Author Putri

Author Putri Penulis Eks KBM

Aku nggak nyangka akan bertemu lagi dengan wanita itu. Tapi kenapa dia justru..._________________“Gimana, apa sudah ada ...
12/07/2026

Aku nggak nyangka akan bertemu lagi dengan wanita itu. Tapi kenapa dia justru...
_________________

“Gimana, apa sudah ada kamar kosong untuk cucu saya?” tanya Amir yang berusaha terus mengecek pada perawat.

“Belum, Pak. Nanti kalau sudah ada kita akan konfirmasi segera. Bisa ditunggu ya, Pak.”

“Tapi, tolong cucu saya butuh perawatan segera.”

“Iya, Pak. Kami mengerti. Cuma harus ikut prosedur, kemungkinan nanti sore sudah ada pasien yang pulang.”

Amir hanya bisa berdesah pasrah dan juga sedikit kesal. Ia ingin cucunya mendapat pelayanan yang nyaman, meskipun memakai kartu BPJS.

“Sabar ya, Rei. Ayah ke depan lagi, mau coba tanya ke bagian administrasi utama. Mana tahu ada dispensasi karena kondisi Meira yang begini,” pamit Amir, mencoba mencari jalan lain demi sang cucu.

Reina hanya mengangguk lemah tanpa suara. Ia kembali fokus pada wajah Meira yang sudah dipasang selang oksigen. Di ruangan IGD tanpa sekat apa pun itu, terlihat lalu lalang perawat, suara roda brankar yang didorong, dan rintihan pasien lain bersahutan, menciptakan atmosfer yang mencekam.

Di tengah kekalutan itu, pintu kaca besar IGD bergeser terbuka otomatis. Masuklah seorang pria bertubuh jangkung dengan setelan jas putih dokter, berjalan tegap memasuki ruangan itu sambil membawa selembar kertas laporan medis di tangannya.

Pria itu langsung menuju meja perawat yang letaknya hanya beberapa meter dari ranjang Meira.

“Mbak, berkas rekam medis pasien atas nama anak Zaki dari ruangan melati sudah ditandatangani? Saya butuh untuk laporan visit besok pagi,” ucap dokter muda itu dengan suara baritonnya yang terdengar tegas namun ramah.

“Oh, sudah Dok. Ini berkasnya,” jawab perawat jaga sambil menyerahkan sebuah map.

Dokter muda itu menerima map tersebut. Namun, saat ia membalikkan badan hendak melangkah pergi dari ruangan itu, sudut matanya tidak sengaja menangkap siluet seorang wanita yang sedang duduk di samping ranjang pasien. Langkah kakinya mendadak melambat.

Ia menoleh sekilas, menatap wanita dengan jilbab yang sedikit kusut itu sedang menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sembap sambil memegangi perut buncitnya yang sesekali tampak kram.

Dokter muda itu mengernyitkan kening di balik masker medisnya. Sorot matanya yang tajam menatap lekat-lekat, mencoba mengenali raut wajah yang tampak dari samping itu. Jantungnya mendadak berdesir aneh.

Wanita itu ....? batin dokter itu ragu.

Belum sempat ia meyakinkan diri, seorang perawat lain lebih dulu memanggilnya dari arah belakang dengan terburu-buru.

“Dokter Sultan! Maaf, Dok, ada telepon darurat dari ruang ICU terkait pasien anak yang tadi sore.”

Panggilan itu langsung membuyarkan pandangannya. Sultan berkedip, mengembuskan napas pendek di balik masker. Ia melirik sekali lagi ke arah wanita hamil itu yang kini beralih mengusap kening anaknya, membuat wajahnya makin tak terlihat jelas.

Ah, mungkin aku yang salah lihat. Mana mungkin dia ada di sini, pikir Sultan mencoba berpikir logis.

Sultan akhirnya berbalik cepat dan melangkah keluar meninggalkan ruang IGD.

🫀🫁

Sore itu akhirnya kabar yang ditunggu-tunggu datang juga. Salah satu perawat mendatangi ranjang Meira.

“Ibu Reina, Alhamdulillah ada satu pasien di Ruang Anak Kelas 2 yang baru saja diizinkan pulang. Kamarnya sudah siap dan bisa ditempati sekarang, ya.”

Reina berucap syukur teramat dalam. Dibantu oleh Amir dan juga Asma yang baru saja sampai, brankar Meira mulai didorong keluar dari IGD menuju gedung perawatan anak.

“Rei ... apa nggak sebaiknya kamu pulang saja istirahat, Nak. Biar Ibu yang jaga Meira di sini,” ucap Ibunya ketika kondisi Meira sudah agak stabil malam itu.

“Nggak, Bu. Aku di sini aja, kalau pun aku pulang, sama saja hatiku nggak akan tenang dengan keadaan Meira,” balas Reina yang masih terduduk di kursi samping ranjang.

“Kamu yakin? Kamu lagi hamil besar Rei,”

“Iya, Bu. Aku nggak apa-apa. Aku lebih tenang di sini. Aku kuat, kok.”

Zikra sudah tertidur di alas karpet tipis dengan tas Reina yang dijadikan sebagai bantal. Di bangsal yang terdiri dari dua pasien itu, Reina terduduk di kursi dekat ranjang sambil memegang tangan Meira yang masih setengah sadar.

“Kamu sudah coba hubungi Romi?” tanya Amir yang masih berdiri di samping mereka.

“Sudah, Yah. Tapi nggak aktif.”

“Brengsek, anaknya masuk rumah sakit, dia malah keluyuran nggak jelas.”

Kemudian, Amir mencoba menghubunginya kembali. Tetap saja, hanya suara operator yang menjawab.

Tak lama, seorang perawat masuk menghampiri mereka, menggantikan cairan infus yang sudah kosong.

“Bu, besok pagi jadwal dokternya akan masuk, ya. Mohon bersabar,” ucap perawat lelaki itu

“Terima kasih, kak,” jawab Reina.

Malam itu Reina tertidur lelap di kursi tunggu dengan posisi kepala bersandar di tepi ranjang, ia kelelahan setelah badai emosi yang menguras tenaganya seharian.

🫀🫁



Pagi itu, matahari baru saja menyembul di balik jendela kamar rumah sakit. Setelah petugas cleaning service melakukan pembersihan rutin ke setiap kamar, Reina, ibunya, serta Zikra baru saja selesai bersarapan nasi uduk yang dibeli di kantin depan. Sementara Amir sudah lebih dulu kembali pulang semalam.

“Bu, Kak Meira sudah bangun,” ucap adiknya yang sedari tadi tidak sabaran menunggu kakaknya siuman.

Tak berapa lama, seorang Dokter spesialis masuk diikuti dua perawat di belakangnya. Spontan Reina langsung berdiri sambil memegangi pinggangnya yang pegal akibat hamil tua.

Dokter muda bertubuh jangkung itu mulai mendekati ranjang Meira. Namun, pandangannya tertahan begitu melirik sekilas ke arah Reina saat melewatinya. Lagi-lagi ingatannya melayang. Wanita hamil tua yang semalam ia lihat di ruang IGD ternyata adalah wanita yang sama. Dan kini, setelah jarak mereka begitu dekat, sang dokter tidak bisa membohongi penglihatannya lagi.

Reina... batinnya berteriak.

Sultan menarik napas di balik maskernya, mencoba bersikap profesional, ia langsung mengalihkan fokus pada pekerjaannya terlebih dulu, menempelkan stetoskop ke dada Meira, memeriksa dengan teliti.

“Detak jantungnya sudah mulai stabil dibanding laporan IGD semalam,” ucap Sultan sambil menoleh pada perawat di sampingnya. “Cairan infusnya disesuaikan dengan resep baru yang saya catat tadi, ya. Hasil rontgen toraksnya sudah keluar?”

“Sudah, Dok. Ini berkasnya,” jawab perawat lelaki itu sambil menyerahkan sebuah map.

Sultan memeriksa lembaran foto rontgen itu sejenak, lalu mengangguk. “Bagus. Tolong pantau tensinya setiap dua jam sekali.”

“Baik, Dok.”

Reina dan ibunya hanya diam memperhatikan dengan takzim. Reina sama sekali tidak mengenali sosok dokter jangkung di depannya karena wajahnya tertutup masker tebal, ditambah pikirannya yang masih fokus penuh pada kesembuhan Meira.

Setelah memberikan instruksi terakhir pada perawat, dokter muda itu membalikkan badannya. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Reina. Dengan gerakan pelan, tangannya menurunkan masker medisnya hingga ke bawah dagu.

Begitu wajah aslinya terlihat jelas, Reina seketika mematung. Ada wajah yang tidak asing tapi ia sendiri tak yakin.

“Reina? Kamu ... Reina Maulida, kan?”

Reina shock, masih mencoba mengingat siapa lelaki jangkung ini.

“Kamu lupa? Aku Sultan. Sultan Al-faruq,” jelas lelaki di hadapannya.

Mata Reina membulat sempurna. “Sultan? Kau di sini?”

Dokter itu tersenyum. “Kebetulan sekali, Rei, lama nggak ketemu.”

Sultan melirik sekilas ke arah Asma dan Zikra yang menatap mereka dengan bingung.

“Kondisi Meira sudah melewati masa kritis, nanti perkembangan terbarunya akan terus dipantau perawat. Kebetulan jadwal visit saya sudah selesai dan ini sudah masuk jam istirahat. Bagaimana kalau kita ngobrol di kafe depan rumah sakit?”

“Ha?” Reina tampak ragu dengan ajakan Sultan.

“Sebagai teman, lama Rei ... Sekalian kamu cari angin segar, wajahmu terlihat lemas sekali.”

Reina menoleh ke arah ibunya sejenak. Asma mengangguk pelan, memberinya izin agar Reina tidak terus-menerus berkutat di dalam ruangan ini.

“Iya, Tan. Boleh,” jawab Reina lirih sambil memegangi pinggangnya yang pegal akibat hamil tua



🫀🫁

Sultan memesan segelas susu hangat untuk Reina dan segelas kopi pahit untuk dirinya sendiri. Setelah pesanan di antar ke meja, ada sedikit rasa canggung yang merayap sebelum akhirnya obrolan mengalir di antara mereka.

“Aku nggak nyangka pasien yang kutangani ternyata anakmu, Rei.”

Reina tersenyum kecil sambil menyesap susu hangatnya pelan.

“Meira sudah lama sakitnya?”

“Bawaan lahir, Tan. Tapi kami baru tahunya setahun yang lalu.”

Sultan mengangguk prihatin, melihat wajah Reina yang berubah sendu, ia pun memilih tidak banyak bertanya lebih jauh. Reina sendiri hanya bicara seperlunya, tanpa sedikit pun menyinggung tentang Romi, suaminya, ataupun rumah tangganya yang sedang hancur lebur.

“Kamu tahu, sekarang Safitri sudah buka salon sendiri,” ucap Reina, mencoba mengalihkan topik pembicaraan dari dirinya.

“Oh, ya? Lama juga nggak kontekan sama dia. Kapan-kapan kita bisa Reuni lagi.”

“Kamu sendiri ... apa kabar, Tan? Nggak nyangka sekarang kamu sudah jadi dokter spesialis hebat di sini.”

“Alhamdulillah, Rei. Setelah selesai ambil spesialis di Jakarta kemarin, aku memutuskan untuk balik dan mengabdi di kota kelahiran kita ini.”

“Terus, udah punya jodoh belum? Kelihatannya masih melajang. Cocok tuh sama Safitri,” canda Reina, mencoba mencairkan suasana.

Sultan tersenyum tipis, pandangannya mendadak turun menatap cincin perak di jari manisnya sebelum kembali menatap Reina.

“Nggak, Rei. Aku sudah menikah tiga tahun lalu waktu masih di Jakarta.”

Deg.

_________
Judul: Ayahnya Masih Hidup, Anakku Seperti Yatim
Oleh: Putri Mauliza
Versi tamat di KBM

PLAK!Tamparan ke ras itu mendarat di pi pi Reina telak. Kekuatan tangan Romi yang penuh kilatan ama rah membuat tu buh i...
20/06/2026

PLAK!

Tamparan ke ras itu mendarat di pi pi Reina telak. Kekuatan tangan Romi yang penuh kilatan ama rah membuat tu buh istrinya yang sedang hamil tujuh bulan jatuh tersungkur ke tanah yang dingin.

Bruk!

“Aku, kan sudah bilang, aku butuh ua ngnya sekarang. Kau selalu saja beralasan.” Romi berteriak sambil menunjuk Reina dengan ujung jarinya.

Reina mendekap perutnya yang membuncit sembari menahan sakit. Ia berusaha menjatuhkan tubuhnya menyamping agar perutnya tidak lebih dulu meng han tam lantai.

“Bang, aku sudah bilang. U ang nya sudah habis untuk pengobatan Meira,” jawabnya sambil mengapit bi bir.

“Halah! Alasanmu saja itu! Kau sengaja, kan menyembunyikan ua ng agar aku tidak bisa beli rokok?!”

“Demi Allah, Bang. Aku nggak bo hong. Meira sudah tiga hari demam tinggi. Dia butuh obat ...”

“Arrgh, kau selalu saja bawa Meira, Meira ... Memang kaunya saja yang tidak berguna! Mengurus satu a nak sakit saja tidak becus, sekarang malah berani mengatur ua ngku!”
Romi me lu dah ke samping tepat di dekat kepala Reina. Membuat Reina mengangkat wajahnya.

“Bang, aku ini sedang hamil a nakmu. Teganya kau ....”

“Hamil? Itu urusanmu! Siapa suruh kau hamil kalau cuma bisa menyusahkan!”

Romi melangkah pergi begitu saja meninggalkan Reina yang masih meringkuk atas tanah, me me luk perutnya dengan sisa tenaga.

Menangis? Tidak. Air mata Reina sudah kering untuk meratapi perlakuan suaminya. Bukan hanya sekarang, sikapnya yang ka sar itu seolah sudah menjadi santapan setiap hari bagi Reina sejak mereka menikah.

Setelah Romi pergi, Reina mencoba berdiri sambil mengatur napasnya yang masih terengah akibat jatuh. Merapikan bagian dasternya yang kotor. Namun tiba-tiba suara Meira terdengar di ambang pintu ka mar.

“Bu ... pi pi ibu ber da rah,” bisik Meira dengan tatapan nanar sekaligus nyeri melihat ibunya terjatuh.

Reina buru-buru memalingkan wajah, menyeka sudut bibirnya yang pecah.

“Enggak apa-apa, Meira. Kamu istirahatlah. Badanmu masih le mas. Ibu ambilkan obat dulu, ya.”

Reina tahu Meira yang sudah dua belas tahun itu tidak akan mudah percaya begitu saja. Meira tahu Ayahnya adalah ib-lis, tapi terlalu lemah baginya untuk melindungi sang ibu.
Meira terus berdiri di sana, menatap pintu tempat ayahnya baru saja pergi. Meira juga tidak menangis, hanya saja tatapannya penuh amarah dan ke ben cian yang mendalam pada lelaki yang disebut “Ayah” itu.

Di sudut meja dapur yang tidak seberapa itu, Reina mematung menatap butiran obat yang tersisa satu di tangannya. Hatinya meringis.
Bagaimana aku mendapatkan stok obat ini lagi besok, batinnya berteriak ke ras. Tanpa sadar buliran air mata itu jatuh juga di pipinya. Hati ibu mana yang akan kuat melihat a nak-a naknya ikut merasakan rasa sakit ini.

“Ibu ... Aku pulang.”

Suara Zikra di pintu membuyarkan lamunannya. Cepat-cepat Reina mengusap air matanya.
“Iya, Sayang. Capek? Istirahat dulu sama ganti baju ya, Nak.

Kebetulan, Zikra masih duduk di bangku TK nol besar. Sekolahnya tidak jauh dari rumah, hanya selang beberapa kebun, jadi cukup berjalan kaki atau berlarian sambil bermain dengan teman sekampung, Zikra sampai di rumah.

“Ibu! Tadi Zikra di sekolah dapat bintang dari Bu Guru!” seru Zikra seraya melepas tas ransel kecilnya yang sudah kusam dan sepatu sedikit terkelupas di bagian ujung.

“Oh, ya? Wah pinternya a nak Ibu,” sahut Reina berusaha bersuara stabil dan enggan berbalik badan.

“Ibu kenapa membelakangi Zikra? Meira mana Bu? Masih ti dur?” Zikra mendekat hendak memeluk ping gang ibunya.

“Kakakmu di ka mar.” Reina sedikit meringis saat Zikra mendekap perutnya yang me ngen cang akibat terjatuh tadi. Namun ia kembali tersenyum sambil mengusap rambut putrinya.

“Kamu ganti baju dulu, gih. Terus temani kakakmu dulu. Ibu siapkan makan siang dan obat untuk Meira, ya.”

Di dalam ka mar, Meira sudah kembali merebahkan ba dannya di ka sur. Mendengar pembicaraan ibunya dan Zikra dari balik celah pintu, ia hanya bisa meng gi git bi bir.

Meira melihat ibunya berusaha ke ras memakai “topeng” di depan Zikra, dan itu jauh lebih menyakitkan daripada menahan sa kit yang diderita Meira.

Reina membantu Meira meminum sebutir obat terakhir itu. Ia mengelus da da an aknya, seolah ingin menambal lubang kecil di jan tung Meira dengan telapak tangannya sendiri.

Penyakit yang divonis dokter setahun yang lalu itu adalah ra hasia paling be rat yang dipikulnya sendiri. Karena kalau pun Romi tahu, baginya penyakit Meira hanyalah “beban biaya”.

“Ibu, besok Meira masuk sekolah, ya? Aku sudah ku at,” ucap Meira pelan sambil tersenyum, meski wajahnya masih pucat.

“Kamu yakin, Nak?”

“Iya, Bu. Aku sudah lebih membaik setelah minum obat.”

Reina hanya mengangguk. Tenggorokannya terhimpit dan ngilu. Entah bagaimana caranya, ia harus mencari u ang besok. Apakah dengan meminjam, atau menjual apa pun yang tersisa.

Sambil mengelus perutnya, Reina bersumpah di dalam hati. Selama napasnya masih ada, ia tidak akan membiarkan jantung Meira berhenti berdetak, meski ia harus han cur di tangan lelaki yang seharusnya menjadi “payung” untuk mereka.

🫀🫁
Menjelang sore, terdengar seseorang mengetuk pintu rumah, saat Reina dan kedua putrinya tertidur lelap beristirahat siang.

Tok! Tok!

Reina terbangun, dengan gerakan yang masih sempoyongan ia melangkah ke luar.

“Ibu?! Kok nggak ngabari mau datang?”

Reina terkejut melihat Asma, Ibunya di depan pintu sambil membawa kertas kresek makanan di tangannya.

“Iya, ibu baru pulang dari kondangan. Sekalian mampir. Memang kenapa kalau ibu datang mendadak?”

“Iya, Reina bisa masak apa gitu kalau tahu ibu mau datang.”

“Nggak, ibu cuma mau jengukin kamu sama cucu.”

Jarak rumah Reina dan orang tuanya hanya berkisar dua puluh menit jika ditempuh dengan sepeda motor. Meski begitu, Asma tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam rumah tangga putrinya.

“Ini ada buah dan martabak. Makanlah sama anak-anak.” Asma meletakkan bungkusan itu di atas meja.

“Reina, wajahmu kenapa?” selidik ibunya ketika sadar ada yang beda dengan wajah a n ak nya.

“Nggak apa-apa, Bu. Tadi digigit serangga pas lagi masak.”

Bu Asma mengerutkan kening. “Kamu yakin? Kok merah begitu?”

“Iya, Bu. Udah dipakein salap, kok.”

Ada sedikit tanda tanya di hati ibunya. Berniat bertanya lebih lanjut, namun teriakan girang cucunya lebih dulu mengaburkan pembicaraan mereka.

“Eyang ....!!” teriak Meira dan Zikra hampir bersamaan.

Asma membuka lebar tangannya bersiap menerima pelukan mereka.
Saat mereka sedang makan, terdengar sayup-sayup suara musik dan pengeras suara dari kejauhan. Rupanya pasar malam di lapangan desa sudah mulai beroperasi.

“Ibu! Itu pasar malamnya sudah buka! Ayo ke sana, Bu. Zikra mau lihat komidi putar,” Zikra melompat antusias, matanya berbinar menatap Reina.

“Kok kamu tiba-tiba ingin kesana, Nak?”

“Iya, Bu. Habisnya teman-teman Zikra semua pada ke situ. Katanya banyak mainan air,” jawab Zikra polos.

Reina belum menjawab.

“Ayo d**g, Bu ... Aku belum pernah lihat komedi putar juga,” pinta Zikra lagi dengan tatapan memelasnya.

Reina melirik Meira. Ingin menolak, tapi rasa bersalah pada Zikra yang selalu hidup prihatin membuatnya ragu.

“Sudah, Reina. Pergilah sebentar ajak Zikra. Biar Ibu yang jaga Meira di sini. Kasihan an ak itu, biar tidak murung terus di rumah,” timpal Ibu Reina.

Akhirnya Reina setuju.

“Tapi jangan lama-lama ya, Nak. Kasihan Ibumu, nanti kecapean, kan lagi sakit itu perutnya ...” tambah Asma lagi.

“Siap, Eyang.”

Ia memakai kerudung yang agak lebar untuk menutupi lebam di pipinya, lalu menggandeng Zikra keluar.

🫀🫁
Suasana komedi putar dan bianglala begitu kontras dengan langit yang mulai gelap. Zikra terus menarik tangan ibunya melihat-lihat semua permainan berhias lampu warna-warni.

“Bu, lihat ... bonekanya lucu.” Zikra menunjuk boneka-boneka dari salah satu stan permainan.

“Iya, Sayang. Kamu suka?”

Zikra mengangguk semangat sekali.
Reina ikut bahagia melihat putrinya itu bisa tertawa lepas. Meski sesekali tangannya yang lain, harus menyangga perut bagian bawah akibat nyeri.

Di tengah dentuman musik ke ras dan riuh pasar malam itu, langkah Reina mendadak diam. Matanya tak berkedip sama sekali meski Zikra terus mengoceh riang di sampingnya.
Di tengah kerumunan dari kejauhan, di depan sebuah stan baju impor, wanita hamil ini menangkap sosok yang amat ia kenali. Jantungnya berpacu semakin ku at.

Pria dengan kemeja rapi—yang tadi pagi mengaku tidak punya ua ng sepeser pun, bahkan untuk sekadar membeli obat an aknya tengah berdiri di sana dengan tawa lepas yang tak pernah ia tunjukkan di rumah.

Romi.

Tapi yang membuat mata Reina semakin memicing adalah suaminya tidak sendiri. Tangan yang tadi pagi mendarat ke ras di pipinya, kini melingkar mesra di ping gang seorang wanita modis yang menenteng beberapa kantong belanjaan. Mereka tampak seperti pasangan bahagia, sementara di rumah, nyawa Meira sedang dipertaruhkan demi sebutir obat.

_____________
🌹🔥

✍️: JUDUL: Ayahnya Masih Hidup, Anakku Seperti Yatim

✍️: OLEH: Putri Mauliza

📖 : Cerita lengkap: KBM

Address

Jalan Anjangsana
Lhoksukon
24354

Opening Hours

Thursday 15:00 - 18:00
Friday 09:00 - 18:00
Saturday 14:00 - 18:00
Sunday 08:00 - 18:00

Telephone

+6282366671515

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Author Putri posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Author Putri:

Shortcuts

Share