04/08/2024
Narasi tentang Lontar di Timor sangat terbatas jika dibandingkan dengan Sabu dan Rote. Di Timor khususnya TTS, hanya beberapa tempat saja yang masyarakatnya berprofesi sebagai pengiris tuak, pemasak gula dan penyuling sopi. Salah satunya adalah Fatukopa kampung Besteke.
Lontar adalah pohon palem yang berbatang tunggal, daunnya berbentuk kipas dan tingginya mencapai 25 sampai 30 meter dengan diameter 60 sampai 90 cm. Secara umum biasa disebut pohon Tuak. Karena menghasilkan nira yang segar dari pohon yang dapat langsung diminum biasanya disebut tuak manis. Nira sangat cepat menjadi asam oleh karena itu nira yang tidak terminum harus segera dimasak menjadi syrup (gula cair) atau di oleh menjadi gula batu (gula lempeng) , ada juga yang memasak lalu di suling menjadi minuman keras (sopi). Tetapi sepertinya belum banyak studi yang sistematis mengenai hasil pohon lontar yang bermacam-macam selama satu musim. Pohon lontar adalah tanaman penghasil gula yang paling efisien di dunia, karena itulah lontar disebut sebagai pohon kehidupan dan penghidupan bagi orang Sabu, Rote dan komunitas kecil Atoin Meto.
"Henait haub mabala mu itu ma ume" Kalimat itu berarti hendaknya tumbuhan dan binatang mempunyai habitatnya. Demikian orang Meto memaknai suatu pola hidup yang terintegrasi dengan alam dan sumber dayanya. Bagi mereka keberlangsungan hidup ada dalam kecukupan air, hutan dan alam.
Di salah satu pedalaman Timor Barat Atoin Meto tepatnya di Fatukopa kampung Besteke, profesi mengiris tuak atau menyadap nira adalah salah satu profesi yang narasi sejarahnya berhubungan dengan salah satu kisah tua Amanuban yaitu "Olak Mali"
Penasaran dengan kisahnya? Atau ingin bergabung dalam kerja-kerja kolektif dan kolaborasi bersama membangun jejaring dan solidaritas untuk berbagi inspirasi yang menembus suku, agama ras dan latar belakang. Ayo mari...!!!
Dokumentasi oleh & Alfred W. Djami