10/05/2024
Part 2 : Mengenal "permen" Nusantara
~ Sirih Gading ~ 🌿
Ada kisah dalam perwayangan kuno, yang mengisahkan kedekatan hubungan Bathara Kresna dan Arjuna dari kecil hingga perang Baratayudha. Keagungan dua tokoh ini begitu menjadi favorit para penikmat kesenian wayang kulit, karena keduanya sarat akan ilmu dan suri tauladan yang baik.
Sampai² daun sirih dipakai untuk menggambarkan sifat keduanya. Sifat dan karakter Arjuna dan Kresna ibarat satu lembar daun sirih, bagian atas dan bawah, beda rupa satu rasa.
“Kresna lan Arjuna pancen ora bisa pisah, ibarat godhong suruh lumah klawan kurepe, Yen dinulu seje rupane, nanging yen ginigit dadi tunggal rasane“,
(Kresna dan Arjuna memang tidak bisa terpisah, seumpama permukaan daun sirih atas dan bawah, jika dilihat berbeda wujudnya, namun jika dikunyah akan menjadi satu rasa).
Bagi orang Jawa, daun sirih mempunyai peran penting tersendiri selain dipakai untuk menginang, daun sirih juga dijuluki "benang langit", karena sering dipakai media/sarana berdoa kepada sang khalik untuk menentukan hari baik, membantu persalinan ibu bayi, dan juga sarana menemukan jodoh, dll. Tentunya dengan ritual tertentu.
Salah satu kegiatan rutin saat bulan Maulud terdapat tradisi Sekaten di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Yaitu peringatan kelahiran Nabi Muhammad. Prosesi ini ditandai dengan dikeluarkannya gamelan sekaten ke ‘Pagongan’ Masjid Kauman Karaton Yogyakarta.
Sambil mendengarkan lantunan gamelan Sekaten para hadirin mempunyai tradisi menyirih dengan racikan tambahan bunga kantil. Mereka percaya bahwa tradisi ini menyebabkan panjang umur.
Lain di p**au Jawa,lain p**a kisah di p**au Sumatera, hingga papua. Banyak kisah dan budaya menginang masih dilestarikan hingga kini.
Bagaimana kisah di daerah kalian guys? 😉