01/09/2017
REJEKI ANTARA SHOFA DAN MARWA.
Hajar berlari lari diatas pasir dan bebatuan mendaki bukit Shofa. Tidak peduli dengan terik panas matahari yang membakar kulit, memanaskan batu-batu dan pasir yang siap memanggang telapak kaki. Tidak ada tempat berteduh, tidak ada pohon-pohon, tidak ada tumbuhan. Tanah yang tandus, gersang, kering kerontang.
Demi anaknya, Isma’il, yg menangis kehausan, setelah perbekalan mereka selama ini habis, air minum habis, dan susunya pun ikut mengering tidak keluar airnya. Beliau berusaha mencari untuk mendapatkan air, entah dari sumber air, oase, atau orang atau kafilah dagang yang lewat.
Walaupun kemungkinannya kecil. Kerena di daerah situ dikenal tidak ada sumber airnya sama sekali.
Suku amaliqah saja, yang dikenal s**a berkemah, setelah bermukim disitu beberapa hari, tidak menginginkan datang kesitu lagi, karena kesulitan mendapatkan air dan makanan ternak.
Baru ketika sudah ada air zamzam, ketika bani jurhum melakukan perjalanan melihat dari jauh burung-burung terbang diatas lembah itu, keheranan, karena burung-burung itu biasanya berkumpul dimana ada air, sementara disana dikenal tidak ada air. Akhirnya mereka mengirim utusan untuk melihat daerah tersebut.
Hajar terus saja berlari kecil menuju keatas bukit Shofa, melihat-lihat sekelilingnya bila saja ada air atau ada orang yang lewat. Tapi yang terlihat hanya hamparan pasir dan bukit bebatuan.
Maka beliau melihat bukit di seberangnya, di arah yang mana beliau masih bisa mengawasi anaknya yang terbaring di lembah, menangis kehausan. Bukit itu bernama Marwah.
Berjarak sekitar 450 meter dari bukit Shofa. Beliau berlari-lari kecil menuju bukit Marwah. Dan disitupun beliau tidak mendapati air atau orang sama sekali.
Akhirnya beliau melihat lagi kearah Shofa, dan berlari kecil kembali ke Shofa berharap kilauan matahari itu adalah air, padahal cuma fatamorgana karena teriknya panas matahari.
Atau berharap bisa melihat kafilah yang lewat dari atas bukit. Beliau bolak-balik antara Shofa dan Marwah Sampai tujuh kali.
Bukannya beliau tidak tahu, sebelum beliau memutuskan tinggal disitu, tentang keadaan daerah itu, seperti pertanyan beliau kepada Nabi Ibrohim ketika mau meninggalkan mereka berdua disitu, beliau berkata:
”Wahai Ibrohim kemana engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni dan tidak ada apa- apa”.
Akan tetapi karena ketundukan beliau kepada Allah, ketaatan beliau kepada perintahNya, dan keyaqinan serta prasangka baik beliau kepada Allah, yang membuat dia bertahan untuk tinggal. Seperti pernyataan beliau setelah jawaban Nabi Ibrahim atas pertanyaannya:
“Apakah Allah memerintahkan kamu untuk melakukan ini?”
“Ya” Jawab Nabi Ibrohim,
“Kalau begitu Ia tidak akan menyia-nyiakan kami”
Hingga kemudian setelah tujuh kali bolak-balik Shofa Marwah, beliau mendengar suara, dan beliau melihat air memancar dibawah kaki anaknya Isma’il. Dan itulah awal mula munculnya sumber air Zamzam.
Peristiwa itu Allah abadikan dalam rangkaian Manasik Haji, yaitu Ibadah Sa’i, berlari-lari kecil antra Shofa dan Marwah tujuh kali.
Itulah hasil dari ketundukan dan Yaqin kepada Allah, bahkan rizqi yang diberikan diberkahi, hingga tidak cuma cukup untuk mereka berdua, bahkan bisa kita nikmati sampai hari ini. Zam-zam telah diminum oleh banyak orang dari seluruh pejuru dunia. Itulah Rizqi yang Barokah.
Pelajaran bagi kita adalah untuk TIDAK BERHENTI untuk YAQIN, dan berPRASANGKA BAIK kepada ALLAH, meski hari ini, mungkin kita sedang dalam masalah, sedang terpuruk, mengalami kegagalan.
Lihatlah Ummu Isma’il Hajar, Walau Allah persiapkan rizqi di bawah kaki anaknya, tapi Allah biarkan dulu beliau berusaha dan mengalami kegagalan berkali-kali, sampai Allah limpahkan rizqi yang melimpah ruah, yang ternyata ada di dekat beliau.
Tetap BERUSAHA, tetap MELANGKAH, tidak diam, tetap BERGERAK, TIDAK MENYERAH untuk BERLARI, APAPUN yang bisa kita lakukan, selama masih DALAM KORIDOR BATASAN ALLAH.Walau mungkin dalam benak kita serasa sudah tidak ada jalan lagi, tidak menghasilkan kecuali sedikit, kemungkinan kecil.
Seperti langkah kaki Hajar, tidak berhenti berlari kecil untuk mencari peluang, walau sebatas antara Shofa dan Marwah, karena nggak memungkinkan meninggalkan anaknya sendiri, dan karena perintah ALLah untuk tinggal di lembah itu.
Bisa jadi LANGKAH kita, LARI kita meski KECIL dan TERTATIH , kadang GAGAL,dan keistiqamahan kita untuk TIDAK MELAMPAUI BATASAN ALLAH, menghantarkan kita pada rizki yang LEBIH BAIK dan DIBERKAHI bagi kita, yang mungkin tak pernah kita perkirakan.
Pada akhirnya Kami segenap keluarga Bakso Petir Loa Janan dan KeSambel Bledeck mengucapkan di HARI RAYA ‘IDUL ADHA ini:
TAQABALALLAHU MINNA WA MINKUM
“Semoga Allah Menerima Amalan Kita Semua”
Dan tetap SEMANGAT!!!!
ingat bakso.petir.