13/11/2025
Dapur itu sudah berdiri sejak puluhan tahun yang lalu, dengan kayu bakar yang terus menyala di tengah-tengah ruangan. Api yang berkobar-kobar, menerangi wajah-wajah yang berkumpul di sekitarnya. Bau kayu bakar yang khas, bercampur dengan aroma masakan yang lezat, membuat siapa saja yang masuk ke dalam dapur itu merasa nyaman dan hangat.
Di dinding, tergantung berbagai macam peralatan dapur yang sudah tua, seperti panci besar, wajan besi, dan pisau yang sudah diasah berkali-kali. Meja kayu yang panjang, menjadi pusat kegiatan dapur, tempat di mana makanan disiapkan dan disantap bersama-sama.
Seorang nenek tua, dengan rambut putih yang tergerai, sedang memasak di atas tungku kayu bakar. Dia mengaduk-aduk panci besar yang berisi sup ayam yang lezat, sambil mengomel-omel pada api yang mulai mereda. "Ayah, ayah, jangan padam, aku masih butuh kamu!" katanya, sambil menambahkan beberapa kayu bakar lagi ke dalam api.
Suddenly, pintu dapur terbuka, dan seorang gadis muda masuk dengan senyum cerah. "Nenek, aku pulang!" katanya, sambil meletakkan tasnya di atas meja. Nenek tua itu menoleh, dengan mata yang berbinar-binar. "Aku sudah membuat sup ayam, cobalah!" katanya, sambil menunjuk panci besar itu.
Gadis muda itu mendekati panci, dan mencicipi sup ayam yang lezat. "Mmm, enak sekali, Nenek!" katanya, sambil memeluk nenek tua itu. "Aku senang kamu s**a," kata nenek tua itu, sambil tersenyum.
Dapur itu, dengan kayu bakar yang terus menyala, menjadi saksi bisu atas kebahagiaan dan kehangatan yang dipersembahkan oleh nenek tua dan gadis muda itu.