04/10/2026
Imam Sanusi adalah ulama asal Tilimsan, Aljazair, yang hidup pada abad kesembilan Hijriah. Karyanya, Ummul Barahin, menjadi kitab akidah yang dipelajari di banyak pesantren Indonesia hingga hari ini.
Di dalamnya, ia menyampaikan satu pandangan yang terdengar keras, iman yang hanya ikut-ikutan tanpa ditopang bukti akal tidak layak dipegang.
Alasannya sederhana. Iman yang hanya diwarisi dari lingkungan akan mudah goyah ketika diserang pertanyaan yang tidak bisa dijawab.
Karena itu, Imam Sanusi menyusun setiap sifat Allah, yang wajib, yang mustahil, dan yang mungkin, lengkap dengan dalil akalnya masing-masing, agar keyakinan berdiri di atas pemahaman, bukan sekadar hafalan.
Bagi Imam Sanusi, akal bukan musuh iman. Akal justru pintu gerbang yang mengantarkan seseorang pada keyakinan yang kokoh.
Pandangan ini membantah anggapan sebagian orang bahwa berpikir kritis tentang Tuhan berbahaya bagi iman, sekaligus membantah anggapan kaum ateis bahwa iman pasti bertentangan dengan nalar.
Lima abad kemudian, Ahmad Ataka, doktor robotika lulusan King's College London dan dosen Teknik Elektro UGM, membaca ulang kitab tersebut dalam sorotan sains modern.
Ia menunjukkan bahwa argumen-argumen Imam Sanusi masih relevan untuk menjawab tantangan ateisme baru, yang sering mengklaim sains telah membuat Tuhan tidak lagi dibutuhkan.
Mungkin sudah waktunya kita bertanya ulang, apakah iman kita lahir dari pemahaman, atau hanya kebiasaan yang belum pernah diuji.
Penjelasan lengkap dalil-dalilnya, beserta jawabannya atas nalar ateisme baru, ada dalam Logika Keimanan karya Ahmad Ataka, PhD, syarah atas Ummul Barahin Imam Sanusi.