24/06/2026
Kisah lengkap pengembaraan spiritual Baluqiya (atau Buluqiya) tercatat dalam literatur Islam klasik seperti kitab Bada'i al-Zuhur fi Waqa'i al-Duhur karya Ibn Iyas. Kisah ini dimulai dari sebuah ruang rahasia hingga melintasi batas dimensi bumi.
Penemuan Kitab RahasiaBaluqiya adalah seorang pemuda cerdas dari kalangan ulama Bani Israil. Setelah ayahnya yang bernama Isya meninggal dunia, ia mewarisi takhta dan sebuah peti besi yang terkunci rapat. Karena penasaran, Baluqiya membongkar gembok peti tersebut.
Di dalamnya, ia menemukan selembar perkamen kuno yang disembunyikan sang ayah. Perkamen itu menuliskan nubuat tentang akan lahirnya Nabi Akhir Zaman bernama Muhammad, lengkap dengan sifat mulia, mukjizat, dan syafaatnya. Seketika, hati Baluqiya dipenuhi rasa rindu yang luar biasa. Ia memutuskan untuk meninggalkan kerajaan, melepas statusnya, dan berpamitan kepada ibunya demi mengembara mencari sang Nabi.
Persekutuan dengan Affan di Baitul MaqdisDalam perjalanannya, Baluqiya tiba di Baitul Maqdis (Yerusalem) dan bertemu dengan seorang ahli ibadah serta ahli ilmu gaib bernama Affan. Setelah mendengar tujuan Baluqiya, Affan menawarkan bantuan dengan sebuah syarat.Affan mengetahui bahwa untuk melintasi samudra misterius dan dimensi gaib, mereka membutuhkan Cincin Nabi Sulaiman yang dikubur di sebuah p**au rahasia. Dengan cincin itu, mereka bisa menguasai jin, manusia, serta berjalan di atas air.Sebelum berangkat, Affan meracik cairan ajaib dari sari tumbuhan mistis. Ketika cairan itu diusapkan ke telapak kaki mereka, mereka secara ajaib mampu berjalan di atas permukaan air laut tanpa tenggelam.
Ekspedisi Melewati 7 Pulau MistisMereka berjalan di atas samudra luas dan singgah di tujuh p**au ajaib yang masing-masing dihuni makhluk mengerikan:Pulau Pertama: Dipenuhi pohon-pohon yang buahnya berbentuk kepala manusia yang bisa menangis dan tertawa.Pulau Kedua (Pulau Ular Raksasa): Dihuni oleh jutaan ular sekecil cacing hingga yang berukuran sebesar gunung. Uniknya, pemimpin ular di p**au ini mampu berbicara dan senantiasa berdzikir memuji Allah serta mengagungkan nama Nabi Muhammad.Pulau-Pulau Selanjutnya: Mereka menyaksikan singa-singa laut yang memancarkan cahaya, jin-jin yang dihukum, hingga padang pasir yang dijaga malaikat raksasa.
Tragedi di Makam Nabi SulaimanSetelah perjalanan panjang, mereka tiba di p**au tempat makam Nabi Sulaiman berada. Mereka memasuki gua tempat jasad Nabi Sulaiman bersemayam di atas takhta emas, tampak seperti orang tertidur dengan cincin bersinar di jarinya.Saat Affan mendekat dan hendak melepaskan cincin tersebut dari jari Nabi Sulaiman, Baluqiya membaca ayat-ayat perlindungan. Tiba-tiba, sesosok malaikat penjaga melesat jatuh dan menyemburkan api gaib. Affan seketika tewas terbakar menjadi abu karena kelancangannya. Baluqiya selamat berkat ketulusan niatnya yang murni hanya ingin mencari Nabi Muhammad, bukan memburu kekuasaan.
Tersesat di Alam Gaib dan Bertemu Nabi KhidirKehilangan Affan membuat ramuan di kaki Baluqiya lenyap. Ia terjebak di p**au tersebut dan terus berjalan masuk ke dimensi bumi yang lebih dalam. Ia melewati Gunung Qaf (gunung zamrud yang mengitari bumi) dan bertemu dengan para malaikat penjaga alam serta makhluk-makhluk dimensi tinggi lainnya.Hingga pada suatu hari, di sebuah tempat yang sangat sunyi, Baluqiya bertemu dengan seorang pria misterius berpakaian serba putih. Pria tersebut ternyata adalah Nabi Khidir.
Baluqiya menangis dan menceritakan seluruh pengembaraannya demi mencari Nabi akhir zaman. Mendengar hal itu, Nabi Khidir tersenyum takzim namun berkata lembut:"Wahai Baluqiya, ketahuilah bahwa Nabi Muhammad yang kamu cari belum dilahirkan ke dunia. Ia baru akan lahir ratusan tahun yang akan datang sebagai penutup para nabi. Kamu tidak akan bisa menjumpainya di masa hidupmu."
Kep**angan yang AjaibMendengar kenyataan tersebut, Baluqiya tertunduk lemas dan menyadari bahwa ia telah berjalan terlampau jauh dari rumahnya. Nabi Khidir kemudian bertanya, "Tahukah kamu berapa jarak antara tempatmu berdiri sekarang dengan rumah ibumu?" Baluqiya menggelengkan kepala. Nabi Khidir menjawab, "Jaraknya adalah perjalanan normal selama 50 tahun."Merasa iba dengan ketulusan hati Baluqiya, Nabi Khidir menyuruhnya untuk menutup mata. Baluqiya memejamkan mata sekilas. Ketika ia membukanya kembali, Nabi Khidir telah tiada, dan secara ajaib Baluqiya sudah berada di dalam rumahnya sendiri, duduk tepat di samping ibu kandungnya yang sedang menangis merindukannya.Baluqiya menghabiskan sisa hidupnya dengan menceritakan keajaiban kekuasaan Allah dan kemuliaan Nabi Muhammad yang ia saksikan di sepanjang perjalanannya kepada kaum Bani Israil.