25/09/2024
Banyak orang yang mempertanyakan kurikulum Merdeka yang saat ini diterapkan di Indonesia. Mereka membandingkannya dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, seperti KTSP atau K13, dan merasa hasil pendidikan di masa lalu lebih baik.
Saya sendiri gak bisa mengambil kesimpulan mana yang terbaik. Apalagi ini adalah wewenang pemangku amanah yang telah ditunjuk oleh pemerintah. Namun, bagi saya, apapun kurikulumnya, tanggung jawab utama dalam menciptakan kegiatan belajar yang efektif tetap ada di tangan sekolah dan para guru.
Kurikulum mungkin dibuat sebagai panduan. Namun pada kenyataannya banyak sekolah yang tidak mengimplementasikannya, dan berusaha memodifikasi sesuai kekhasan sekolah yang sejalan dengan visi misi lembaga atau yayasan.
Kurikulum dari pemerintah ibarat rambu-rambu yang harus dipasang di sepanjang jalan pendidikan siswa. Adapun rambu2 itu mau dipasang di KM berapa, di persimpangan mana, di waktu kapan, adalah tugas kreatif sekolah agar dapat menyesuaikan pengelolaan pendidikan agar menghasilkan siswa yang berkembang secara mental, sosial, dan keterampilan.
Sebagaimana teknologi, perubahan kurikulum adalah hal akan terus terjadi. Apalagi kalau sudah bersifat politis. Makanya sekolah tidak seharusnya terpaku pada isi kurikulum tanpa inovasi, karena kalau ngikut plek ketiplek, ya gitu deh...
Saat penerapan KTSP, K13 hingga Kurmer, banyak kok sekolah yang tetap melahirkan siswa-siswa berprestasi dan berdaya.
Kalaupun sekarang muncul hasil penelitian yang menunjukkan penurunan kemampuan pelajar Indonesia karena adanya penggantian kurikulum, jangan-jangan bukan kemampuan siswa kita yang menurun, tapi kemampuan beradaptasi sekolah kita yang rendah.
Jadi, daripada saling menyalahkan dan mencari pembenaran, alangkah lebih baik jika semua pihak baik sekolah, guru, dan orang tua, bekerja sama untuk mendidik anak-anak menjadi pribadi yang cerdas, sholeh, dan berprestasi.
Beradaptasi dan berkolaborasi bisa jadi kunci.