14/01/2026
Fenomena ketidakpedulian terhadap anak-anak oleh keluarga, pemerintah dan masyarakat telah merusak generasi emas menjadi generasi odong-odong.
Anak-anak sekarang adalah produk dari orang tua yang individualis dan hedonis.
Ayah-ibu larut dalam kesibukan kerja dan asyik dalam komunitas di luar rumah. Anak lantas dibiarkan di rumah bersama nenek atau ART nya.
Fakta ini membuat ikatan emosional antara orang tua dan anak semakin menipis.
Anak nangis diberi jajan. Anak rewel dikaaih HP. Anak merajuk dibeli barang. Ayah sudah cari uang. Istri dan anak tinggal menghabiskannya.
Fenomena "fatherless" pun semakin ngetop. Akarnya adalah paradigma patriarki yang membatasi peran ayah hanya pada finansial saja.
Selain itu, tempat pekerjaan yang jauh dari rumah seribgkali dianggap sebagai kendala pulang ke rumah lebih awal.
Jangan lupa, hilangnya intimitas antara !ayah-ibu dan anak seringkali justru mengakibatkan tinghinyavangka perceraian.
Akibatnya, sekitar 80% anak kehilangan figur ayah secara emosional.
Pemerintah merasa sudah memperhatikan anak-anak fatherless di atas melalui program MBG yang justru boros anggaran.
Di sisi lain, pemerintah justru gagal atasi masalah dasar seperti harga beras melonjak dan pengangguran yang semakin tinggi.
Tekanan ekonomi berat, pemangkasan bansos, serta kebijakan salah prioritas seperti eskalasi geopolitik membuat rakyat merasa ditinggalkan pemerintah.
Hingga, banyak anak tak bersekolah, menganggur, bahkan dieksploitasi dan dicekcoki narkoba oleh orang dewasa.
Sikap acuh tak acuh muncul dari stres kerja, kesehatan mental bermasalah, dan tekanan sosial yang membuat orang kurang empati dan tak punya motivasi.
Faktor seperti isolasi, kekecewaan, dan rendahnya rasa percaya diri memperparah apatis, terutama di kalangan muda yang frustrasi dengan lingkungan sekitarnya.