12/07/2026
Aku nggak nyangka akan bertemu lagi dengan wanita itu. Tapi kenapa dia justru...
_________________
“Gimana, apa sudah ada kamar kosong untuk cucu saya?” tanya Amir yang berusaha terus mengecek pada perawat.
“Belum, Pak. Nanti kalau sudah ada kita akan konfirmasi segera. Bisa ditunggu ya, Pak.”
“Tapi, tolong cucu saya butuh perawatan segera.”
“Iya, Pak. Kami mengerti. Cuma harus ikut prosedur, kemungkinan nanti sore sudah ada pasien yang pulang.”
Amir hanya bisa berdesah pasrah dan juga sedikit kesal. Ia ingin cucunya mendapat pelayanan yang nyaman, meskipun memakai kartu BPJS.
“Sabar ya, Rei. Ayah ke depan lagi, mau coba tanya ke bagian administrasi utama. Mana tahu ada dispensasi karena kondisi Meira yang begini,” pamit Amir, mencoba mencari jalan lain demi sang cucu.
Reina hanya mengangguk lemah tanpa suara. Ia kembali fokus pada wajah Meira yang sudah dipasang selang oksigen. Di ruangan IGD tanpa sekat apa pun itu, terlihat lalu lalang perawat, suara roda brankar yang didorong, dan rintihan pasien lain bersahutan, menciptakan atmosfer yang mencekam.
Di tengah kekalutan itu, pintu kaca besar IGD bergeser terbuka otomatis. Masuklah seorang pria bertubuh jangkung dengan setelan jas putih dokter, berjalan tegap memasuki ruangan itu sambil membawa selembar kertas laporan medis di tangannya.
Pria itu langsung menuju meja perawat yang letaknya hanya beberapa meter dari ranjang Meira.
“Mbak, berkas rekam medis pasien atas nama anak Zaki dari ruangan melati sudah ditandatangani? Saya butuh untuk laporan visit besok pagi,” ucap dokter muda itu dengan suara baritonnya yang terdengar tegas namun ramah.
“Oh, sudah Dok. Ini berkasnya,” jawab perawat jaga sambil menyerahkan sebuah map.
Dokter muda itu menerima map tersebut. Namun, saat ia membalikkan badan hendak melangkah pergi dari ruangan itu, sudut matanya tidak sengaja menangkap siluet seorang wanita yang sedang duduk di samping ranjang pasien. Langkah kakinya mendadak melambat.
Ia menoleh sekilas, menatap wanita dengan jilbab yang sedikit kusut itu sedang menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sembap sambil memegangi perut buncitnya yang sesekali tampak kram.
Dokter muda itu mengernyitkan kening di balik masker medisnya. Sorot matanya yang tajam menatap lekat-lekat, mencoba mengenali raut wajah yang tampak dari samping itu. Jantungnya mendadak berdesir aneh.
Wanita itu ....? batin dokter itu ragu.
Belum sempat ia meyakinkan diri, seorang perawat lain lebih dulu memanggilnya dari arah belakang dengan terburu-buru.
“Dokter Sultan! Maaf, Dok, ada telepon darurat dari ruang ICU terkait pasien anak yang tadi sore.”
Panggilan itu langsung membuyarkan pandangannya. Sultan berkedip, mengembuskan napas pendek di balik masker. Ia melirik sekali lagi ke arah wanita hamil itu yang kini beralih mengusap kening anaknya, membuat wajahnya makin tak terlihat jelas.
Ah, mungkin aku yang salah lihat. Mana mungkin dia ada di sini, pikir Sultan mencoba berpikir logis.
Sultan akhirnya berbalik cepat dan melangkah keluar meninggalkan ruang IGD.
🫀🫁
Sore itu akhirnya kabar yang ditunggu-tunggu datang juga. Salah satu perawat mendatangi ranjang Meira.
“Ibu Reina, Alhamdulillah ada satu pasien di Ruang Anak Kelas 2 yang baru saja diizinkan pulang. Kamarnya sudah siap dan bisa ditempati sekarang, ya.”
Reina berucap syukur teramat dalam. Dibantu oleh Amir dan juga Asma yang baru saja sampai, brankar Meira mulai didorong keluar dari IGD menuju gedung perawatan anak.
“Rei ... apa nggak sebaiknya kamu pulang saja istirahat, Nak. Biar Ibu yang jaga Meira di sini,” ucap Ibunya ketika kondisi Meira sudah agak stabil malam itu.
“Nggak, Bu. Aku di sini aja, kalau pun aku pulang, sama saja hatiku nggak akan tenang dengan keadaan Meira,” balas Reina yang masih terduduk di kursi samping ranjang.
“Kamu yakin? Kamu lagi hamil besar Rei,”
“Iya, Bu. Aku nggak apa-apa. Aku lebih tenang di sini. Aku kuat, kok.”
Zikra sudah tertidur di alas karpet tipis dengan tas Reina yang dijadikan sebagai bantal. Di bangsal yang terdiri dari dua pasien itu, Reina terduduk di kursi dekat ranjang sambil memegang tangan Meira yang masih setengah sadar.
“Kamu sudah coba hubungi Romi?” tanya Amir yang masih berdiri di samping mereka.
“Sudah, Yah. Tapi nggak aktif.”
“Brengsek, anaknya masuk rumah sakit, dia malah keluyuran nggak jelas.”
Kemudian, Amir mencoba menghubunginya kembali. Tetap saja, hanya suara operator yang menjawab.
Tak lama, seorang perawat masuk menghampiri mereka, menggantikan cairan infus yang sudah kosong.
“Bu, besok pagi jadwal dokternya akan masuk, ya. Mohon bersabar,” ucap perawat lelaki itu
“Terima kasih, kak,” jawab Reina.
Malam itu Reina tertidur lelap di kursi tunggu dengan posisi kepala bersandar di tepi ranjang, ia kelelahan setelah badai emosi yang menguras tenaganya seharian.
🫀🫁
Pagi itu, matahari baru saja menyembul di balik jendela kamar rumah sakit. Setelah petugas cleaning service melakukan pembersihan rutin ke setiap kamar, Reina, ibunya, serta Zikra baru saja selesai bersarapan nasi uduk yang dibeli di kantin depan. Sementara Amir sudah lebih dulu kembali pulang semalam.
“Bu, Kak Meira sudah bangun,” ucap adiknya yang sedari tadi tidak sabaran menunggu kakaknya siuman.
Tak berapa lama, seorang Dokter spesialis masuk diikuti dua perawat di belakangnya. Spontan Reina langsung berdiri sambil memegangi pinggangnya yang pegal akibat hamil tua.
Dokter muda bertubuh jangkung itu mulai mendekati ranjang Meira. Namun, pandangannya tertahan begitu melirik sekilas ke arah Reina saat melewatinya. Lagi-lagi ingatannya melayang. Wanita hamil tua yang semalam ia lihat di ruang IGD ternyata adalah wanita yang sama. Dan kini, setelah jarak mereka begitu dekat, sang dokter tidak bisa membohongi penglihatannya lagi.
Reina... batinnya berteriak.
Sultan menarik napas di balik maskernya, mencoba bersikap profesional, ia langsung mengalihkan fokus pada pekerjaannya terlebih dulu, menempelkan stetoskop ke dada Meira, memeriksa dengan teliti.
“Detak jantungnya sudah mulai stabil dibanding laporan IGD semalam,” ucap Sultan sambil menoleh pada perawat di sampingnya. “Cairan infusnya disesuaikan dengan resep baru yang saya catat tadi, ya. Hasil rontgen toraksnya sudah keluar?”
“Sudah, Dok. Ini berkasnya,” jawab perawat lelaki itu sambil menyerahkan sebuah map.
Sultan memeriksa lembaran foto rontgen itu sejenak, lalu mengangguk. “Bagus. Tolong pantau tensinya setiap dua jam sekali.”
“Baik, Dok.”
Reina dan ibunya hanya diam memperhatikan dengan takzim. Reina sama sekali tidak mengenali sosok dokter jangkung di depannya karena wajahnya tertutup masker tebal, ditambah pikirannya yang masih fokus penuh pada kesembuhan Meira.
Setelah memberikan instruksi terakhir pada perawat, dokter muda itu membalikkan badannya. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Reina. Dengan gerakan pelan, tangannya menurunkan masker medisnya hingga ke bawah dagu.
Begitu wajah aslinya terlihat jelas, Reina seketika mematung. Ada wajah yang tidak asing tapi ia sendiri tak yakin.
“Reina? Kamu ... Reina Maulida, kan?”
Reina shock, masih mencoba mengingat siapa lelaki jangkung ini.
“Kamu lupa? Aku Sultan. Sultan Al-faruq,” jelas lelaki di hadapannya.
Mata Reina membulat sempurna. “Sultan? Kau di sini?”
Dokter itu tersenyum. “Kebetulan sekali, Rei, lama nggak ketemu.”
Sultan melirik sekilas ke arah Asma dan Zikra yang menatap mereka dengan bingung.
“Kondisi Meira sudah melewati masa kritis, nanti perkembangan terbarunya akan terus dipantau perawat. Kebetulan jadwal visit saya sudah selesai dan ini sudah masuk jam istirahat. Bagaimana kalau kita ngobrol di kafe depan rumah sakit?”
“Ha?” Reina tampak ragu dengan ajakan Sultan.
“Sebagai teman, lama Rei ... Sekalian kamu cari angin segar, wajahmu terlihat lemas sekali.”
Reina menoleh ke arah ibunya sejenak. Asma mengangguk pelan, memberinya izin agar Reina tidak terus-menerus berkutat di dalam ruangan ini.
“Iya, Tan. Boleh,” jawab Reina lirih sambil memegangi pinggangnya yang pegal akibat hamil tua
🫀🫁
Sultan memesan segelas susu hangat untuk Reina dan segelas kopi pahit untuk dirinya sendiri. Setelah pesanan di antar ke meja, ada sedikit rasa canggung yang merayap sebelum akhirnya obrolan mengalir di antara mereka.
“Aku nggak nyangka pasien yang kutangani ternyata anakmu, Rei.”
Reina tersenyum kecil sambil menyesap susu hangatnya pelan.
“Meira sudah lama sakitnya?”
“Bawaan lahir, Tan. Tapi kami baru tahunya setahun yang lalu.”
Sultan mengangguk prihatin, melihat wajah Reina yang berubah sendu, ia pun memilih tidak banyak bertanya lebih jauh. Reina sendiri hanya bicara seperlunya, tanpa sedikit pun menyinggung tentang Romi, suaminya, ataupun rumah tangganya yang sedang hancur lebur.
“Kamu tahu, sekarang Safitri sudah buka salon sendiri,” ucap Reina, mencoba mengalihkan topik pembicaraan dari dirinya.
“Oh, ya? Lama juga nggak kontekan sama dia. Kapan-kapan kita bisa Reuni lagi.”
“Kamu sendiri ... apa kabar, Tan? Nggak nyangka sekarang kamu sudah jadi dokter spesialis hebat di sini.”
“Alhamdulillah, Rei. Setelah selesai ambil spesialis di Jakarta kemarin, aku memutuskan untuk balik dan mengabdi di kota kelahiran kita ini.”
“Terus, udah punya jodoh belum? Kelihatannya masih melajang. Cocok tuh sama Safitri,” canda Reina, mencoba mencairkan suasana.
Sultan tersenyum tipis, pandangannya mendadak turun menatap cincin perak di jari manisnya sebelum kembali menatap Reina.
“Nggak, Rei. Aku sudah menikah tiga tahun lalu waktu masih di Jakarta.”
Deg.
_________
Judul: Ayahnya Masih Hidup, Anakku Seperti Yatim
Oleh: Putri Mauliza
Versi tamat di KBM