakan celah ketakutan sedikit pun.
“Tidakkah kamu tahu diri, Luvita?” Mas Alkaz terkekeh sinis, sebuah tawa sumbang yang bergema dingin di antara kami. Ia menggelengkan kepala seolah-olah tawaran yang baru saja keluar dari mulutku adalah lelucon paling konyol yang pernah mampir di telinganya. “Untuk apa aku membuang waktu dan tenagaku untuk melayanimu? Menyentuh kulitmu saja aku merasa enggan, apalagi harus menjalankan kewajiban sebagai suami penuh untuk janda mandul sepertimu!”
Kalimat pedas itu menghantam dadaku bagai bilah pisau yang tak kasatmata. Sangat tajam dan merobek sisa-sisa harapan yang pernah kutinggikan di dasar hati. Namun, aku mengepalkan kedua tanganku erat-erat di balik lipatan kain gamisku yang longgar, memaku posisiku agar tidak limbuh oleh makian itu.
“Kenapa, Mas? Kamu takut?” balasku lantang. Kali ini aku menoleh, memusatkan pandanganku persis ke dalam iris matanya yang penuh amarah. “Kamu takut kalau ternyata tuduhan mandul yang selama ini melekat padaku itu salah? Kamu takut kalau nantinya kamu harus menelan ludahmu sendiri dan membatalkan rencana pernikahanmu dengan wanita itu?”
Brak! Mas Alkaz membanting telapak tangannya ke atas lingkar kemudi dengan keras. Mobil SUV tebal ini bahkan sampai terasa bergetar akibat benturan itu.
“Takut?” sentaknya dengan nada tinggi yang dipenuhi keangkuhan murni. “Jangan terlalu percaya diri! Jangan pernah berpikir bahwa keberadaanmu punya nilai tawar di mataku! Aku bisa saja menolak kesepakatan gila ini sekarang juga, tetapi aku ingin melihatmu sadar diri. Aku ingin melihat mukamu sendiri yang hancur saat menyadari betapa sia-sianya harapanmu itu!”
Ia menghela napas kasar, membuang muka ke arah jalan raya yang membentang di depan kami. “Tapi ingat satu hal, Luvita. Aku tidak akan sudi membuang waktu dua bulan penuh untuk terus berada di sampingmu.”
“Lalu apa mau, Mas?” tanyaku dengan nada tegas yang tak bergemuruh.
“Lima hari,” potong Alkaz cepat tanpa memberi ruang untuk kompromi. “Kita pergi bulan madu lima hari saja ke luar kota. Lima hari untuk menyelesaikan kesepakatan ini. Setelah lima hari itu selesai, tidak ada lagi sentuhan, tidak ada lagi kewajiban, dan tidak ada lagi basa-basi di antara kita!”
Ia melirikku kembali, melemparkan senyum miring yang terkesan amat meremehkan. “Dan jika dalam satu bulan kemudian hasilnya tetap nihil kamu tidak hamil, kamu harus angkat kaki dari rumahku. Pergi jauh-jauh tanpa perlu memicu drama atau tangisan di hadapan Nenek!”
Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat. Lima hari. Waktu yang sangat singkat, tetapi sudah lebih dari cukup untuk mempertaruhkan seluruh takdir hidupku ke depan.
“Setuju. Lima hari sudah cukup,” jawabku mantap.
Mas Alkaz tidak mengacuhkanku lagi. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat mobil melaju cepat membelah kegelapan malam tanpa ada satu patah kata pun yang terucap di antara kami hingga sampai di pekarangan rumah.
Sesampainya di kediaman berarsitektur modern dua lantai milik keluarga ini, Mas Alkaz langsung mematikan mesin, membanting pintu mobilnya, dan melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menungguku sedikit pun. Ia meninggalkan aku berjalan sendirian menembus angin malam yang dingin.
Suasana di dalam rumah terasa begitu sepi, hampa, dan asing. Bangunan mewah ini terlalu luas dan terasing untuk dihuni oleh dua orang yang hatinya saling bertolak belakang.
Mas Alkaz berjalan dengan langkah lebar menaiki anak tangga menuju lantai dua, area kamar pribadinya yang terlarang untuk kumasuki. Sementara itu, aku menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar kecil di lantai dasar. Kamar yang menjadi tempatku menghabiskan malam-malam sepi.
Sudah enam bulan pernikahan ini berjalan sejak Nenek memerintahkan kami menikah. Dan sejak malam pertama pernikahan itu dimulai, kami tidak pernah satu kamar. Kami terpisah oleh jarak, dinding, dan ketiadaan rasa cinta. Kami hidup tak ubahnya dua orang asing yang dipaksa bernaung di bawah satu atap yang sama hanya demi mematuhi keinginan Nenek.
“Mas,” panggilku pelan, menahan langkah kakinya yang hampir mencapai pertengahan tangga.
Mas Alkaz menghentikan langkahnya. Ia menoleh setengah badan ke arahku dengan alis terangkat tinggi, memasang ekspresi angkuh yang selalu menjadi perisainya. “Apa lagi?”
“Terima kasih sudah menyetujui kesepakatan ini,” ucapku tulus dari balik kain niqab.
Ia terkekeh sinis, lalu mengulurkan tangan untuk membuka dua kancing teratas kemejanya secara kasar seolah merasa kegerahan. “Simpan ucapan terima kasihmu yang tidak berguna itu, Luvita. Aku menyetujuinya hanya karena aku sudah tidak sabar melihatmu angkat kaki dan menghilang dari hidupku untuk selamanya.”
Tanpa menunggu balasan apa pun dariku, ia melanjutkan langkahnya ke atas. Pintu kamarnya di lantai dua terdengar ditutup dengan dentuman keras yang memantul di seluruh penjuru ruangan.
Aku menghela napas panjang, memutar kunci pintu kamarku sendiri lalu melangkah masuk ke dalam. Aku menutup pintu, bersandar sejenak di balik daun kayu tebal itu sembari melepaskan ikatan niqab yang seharian ini menutupi wajahku.
Di balik cermin rias yang berdiri di sudut kamar, aku menatap bayangan diriku sendiri. Seorang wanita yang selama ini dicap mandul dan tak berguna oleh keluarga besar.
Aku berjalan menuju tepi ranjang dan mendudukkan diri di sana. Kuraih ponsel dari dalam tas kecilku, lalu kubuka aplikasi penyedia jasa perjalanan. Jemariku yang kurus mulai mengusap layar kaca itu, memilah-milah penerbangan serta tempat penginapan yang berada jauh dari keramaian kota.
“Kita butuh tempat yang sepi,” gumamku lirih pada diri sendiri. “Tempat di mana kita bisa fokus menyelesaikan lima hari ini tanpa ada campur tangan atau gangguan dari siapa pun.”
Ibu jariku tertahan di salah satu resort privat di tepi pantai yang menawarkan ketenangan mutlak. Namun, baru saja aku hendak mengetuk opsi pemesanan tersebut, sebuah suara nyaring mendadak memecah keheningan malam yang sunyi di rumah ini.
Ting-tong! Ting-tong! Suara bel pintu depan bergema berulang kali dengan nada tergesa-gesa.
Aku mengerutkan dahi, mengalihkan pandangan ke arah jam digital di layar ponselku. Angka menunjukkan pukul 22.45 malam. Siapa bertamu di jam segini dengan begitu tidak sabaran?
Tak lama kemudian, derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menggelegar dari lantai atas. Alkaz sepertinya ikut terganggu oleh suara bel tersebut. Ia turun menuruni tangga dengan langkah cepat, wajahnya tampak tegang dan gusar. Tanpa menoleh ke arah kamarku, ia langsung berjalan menuju pintu utama dan memutar gagang pintunya dengan kasar.
Klek. Daun pintu kayu tebal itu terbuka lebar. Aku yang penasaran segera mengenakan kembali kain penutup wajahku dengan cepat, lalu menyibak sedikit celah pintu kamar untuk mengintip ke arah lorong depan.
Seorang wanita bertubuh jangkung dengan pakaian modis dan rambut panjang bergelombang berdiri di ambang pintu. Riasan wajahnya agak luntur, sementara kedua matanya tampak sembab dan terus mengucurkan air mata.
“Mayang?” suara Mas Alkaz yang semula keras mendadak berubah panik, disusul oleh nada lembut yang tak pernah sekalipun ia gunakan saat berbicara padaku. “Kamu... kenapa malam-malam ke sini? Ada apa, Mayang?”
“Al...” wanita itu langsung menubrukkan tubuhnya ke dada Mas Alkaz. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Mas Alkaz dengan erat, menangis sesenggukan tepat di hadapan mataku yang menyaksikan dari kejauhan. “Aku gak bisa menunggu lebih lama lagi! Orang tuaku menuntut kepastian! Mereka mau menjodohkanku dengan pria lain minggu depan kalau kamu gak segera menikahi aku!”
Selengkapnya baca di aplikasi KBM app
Judul : Bulan Madu Terakhir
Penulis: Queensunrise