23/12/2025
Aku ingin seorang bayi (3)
“Kita harus memindahkan ke rumah sakit yang lebih besar!” Pria berjas putih itu sedang berbicara serius dengan Aluna.
Aluna sibuk meremas tangan. Hatinya semakin gugup.
“A-apa artinya, biaya akan lebih mahal?”
Wajah dokter pria itu tampak iba. Kemudian mengangguk perlahan.
“Nak… dengarkan aku, jika kau tak sanggup menanggung biayanya, bagaimana kalau kita lepas saja semua alat bantu itu?” Dokter berusaha memberi solusi terbaik. Lagi p**a, meski pindah ke rumah sakit yang lebih besar, belum menjalin juga Rahardian akan bangun dari koma.
Apalagi setelah ini harus ada serangkaian operasi di tempurung kepala, tentu biayanya tak akan murah.
Melihat kondisi Aluna yang memprihatinkan, Dokter tak tega. Dan mencoba membujuk Aluna, agar mengikhlaskan saja sang Ayah.
“Maksud Dokter, anda ingin Ayah saya mati?” Aluna tersenyum miris. Kenyataan menohok Serasa melukai perasaannya.
Uang seolah jadi batu penghalang dalam kehidupan Aluna.
Dia rela cuti dari kampus untuk membiayai pengobatan sang Ayah, bahkan cintanya pada Biru saja sudah ia gadaikan dengan uang. Tapi semua masih saja tak cukup.
Atau haruskah, Aluna mengikuti saran Lulu waktu itu, untuk menjual kehormatannya?
Rahadian adalah satu-satunya yang Aluna punya dan dia rela melakukan apapun.
Sedangkan Dokter sudah tak tahu harus berkata apalagi. Aluna terlalu keras kepala untuk mempertahankan ayahnya.
“Lakukan yang terbaik untuk Ayah saya Dokter, soal biaya, saya akan mencarinya!” Pinta Aluna dengan air mata. Tak tega, Dokter terpaksa menyetujui.
“Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?”
Seusai pembicaraan dengan dokter tadi, Aluna menyadarkan kepala pada salah satu kursi tunggu rumah sakit.
Dokter bilang, paling tidak akan ada empat tahap operasi pada kepala Rahadian, dan satu kali operasi bisa menahan ratusan juta. Dan Aluna sudah menyetujuinya.
“Dibaca baca dulu kak, terimakasih!” Aluna sempat tersentak kaget, karna bisa bisanya di dalam rumah sakit ada sales pembagi brosur.
Apa dunia sudah begitu memprihatinkan, kah? Sampai promosi prodak masuk ke ruangan orang sakit.
Penasaran, Aluna membuka brosur itu. Ia ingin tahu, jenis barang apa yang sampai iklannya gila gilaan seperti ini.
‘PUNYA RAHIM TAK TERPAKAI? SEWAKAN PADA KAMI!’