16/01/2026
"Kriiiet" bunyi pintu dapur yang berbahan aluminium berbunyi, rupanya si mamah, baru balik dari kebun. Biasa, ibu satu ini, kalau sudah pegang sapu atau gunting kebun, langsung bisa berjam-jam asyik berkebun.
Sambil muka tetap mengarah ke panci penggorengan aku sekejab melirik ke si mamah. Bawa apa dia? Pikirku. Ada segenggam benda coklat di tangannya. Seperti menggenggam bunga, tapi bukan.
"Akeh ki Rin, mendem ora yo?" - banyak nih, mabuk ngga ya? - katanya menunjuk barang di genggamannya.
"Apa sih mah? "
"Ini loh jamur"
Ooo, ternyata dia menggenggam jamur barat. Jamur Liar yang biasa tumbuh di musim hujan. Dulu, banyak sekali diketemukan di Pekarangan Rinati, tapi sekarang mulai jarang. Tapi begitu musim hujan sering bersembulan satu dua. Tapi ini sekali 5, tumben banget!
"Jamur Barat?, lha udah bolak balik makan kok, aman jaya sejahtera"
"Iya ya, tapi kok tetep serem kalo gak beli ya, padahal tumben banyak di pelataran yang deket mushola tuh"
Jamur memang lucu. Benda yang tadinya ditemukan liar, sekarang jadi barang budidaya. Plus jadi serem kalau makan yang liar, karena banyak cerita soal orang keracunan jamur liar.
Sampai saat ini, aku cuma berani makan jamur barat, dan jamur kuping yang tumbuh liar. Jamur lain, ngga berani, soalnya belum kenal banget, takutnya malah salah petik.
Musim hujan, saatnya berburu jamur barat, dia rasanya seperti jamur tiram, tapi lebih gurih dan kering. Paling enak dipanggang, diatas pan, tanpa minyak. Jadi kenyal gurih!
Pernah makan?