02/07/2026
Belakangan ini, publik sedang dihebohkan oleh program pelatihan calon manajer Kopdes yang dinilai melenceng dari kebutuhan. Alih-alih fokus pada bisnis, para peserta justru diajari latihan menembak, ketangkasan fisik, menyelam, hingga materi penyamaran lingkungan.
Padahal, tugas utama seorang manajer Kopdes adalah mengelola lembaga ekonomi desa, membaca peluang usaha, dan menggerakkan roda perekonomian warga.
​Kejanggalan ini membuat masyarakat mulai membandingkannya dengan fenomena Warung Madura. Seperti yang kita tahu, Warung Madura tersebar subur di berbagai sudut kota hingga pinggiran.
Menariknya, mereka tidak pernah belajar teori manajemen formal. Keberhasilan mereka murni lahir dari pengalaman otodidak dan kuatnya solidaritas sesama perantau.
​Terbukti, tanpa perlu latihan tempur, menyelam, atau meneriakkan yel-yel, Warung Madura justru sangat tangguh. Mereka beroperasi di ruang-ruang kecil, menyebar, bahkan berani bersaing langsung dengan raksasa ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart.
Hebatnya lagi, mereka siap siaga buka 24 jam dan mentalnya sudah teruji menghadapi berbagai risiko kriminalitas. Pada akhirnya, warung sederhana ini terbukti nyata mampu menopang ekonomi keluarga sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan di Indonesia.