01/07/2021
Gluten-mania
Seperti yang sedari dulu saya ceritakan, sebagai penyuka kue-kue dan rerotian, saya masih belum bisa lepas total dari , atau dalam hal ini dari .
Alhamdulillah (sepertinya) saya tidak punya masalah kesehatan seputar , walau kadang muncul sindroma-sindroma tertentu yang (biasanya) muncul setelah (mungkin) kebanyakan makan makanan yang mengandung gluten. Tapi diagnosis oleh diri sendiri tidak berarti akurat, ya.
Yang paling terasa itu pernah satu kali saya merasa 'mabuk terigu' (ini istilah saya pribadi saja), setelah satu harian penuh hanya makan makanan yang berbasis tepung terigu (ini kayaknya pernah saya ceritakan di blog saya). Tidak bisa dijelaskan bagaimana rasanya kondisi kepala dan perut waktu itu.
Ngomong-ngomong, sudah beberapa bulan ini di rumah saya sudah tidak ada menyetok tepung terigu lagi (ada sih, sisa seuprit yang mungkin tidak sampai 20 gram -- dan belum saya cek apakah tepungnya masih bagus atau tidak). 'Trik' ini saya dapatkan dari pakar , Mbak Ade Sri Ishak.
Jadi adanya tepung apa, d**g? Ya, ( ). Sesekali ada tepung beras juga. Intinya yang berasal dari . Kalau mau makan yang serbaterigu, bagaimana? Karena mayoritas makanan yang dijual di pasaran adalah makanan berbahan terigu, ya tinggal beli. Tapi kalau pas mau bebikinan sendiri, ya sebisa mungkin (dan 'mau tidak mau) memanfaatkan tepung lokal yang tersedia di rumah.
Ada yang sudah mencoba cara seperti itu juga di rumahnya demi (hampir) terjadi keseimbangan antara pemakaian tepung impor bergluten dengan tepung lokal non-gluten? Atau ada yang baru berminat/berniat mencoba?