14/07/2025
"Ilmu itu bukan untuk gagah-gagahan. Tapi untuk diamalkan, untuk membetulkan hati dan memperbaiki akhlak."
— KH. Hasyim Asy’ari —
فَيَجِبُ عَلَى الْمُتَعَلِّمِ أَنْ يَقْصِدَ بِتَعَلُّمِهِ وَجْمِيعِ أَنْوَاعِ طَلَبِهِ وَتَصَرُّفَاتِهِ فِي تَعَلُّمِهِ وَفِي مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ – نَيْلَ رِضَا اللهِ تَعَالَى وَالْحَيَاةَ الْأَبَدِيَّةَ فِي جِوَارِ اللهِ فِي دَارِ كَرَامَتِهِ، وَلَا يَقْصِدَ بِهِ الْجَاهَ وَالرِّئَاسَةَ وَالْمَالَ وَمُفَاخَرَةَ الْأَقْرَانِ وَمَيَادِينَ الْخُصُومَاتِ، فَيَحْرِمَ النَّفْعَ وَالْبَرَكَةَ.
“Wajib atas penuntut ilmu untuk meniatkan seluruh aktivitas belajarnya semata-mata karena mengharap ridha Allah dan kehidupan abadi di sisi-Nya dalam surga-Nya. Ia tidak boleh meniatkan ilmu untuk mencari kedudukan, jabatan, harta, pamer kepada sesama, atau debat-debat kosong. Jika ia meniatkan itu, maka ia akan terhalang dari manfaat dan keberkahan ilmu.”
(Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim, hlm. 5)
Di tengah zaman di mana gelar dan status keilmuan begitu diagung-agungkan, beliau mengingatkan: ngaji iku dudu golek kemulyan di hadapan manusia, tapi kanggo mbenahi awak lan ati.
Berapa banyak orang pandai, tapi tidak rendah hati?
Berapa banyak hafal dalil, tapi akhlaknya tipis?
Ilmu sejati adalah yang membuatmu semakin takut kepada Allah, dan semakin lembut kepada sesama.
اللهم ارزقنا العلم النافع والعمل الصالح والنية الخالصة