14/07/2026
Aku pernah berpikir, "Ah, cuma status Facebook. Paling besok juga orang lupa."
Hari itu aku benar-benar kesal sama atasanku. Rasanya semua emosi sudah numpuk. Tanpa berpikir panjang, aku menulis:
"Kerja di sini bikin muak, Capek baget punya Bos modelan kek gitu."
Beberapa menit kemudian, banyak teman yang memberi reaksi. Ada yang tertawa, ada yang ikut mengomentari. Aku malah merasa lega karena sudah meluapkan semuanya.
Tapi keesokan harinya, semuanya berubah.
Ternyata ada yang cepu ss statusku dan mengirimkannya ke kantor. Aku dipanggil HR. Mereka menunjukkan unggahan itu tepat di depan wajahku.
Saat itu aku hanya bisa diam.
Aku mencoba menjelaskan kalau aku sedang emosi dan menyesal. Aku bahkan sudah menghapus status itu malam sebelumnya. Sayangnya, semuanya sudah terlambat.
Beberapa hari kemudian, aku menerima surat pemutusan hubungan kerja.
Keluar dari kantor sambil menangis dan itu adalah salah satu momen yang paling berat dalam hidupku. Bukan karena kehilangan pekerjaan saja, tapi karena aku sadar semua itu berawal dari satu status yang kutulis hanya dalam beberapa detik.
Sejak saat itu aku belajar satu hal: saat emosi, diam jauh lebih baik daripada menulis apa pun di media sosial. Kata-kata bisa dihapus, tetapi jejak digital sering kali tetap ada.
Semoga tidak ada yang mengulang kesalahan yang sama seperti dalam cerita ini.