Syahbarul Ain Munthe

Syahbarul Ain Munthe Visi
Tumbuh bersama menembus batas-batas perbedaan. Sekarang ini layanan PPOB dapat dengan mudah ditemukan di setiap daerah.

Peluang Bisnis PPOB

PPOB atau Payment Point Online Bank adalah istilah yang sering digunakan oleh penyedia jasa pembayaran secara online terhubung dengan internet yang menggunakan jasa bank. Selain fungsi utama sebagai tempat penyimpanan uang/tabungann dan menyalurkan dana kredit, bank juga melayani pembayaran tagihan PLN, Telkom, Air PDAM, Leasing, dan sebagainya. Bisnis loket PPOB memberi kemud

ahan kepada para pelanggan (customer) untuk membayar tagihan, biaya langganan, atau kewajiban-kewajiban lainnya tanpa harus jauh-jauh pergi ke perusahaan terkait. Meskipun telah sangat mengefisienkan proses pembayaran, trend bisnis loket PPOB semakin lama akan semakin tergantikan oleh sistem POP (Personal Online Payment) dimana pelanggan tidak perlu lagi keluar rumah untuk membayarkan kewajibannya. Pembayaran dapat diselesaikan hanya melalui handphone miliknya. Pelanggan cukup menjalankan aplikasi Veritra Pay dan memilih menu pembayaran yang sesuai dengan kebutuhannya. Tidak hanya terbatas pada pembayaran kewajiban pribadi, pelanggan juga bisa membayarkan tagihan orang lain. Dengan kata lain Veritra Pay bisa menjadi alat bisnis yang canggih untuk Anda. VPay (Veritra Pay)

VeritraPay adalah aplikasi Personal Online Payment dimana setiap mitra yang terverifikasi dapat melakukan pembayaran-pembayaran berupa:

A. Pembayaran Kebutuhan

Kewajiban Bulanan (Listrik, Jastel, Finance/KKB, PDAM, TV Berbayar, Internet, Asuransi, Kartu Kredit, dll)*
Kebutuhan Berkala (Pengisian Pulsa, top up Smart Card seperti ; BCA Flash, E-Toll Card, dll)*
Voucher Game Online
LifeStyle (tiket konser, tiket nonton)**
Tiket Perjalanan (tiket kereta, tiket bus, tiket travel, tiket pesawat, dll)**
Keagamaan (zizwaf, infaq, dll)**
Pendidikan (spp, pendaftaran kuliah, dll)**
Pajak (BPHTB, PBB, dll)**

B. Rekan (Rekening Antara / escrow)**
C. Media Jual Beli Online (WebStore)**

Dengan Veritra Pay Anda tidak perlu lagi keluar rumah untuk melakukan pembayaran-pembayaran. Semua layanan yang memanjakan Anda ini dapat dinikmati secara online dengan mudah, cepat, nyaman, aman dan murah. Berbagai kemudahan yang bisa Anda dapatkan dengan menggunakan aplikasi VeritraPay:

Channel pembayaran yang bermacam-macam (VeritraPay on Web, VeritraPay SMS, VeritraPay on Mobile Applications (Android, Blackberry, iPhone) dan VeritraPay YM dengan akun yang saling terintegrasi, 1 saldo dapat digunakan di semua channel pembayaran). Aplikasi sudah sangat teruji kehandalannya. Anda tidak perlu lagi repot-repot keluar rumah jika hendak melakukan pembayaran tagihan Anda. Anda dapat membayarkan tagihan teman-teman Anda dimana pun mereka berada. Team support VeritraPay yang ramah dan profesional siap membantu dan melayani Anda jika Anda menemui kesulitan. Anda dapat memanfaatkan VeritraPay untuk memulai bisnis PPOB, pembayaran dapat dilakukan dimanapun Anda berada dan kapan saja.

Ampera = Amanat Penderitaan Rakyat..akh betapa perkasanya sungai Musi sejak dulu kala hingga kini..
13/11/2024

Ampera = Amanat Penderitaan Rakyat..akh betapa perkasanya sungai Musi sejak dulu kala hingga kini..

Apa esensi dari neoliberalisme? Jawab Pierre Bourdieu : “A program for destroying collective structures which may impede...
02/10/2024

Apa esensi dari neoliberalisme? Jawab Pierre Bourdieu : “A program for destroying collective structures which may impede pure market logic.”[1] Ataukah kita juga bisa bertanya, apakah ada pemuja habis-habisan collective structures dan sekaligus menghancurkan logika pasar murni? Dari dua hal ini kita bisa belajar banyak, terutama dari bermacam catatan sejarah. Bagaimana sejarah mencatat ungkapan ‘laissez-nous faire’ yang muncul di tahun 1681-an, misalnya. Dan bagaimana itu kemudian mempengaruhi sebagian cara manusia bertindak. Sebuah ‘rumus’ sederhana layaknya e=mc2 itu, tetapi dampaknya sangat luas. Tinggalkan kami, biarkan kami urus sendiri, demikian kira-kira jawaban pedagang ketika petinggi ‘mega’ struktur kolektif saat itu bertanya apa yang bisa dilakukannya untuk memajukan perdagangan, tahun 1681 di Perancis sono. Menjadi ‘rumus’ sederhana layaknya e=mc2 karena ungkapan itu menjadi terdukung secara sosial melalui bermacam tulisan via media cetak yang dikembangkan Guttenberg 200 tahun sebelumnya. ‘Laissez-nous faire’-pun kemudian menjadi salah satu horison dimana di dalamnya menjadi lebih mungkin diletakkan bermacam kemungkinan. Adam Smith yang lahir 50 tahun setelah ungkapan ‘laissez-nous faire’ terlontar, dan di tengah ‘semangat jaman’ untuk mencari ‘penjelasan umum’ terhadap segala hal saat itu, melalui karya-karyanya kemudian menjadi semakin jelas mengapa ‘laissez-nous faire’ itu ternyata tidak hanya ngibul saja. Tetapi ngibul atau tidak, ternyata di ujung-jauh-nya ‘laissez-nous faire’ semakin menampakkan sisi gelapnya, ketidak-adilan, ketimpangan, dan bahkan kemudian ‘perbudakan baru’, exploitation de l’homme par l’homme. Dan berapa biaya yang harus dibayar oleh sejarah kemanusiaan terhadap hal tersebut? Sejarah mencatat korban manusia ada di puncaknya.

Empat tahun sebelum ‘laissez-nous faire’ terlontar, Spinoza sudah menegaskan bahwa hasrat adalah merupakan esensi dari manusia. Dan bagaimana jika Nietzsche di penghujung abad 19 benar bahwa gejolak hasrat dominan manusia adalah soal power? Soal kuasa? Gejolak hasrat yang selalu bergejolak dalam ‘prinsip kesenangan’ di ‘dunia’ id –the “It” freudian itu? Gejolak hasrat yang menjadi ‘tidak bebas’ ketika super-ego menjadi sosok ‘diktator’. “Tuhan telah mati!” demikian seru Nietzsche untuk lebih menguak soal ‘superman’. Atau menurut group asal Bali itu : “Superman is dead!” ‘Superman’ mati karena kebebasannya telah dibelenggu oleh ‘super-ego’ yang berubah menjadi sewenang-wenang.

Maka cerita-besarnya adalah soal batas, yang bahkan sudah dibawa Bumi sejak ia menjadi mungkin untuk hadirnya makluk hidup, termasuk manusia. Bumi yang ada di zona Goldilocks-nya. Bahkan kemajuan-pun adalah soal batas, memajukan batas, memajukan horison. Dalam perjalanan hidup manusia, memajukan batas itu bisa-bisa tidak selalu berlangsung damai-damai saja. Ada yang ingin status-quo karena segala kenikmatan yang diperolehnya, tetapi ada yang ingin memajukan batas karena dengan itu ia menjadi lebih besar potensinya. Bagaimana manusia semakin paham akan ‘batas’ adalah juga bagaimana manusia menapak jalan kedewasaannya. Dalam dunia patron-klien, kedewasaan, terlebih yang ada dalam posisi klien-nya, sangat perlu untuk diperhatikan dengan sangat-sangat serius. Supaya rejim tidak jatuh dalam situasi Oedipus complex. Tanpa beban ia akan membunuh republik demi cintanya pada si-patron. *** (02-02-2023)

[1]

Open access // by Pierre Bourdieu (Le Monde diplomatique - English edition, December 1998)

28/09/2024

DESA GLOBAL
Enam-puluh tahun lalu -1962, hampir seusia umur republik, Marshall McLuhan mengenalkan isilah Desa Global, Global Village, dalam bukunya The Guttenberg Galaxy. Lima tahun setelah Guttenberg Galaxy terbit, Guy Debord di Perancis menerbitkan The Society of the Spectacle, terjemahannya dalam bahasa Inggris. Tiga tahun kemudian, 1970, Alvin Toffler menerbitkan trilogi pertamanya, Future Shock. Titik berangkat ketiga buku adalah adanya fakta-fakta faktual berkembangnya modus komunikasi, dan juga fakta-fakta potensialnya. Masing-masing dengan imajinasinya sendiri-sendiri. Lalu apa imajinasi dari yang ngumpulin kepala-desa akhir-akhir ini?

Jika kita bicara keadilan menurut Platon mungkin kita masih perlu banyak tambahan masukan lagi, tetapi apapun itu pendapat Platon tentang keadilan itu bisa kita jadikan ‘alarm-deteksi-dini’ berkembangnya ketidak-adilan. Menurut Platon, keadilan akan mewujud jika masing-masing melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Kelas ‘filsuf-raja’ melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya, demikian juga kelas serdadu dan kelas pedagang/petani. Tentu ini masih bisa diperdebatkan, tetapi seperti disebut di atas, bisa kita bayangkan, ketika masing-masing tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan sebaik-baiknya maka kita bisa juga membayangkan membesarnya potensi ketidak-adilan. Jika ‘masing-masing melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan sebaik-baiknya’ dan ‘keadilan’, bukankah itu sedikit banyak adalah soal ‘efisiensi’ dan ‘berkeadilan’, seperti ada dalam UUD 1945 hasil amandemen itu? Tentu akan ada banyak pernak-perniknya karena bagaimanapun kedua ‘klaster’ itu bukanlah klaster terpisahkan. Tetapi rejim yang miskin dalam perspektif efisiensi saat ‘menggunakan kuasa’, kita bisa melihat ia juga akan rabun bahkan buta soal keadilan. Semau-maunya. Apapun akan dipertaruhkan demi kuasa. At all cost.

Desa mengepung kota? Jika tidak ada senjata, itu hanyalah mitos saja. Terlebih di abad-21 ini. *** (21-01-2023)

Address

Bangko
Jambi
37353

Telephone

081366660998

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Syahbarul Ain Munthe posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Syahbarul Ain Munthe:

Share