Pemberdayaan petani budi-daya sayur organik bermula dan dilatar-belakangi sekitar tahun 2010 ketika terjadi bencana alam Gunung Merapi meletus. Tanaman-tanaman pangan semua mati dan lahan-lahan hancur karena “wedhus gembel” atau awan panas, lahar dan semburan bebatuan material vulkanik. Banyak bantuan dari berbagai pihak mulai berdatangan. Pemerintah dan para organisasi relawan melakukan recovery
lahan. Aktifitas pertanian yang sempat mati dihidupkan kembali dari kegiatan pengolahan ladang, pembibitan dan penanaman yang kembali digalakkan. Semangat hidup yang telah mati bangkit kembali. Semangat dan senyum nampak dari wajah para petani yang sebelumnya bermuram durja dalam keterpurukkan. Musim panenpun datang. Panen raya tomat nampaknya membawa harapan yang menjanjikan dengan kualitas buah yang bagus. Petani mengangkut hasil panen mereka ke pasar. Namun apa yang terjadi sungguh diluar dugaan mereka. Ongkos angkut tomat dari ladang ke pasar adalah Rp. 300; per kilogramnya namun sungguh menyakitkan hati bahwa tomat mereka dihargai Rp. 200; per kilo nya! Itu artinya uang hasil penjualan yang didapat petani hanya bisa menutup seperlima dari beban biaya transportasi yang telah ditanggung para petani yang belum juga bangkit dari kelumpuhan karna tragedi bencana merapi. Sampai-sampai ada penjual di pasar yang menolak ketika hendak diberi tomat oleh petani secara cuma-cuma alias gratis, sebab stock tomat sudah terlalu berlebih di pasaran. Tak cuma itu, bahkan ada petani-petani yang enggan memanen tomatnya. Membiarkannya membusuk di ladang sebagai pupuk alami. Mereka mempersilahkan siapapun yang mau memetik tomat-tomat itu dan membawanya pulang. Tomat menjadi terlampau berlimpah-ruah jauh melebihi permintaan pasar. Sungguh situasi pasar yang memprihatinkan dan merugikan jerih-payah petani. Bagaimana bisa? Hal itu disebabkan minimnya pengetahuan dan koordinasi serta informasi yang dimilki petani. Pasca Merapi erupsi hampir semua petani di desa-desa lain juga menanam tanaman yang sama yaitu tomat. Memang tanaman yang satu ini mudah dibudidayakan dengan tingkat resiko sedang. Jadi secara serentak semua desa menanam tomat dengan tidak adanya pembinaan dan koordinasi. Seandainya ada informasi dan pembinaan para petani yang mengetahui bahwa banyak desa lain juga sedang menanam tomat, tentunya dia akan memilih tanaman lain. Seperti kita ketahui dalam hukum ekonomi bahwa jika penawaran dan permintaan tidak seimbang pasti akan berdampak pada harga jual. Panen yang diharapkan akan membawa peghiburan kini seakan tiada berarti. Harga tomat pada waktu itu jatuh serendah rendahnya. Selain harga dengan fluktuasi yang terlalu tinggi; sehingga sering dikatakan bertani itu untung-untungan, dan sering ruginya-ada faktor lain yang menyudutkan para petani adalah tengkulak atau pedagang yang selalu memiliki posisi diatas petani terutama pada waktu panen raya. Melihat apa yang sering terjadi di keluarga petani kami menggalakkan para petani untuk membentuk kelompok-kelompok petani untuk menanam sayur-mayur organik, pendapatan mereka yang dahulu rata-rata hanya Rp. 25.000; per hari kini sudah mulai meningkat menjadi Rp. 75.000; per hari (tiga kali lipat). Sebuah perubahan yang kami rasa sudah cukup signifikan dan akan kami coba tingkatkan lagi. Lahir dari keprihatinan atas keadaan para petani kecil itulah kami memelopori budi daya sayur organik yang berkualitas sehingga dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi dan yang terpenting juga adalah harga yang tidak untung-untungan atau stabil. Harga jual yang tinggi akan meningkatkan pemasukan petani. Pendapatan yang meningkat akan menjadi sebuah dorongan motivasi agar mereka antusias menanam lebih banyak dan lebih giat karena mereka sadar bahwa jerih lelah mereka tidak dihargai murahan. Motivasi petani akan meningkatkan produktifitas panen sehingga membantu menjamin stok sayuran di pasaran yang sangat membantu ketahanan pangan di masyarakat. Maka kami selaku pelopor gerakkan sayur organik mendorong, melatih, memperlengkapi, mendemonstrasikan, mengasistensi dan membidani lahirnya kelompok-kelompok tani penanam sayur organik. Kami juga membantu para petani itu dengan jaringan pemasaran agar para petani terhindar dari monopoli tengkulak yang merugikan pihak petani.