23/09/2024
DIBUTUHKAN PEMIKIRAN TEKNIS HINGGA IDEOLOGIS
Berfikir teknis itu, mulai dari berfikir tentang tujuan [ghayah], cara [uslub], perencanaan [khutthah], media dan alat [wasilah], sampai berfikir serius [jiddiyyah] agar semuanya bisa diwujudkan. Semuanya ini bisa dikategorikan sebagai berfikir teknis. Karena semuanya ini termasuk masalah yang mubah. Berbeda dengan berfikir ideologis, baik yang terkait dengan akidah maupun hukum syara’.
Bagi seorang pengemban dakwah dan politikus ideologis, berfikir para tataran ideologis, yaitu akidah dan hukum syara’, tidak cukup. Karena dia mempunyai kewajiban untuk membumikan ideologinya di tengah-tengah umat. Karena itu, setelah dia mempunyai mindset yang benar, baik yang terkait dengan akidah, pemikiran dan hukum, dia juga harus mempunyai kemampuan berfikir tentang tujuan [ghayah], cara [uslub], perencanaan [khutthah], media dan alat [wasilah], sampai berfikir serius [jiddiyyah]. Karena pemikiran teknis yang terakhir ini merupakan jembatan yang bisa melandingkan pemikiran ideologisnya.
Kita mulai dari berfikir tentang tujuan [ghayah]. Tujuan itu harus tergambar [mushawwar], deskriptif [muhaddad], fisibel [mumkin al-wushul], dan tahu bagaimana mewujudkannya. Misalnya, ketika kita menghadapi pandemi, maka berdasarkan informasi dari ahli medis, kita bisa mengetahui proses penyebaran virus, keganasan virus, dan bagaimana menghadapinya? Informasi ini penting untuk merumuskan tujuan, yaitu menghentikan, menyembuhkan dan mengendalikan virus sehingga tidak menganggu kehidupan ekonomi, politik, sosial, kesehatan, dan ketahanan.
Nah, di sini, dibutuhkan berfikir tentang teknik [uslub] dan perencanaan [khutthah]. Maka, dibuatkan rencana A, B, C, D dan seterusnya. Masing-masing disesuaikan dengan fakta dan konteks di lapangan, yang tidak boleh sama. Misalnya, apakah pendekatan Herd Imunity [kekebalan kelompok] saja, bisa dipakai? Atau dibutuhkan pendekatan, Social Distancing [menjaga jarak sosial], atau Physical Distancing [menjaga jarak fisik], atau Stay at Home [tinggal di rumah], karantina hingga Lockdown. Semuanya ini masuk dalam ketegori teknik [uslub] dan perencanaan [khutthah].
Tidak sampai di situ, dibutuhkan berfikir tentang sarana dan alat [wasilah], yang tepat dan benar. Misalnya, apakah Hand Sanitizer [alat pencuci tangan yang terbuat dari alkohol] itu tepat, atau justru merusak kulit? Apakah Disinfektan itu tepat digunakan kepada manusia, ataukah justruk merusak paru-paru, dan bisa menyebabkan masalah baru? Ini semua harus dikaji, sebagai alat, yang paling efektif digunakan untuk menghadapi masalah pandemi.
Setelah semuanya itu, maka point terakhir adalah berfikir serius untuk merealisasikan rencana aksi di atas. Jika rencana A gagal, tidak boleh berhenti. Maka, rencana B bisa dieksekusi. Jika rencana B gagal, maka tidak boleh berhenti. Saat itu, recana C, D, dan seterusnya bisa dieksekusi. Begitu seterusnya. Sampai akhirnya, krisis ini benar-benar bisa dihadapi dan diselesaikan dengan cepat, tepat dan berhasil.
Di sinilah, para pengemban dakwah dan politikus ideologis itu dipersiapkan, dan harus terus melatih dirinya agar layak memimpin umat. Mewujudkan perubahan hakiki, dari sistem Kapitalisme yang terbukti merusak dan menyengsarakan umat ini menuju sistem Islam, yang diturunkan oleh Allah, dan terbukti berhasil membangun dan mewujudkan peradaban emas selama 14 abad di muka bumi.