06/10/2025
Selama sembilan tahun, hidup Hendry berjalan di jalur yang aman dan terprediksi. Pagi hari diisi dengan deru lalu lintas, delapan jam dihabiskan di balik meja kubikel perusahaan, dan malam hari ditutup dengan sisa tenaga untuk keluarga. Rutinitas itu memberinya gaji yang stabil, tetapi perlahan merenggut percikan semangat di matanya. Di sela-sela kesibukannya, Hendry memiliki satu pelarian: dapur kecil di rumahnya. Di sanalah ia menyempurnakan resep bakpao, sebuah obsesi yang tumbuh dari kecintaannya pada jajanan masa kecil.
Setiap gigitan bakpao buatannya adalah pengingat akan mimpinya yang terpendam: membangun sesuatu yang benar-benar miliknya. Hingga suatu hari, setelah menatap layar komputer lebih lama dari menatap wajah anaknya, Hendry membuat keputusan paling berisiko dalam hidupnya. Ia mengajukan surat pengunduran diri.
Dengan tabungan yang menipis dan modal nekat sebesar Rp 500.000 di tangan, petualangan barunya dimulai. Nama "LegendBaozi" ia pilih, sebuah nama yang terdengar jauh lebih besar dari kenyataan usahanya yang hanya bermodalkan sebuah panci kukus tua di dapur rumah.
Uang Rp 500.000 itu habis dalam sekejap. Sebagian besar untuk membeli tepung, daging isian, dan gas. Sisanya hanya cukup untuk kemasan plastik bening paling murah dan stiker logo yang ia cetak sendiri dengan printer rumahan. Tidak ada biaya untuk pemasaran, tidak ada etalase, hanya promosi dari mulut ke mulut kepada para tetangga.
Awalnya adalah perjuangan sunyi. Setiap hari ia menguleni adonan, berharap ada yang memesan lebih dari lima buah. Ia memotret bakpaonya dengan kamera ponsel tua, hasilnya selalu tampak kusam dan tidak menarik. Puluhan unggahannya di media sosial hanya lewat begitu saja, tanpa meninggalkan jejak. Keraguan mulai menggerogoti tekadnya. "Apakah ini keputusan yang bodoh?" pikirnya setiap malam, saat melihat istri dan anaknya yang tertidur lelap.
Titik baliknya datang bukan dari sebuah keajaiban, melainkan dari titik terendahnya. Suatu malam, setelah seharian hanya berhasil menjual selusin bakpao, Hendry duduk kelelahan dan menulis. Bukan untuk promosi, melainkan sebuah curahan hati di akun media sosialnya.